Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Perlawanan untuk dingin


__ADS_3

Pagi ini aku sudah bersiap, pukul 06.20 waktu yang pas untuk menjemput Nadia. Malam tadi tidak begitu panjang, karena aku langsung pulang kerumah, tidak seperti Riko yang mampir dulu ke basecamp BZ.


Roda berputar cepat, memakan jarak yang sedang aku tempuh. Tidak tau sebanyak apa rindu yang aku bawa untuk menemui Nadia kali ini. Kupacu motor semakin cepat, semakin habis jarak antara aku dan Nadia, hingga tanpa terasa aku sudah ada didepan rumah Nadia. Lekas aku masuk untuk menumpahkan semua rindu yang sudah dia titipkan padaku.


"assalamualaikum" seruku sembari mengetuk pintu rumah Nadia. Tak lama terdengar tanda-tanda kehidupan dirumah itu.


"iya waalaikumsalam" suara Nadia yang sangat khas terdengar dari balik pintu. Pintupun terbuka, menampilkan sosok wanita cantik berkacamata dan memakai seragam sekolah.


"kak Anzar?!" katanya


"iya, pacarmu" godaku sembari mencolek dagu Nadia, membuat pipinya langsung memerah.


"ihh gombal mulu" Nadia mulai menyembunyikan senyumnya, tapi pipinya jelas bersemu menahan senyum yang tertahan. "ayo masuk!" katanya sembari menarik tanganku untuk masuk kerumahnya. Kemudian aku duduk disofa ruang tamu.


"tumben pake kacamata?"


"tadi lagi baca buku"


"rajin" aku mencubit hidung kecil Nadia, kemudian dia mengerucutkan bibirnya hingga terlihat sangat manis.


"Nadia mau kemar dulu, bentar yah!" aku mengangguk mengiyakan perkataan Nadia. Nadia pergi masuk ke kamarnya, tak lama dia kembali dengan tas yang sudah digendong olehnya.


"ibu kamu?" tanyaku, sembari bangkit berdiri.


"udah berangkat, katanya ada urusan penting"


"ohh gak ada?" tanyaku dengan pikiran yang sudah berpetualang jauh. wajar kannnnn?


"iya" jawab Nadia polos.


"yaudah disini aja deh mumpung gak ada siapa-siapa" godaku dengan ekspresi ambigu yang telak membuat senyum Nadia mengembang.

__ADS_1


"enak aja!" jawabnya cepat.


"emang enak" kataku dengan dengan ekspresi mesum yang sangat cocok dengan diri ini.


"ihh ka Anzar!" balas Nadia dengan mata melotot. "ayo berangkat! udah siang!" katanya dengan wajah yang sangat imut.


"yahh, serius gak mau disini aja?" tanyaku sembari mencolek dagu Nadia.


"ihh tau ah, mesum mulu!" rajuknya membalikan badan membelakangiku. Kemudian aku mendekatkan mulutku ketelinga Nadia.


"yang cium duluan siapa?" bisikku. Aku membalikan badan Nadia. Kali ini aku dan Nadia berhadapan, kemudian mendekatkan wajahku pada Nadia hingga hampir tidak ada jarak diantara kita. Nadia memejamkan matanya dengan kuat, ditambah dengan pipinya yang semakin memerah. Kemudian dengan pelan aku menjauhkan wajahku perlahan, melihat Nadia yang masih memejamkan matanya. Lucu, sangat lucu.


"mau berangkat sekolah gak?" kataku yang sudah berada didepan pintu. Membuat Nadia membuka matanya. "lu kira gue mau cium lu yah?" lanjut godaku dengan senyum jail yang aku tampilkan. Itu cukup membuat Nadia salah tingkah dengan pipi yang terus memerah.


"tau ahh!" rajuknya sembari keluar dari rumah, kemudian dia mengenakan sepatunya sembari terus memalingkan wajahnya dari pandanganku.


"sayang" panggilku, cukup membuat dia mematung tanpa menoleh, tanpa bersuara. "kamu marah?" lanjutku bertanya. Kemudian dia menoleh, menampilkan wajah imut yang sangat aku sukai.


"marah kenapa?"


"ihhh kak Anzar!" katanya dengan mata melotot dan tangan yang mencubit perutku dengan keras.


"awww! sakit!" rintihku.


"makanya, jangan mesum mulu!" omelnya sembari menutup pintu dari luar dan menguncinya. "ayo!" lanjutnya dengan senyum yang manis.


"iyaa!" jawabku kesal sembari berjalan menuju motorku.


"ihhh jangan marahh" goda Nadia dengan senyum manis yang terus dia tampilkan. Aku menaiki motorku dengan gagah yang sudah udah didalam jiwa ini.


"bentar mau ngunci gerbang dulu!" Aku menunggunya diatas motorku, melihatnya mengunci gerbang rumahnya kemudian dia naik ke motorku.

__ADS_1


"Nadia siap!" katanya, aku tidak membalas ucapannya. Kemudian motor berjalan pelan. "kak Anzar marah?" tanyanya lagi.


"iyaa, gak dipeluk si" Nadia segera melingkarkan tangannya ditubuhku, cukup membuat senyumku tercetak dengan sempurna.


"gak marah lagi kan?" tanya Nadia dengan polosnya.


"engga sayang" jawabku lembut.


Aku melajukan motorku dengan pelan, menikmati setiap waktu yang terus berjalan tanpa henti. Embun pagi kala itu seakan menjadi penantang tangguh untuk dilawan dengan pelukan hangat yang Nadia berikan padaku.


"kak Anzar" panggil Nadia lembut.


"hmm"


"kak Anzar tumben bangun pagi?"


"kan kamu pengen dijemput"


"hmm kak Anzar janji kan"


"janji apa?"


"gak akan pernah ninggalin Nadia"


"Nadia yang mana?"


"pacar kak Anzar"


"ohh yang ini?"


"ihhh kak Anzarrr"

__ADS_1


"iya sayang"


Pelukan Nadia semakin erat, mengahangatkan tubuh yang sedang kedinginan diserang oleh embun pagi. Kepalanya bergerak manja ditubuhku, tak peduli dengan semua yang ada disekitar. Hanya tau dingin harus dilawan dengan pelukan.


__ADS_2