
Sore sedang berjalan menuju malam. Aku keