
Aku memberhentikan motorku dikedai kopi. Tidak mewah, tapi menyuguhkan pemandangan alam yang indah.
"ayo turun!" kataku pada Nadia yang sedang bengong.
"katanya mau ke saturnus" sautnya asal, sembari turun dari motorku.
"saturnusnya lagi tutup" sautku meladeni kegilaan Nadia.
"yahhh" katanya seperti orang kecewa.
"ayo" kataku berjalan, sembari menarik tangan Nadia untuk mengikutiku.
Aku memilih tempat yang berada diluar, mengahap pemandangan alam asri tanah Indonesia. Negeriku, yang ingin kuubah hingga tak ada lagi pertikaian, hingga tidak ada lagi huru-huru disetiap sudut Nusantara.
Seringkali, aku bermimpi untuk bisa mengubah negeri ini, pesat, melaju cepat dalam segala bidang, melahirkan banyak prestasi atau menjadikan negara ini sebagai negara adidaya. ahh tapi itu hanyalah khayalan seorang bajingan.
Kembali pada Nadia, ia sudah duduk berhadapan denganku. Nadia seperti terpana dengan keindahan yang disajikan oleh alam.
"kak Anzar sering kesini?" tanya Nadia.
"iya, kalo lagi pengen aja si" jawabku santai.
"sama siapa?" sama kiky jawab batinku.
"sama Riko" jawabku memang benar adanya.
"silakan, ini menunya kak" potong karyawan wanita yang bekerja dikedai ini.
"ohh iya mbak" kemudian aku memesan kopi hitam americano lengkap bersama biskuitnya, berbeda dengan Nadia yang memesan jus mangga. Ya, meskipun namanya kedai kopi, tapi kedai ini menyediakan macam-macam minuman, bukan hanya kopi.
Aku mengambil ponsel dari saku celanaku, berniat untuk menghubungi Riko.
Chatting ;
"*Rik dimana lu?"
"rumah, napa?"
"sini ke kedai kopi biasa, gue mau ngomong penting sama elu"
"bayarin"
"kaya yang pernah bayar sendiri aja lu"
"berangkat bos*"
Riko adalah teman yang gesit, kapan pun dia dipanggil, dia akan datang, yang penting jajannya dibayarin.
Belum semenit aku menaruh ponselku diatas meja, tiba-tiba ponsel ini kembali berbunyi, ada dua pesan baru dari nomor yang tidak dikenal, segera aku membukanya.
*Chatting :
__ADS_1
"Zar, sore nanti gue tungguin dirumah Nadia"
"save nomor gue, Gibran*"
Gibran? darimana dia mendapatkan nomorku? Oh iya, mungkin dia meminta dari dari adiknya.
"iya"
Aku meletakan ponsel diatas meja, melihat Nadia yang sedang menatapku dengan tajam.
"apa?" tanyaku yang bingung dengan tatapan Nadia.
"enggak" jawabnya singkat. Aku memutar bola mata malas meladeni Nadia yang belum jauh aku kenal. Seketika hening menyelimuti.
"Riko mau kesini, gak apa-apa kan?" tanyaku memecah suasana hening.
"iya gak apa-apa" jawabnya pasrah.
"senyum dong" Nadia malah mengerucutkan bibirnya, membuat wajahnya terlihat sangat menggemaskan. "malah cemberut" gerutuku.
"biarin" jawabnya singkat, membuat senyumku mengembang. ni anak kenapa si? tanya batinku pada diri sendiri.
"kenapa?" tanyaku yang sudah bingung.
"kirain kak Anzar mau ngajakin Nadia kencan, eh... malah ngajak kak Riko" jawabnya dengan nada yang menggambarkan kekecewaannya, membuat senyumku kembali tercetak akibat kejujurannya itu.
"oh... jadi pengen berduaan aja, gitu?" kataku dengan tatapan menggoda Nadia. Nadia tetap teguh dengan wajah cemberutnya itu. "aku ada urusan sama Riko. Kalo mau berduaan, nanti, nunggu rumah kamu gak ada siapa-siapa" godaku kembali, membuat senyum Nadia tercetak sempurna, sangat manis.
"AW! sakit ih" rintihku.
"makanya, otaknya jangan mesum mulu!" omelnya padaku. Aku hanya diam menatap Nadia tajam.
"permisi. Ini pesanannya, mau pesan yang lain lagi?" kata karyawan wanita yang terlihat sexy nan cantik ini, dengan tubuh molek, kulit putih dan rambut diikat satu.
"kalo kenalan boleh gak?" rayuku pada karyawan yang cantik ini.
"KAK ANZAR!" potong Nadia dengan suara seperti teriak yang tertahan, dan tatapan tajam yang ia tujukan padaku. Aku rasa kali ini dia benar-benar marah, membuatku salah tingkah dan tersenyum bodoh.
"nggak jadi mbak, ini aja" anjirrr, malu gue cuy batinku. Karyawan itu lekas pergi meninggalkan aku dan Nadia.
"kak Anzar udah punya Nadia" kata Nadia dengan suara lembutnya. "awas aja kalo gitu lagi!" lanjutnya mengancam.
"mau apa?" tanyaku dengan ekspresi datar.
"ya pokoknya jangan gitu lagi!" rengeknya. Membuatku tidak mungkin untuk menolak setiap permintaannya.
"iya enggak" jawabku singkat dengan segala kelembutan yang aku miliki.
"janji?" Nadia mengangkat jari kelingkingnya seperti melambangkan segel untuk janji itu.
"aku berjanji" kataku mendrama, sembari mengaitkan jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya Nadia.
__ADS_1
"wahhh kayak bocah aja lu pada!" seru Riko yang baru datang. Terlalu cepat dia datang, mengganggu momen yang tercipta, bisa saja setelah ini ada adegan ciuman. Ah... Riko penggagal.
"sirik aja ih!" jawab Nadia membalas ejekan Riko. Riko kemudian duduk dikursi sebelahku.
"Hei! mau pesen!" kata Riko pada karyawan kedai dengan gaya tengilnya. Kemudian karyawan yang tadi aku rayu datang menghampirinya, lau memberikan buku menu pada Riko.
"kok aku baru liat kamu, baru yah?" rayu Riko pada karyawan itu. Ya, memang dia karyawan yang baru, maka dari itu aku mengajaknya berkenalan.
"iya, hari pertama kerja" jawab karyawan itu ramah.
"pantesan. Kenalin, Riko" kata Riko menjulurkan tangannya. Aku dan Nadia terpaku, menyaksikan tajamnya seorang Riko
"Lina" jawab karyawan itu ramah, bersalaman dengan Riko.
"aku pesen cappucchino, jangan dicampur yang lain, sama biskuitnya lagi yah, sayang" kata Riko masih memegang tangan Lina. Senyum Lina mengembang membuat pipinya bersemu. **** si Riko* gerutu batinku.
"i..ya" jawab Lina tegang, kemudian melepaskan tangan Riko dan segera melangkah menjauh.
"montoknya..." gumam Riko tidak mengalihkan pandangannya dari tubuh moleknya Lina.
"ihh kak Riko mesum! sama kaya kak Anzar!" seru Nadia heboh.
Aku hanya bengong melihat tingkah Nadia. kok gue lagi yang disalahin? gerutu batinku.
"gila lu Zar! si Nadia diajarin apa sama elu?" tanya Riko seperti orang terkejut, tak kalah heboh oleh Nadia.
Aku terus terdiam dengan segala kebingungan yang sedang merajai pikiranku. lah kok gue lagi yang disalahin? gerutu batinku lagi.
"enak aja lu nyalahin gue! lu gatau Nadia si, dia itu iblis kecil yang pemberani! berani-beraninya dia buat gue rindu sama dia!" kataku tanpa direncanakan sebelumnya.
"anjing! lebay lu, parah! ha ha ha" sautnya heboh.
"yang jomblo mana bisa ngerasain gimana rasanya rindu" kataku mengejek Riko.
"dasar jomblo" sambung Nadia.
"tunggu-tunggu. Emang lu berdua udah pacaran gitu?" tanya Riko yang belum tau apa-apa. Aku hanya menjawab dengan tingkah tengil sembari merapikan baju hingga terkesan sombong. "anjing! gue baru ngasih tau, kalo Gibran itu kakaknya Nadia" lanjutnya.
"pas udah nanya ke kak Riko, aku langsung ke rumah kak Anzar" jelas Nadia. Riko hanya mengangguk-nganggukan kepalanya pertanda dia mengerti.
"Zar, lu udah janji bakal nemenin kejombloan gue" kata Riko dengan wajah memelas.
"Najis! gue gak pernah ngomong gitu!" sautku cepat.
"ingkar janji lu!" balas Riko.
"bisik lu, gak gue bayarin mau?" ancamku.
"enggak Zar, damai deh damai" sautnya seperti penjilat, penjilat yang blak-blakan, tanpa kemunafikan.
"ya udah, diem lu!" gertakku.
__ADS_1
"siap bos"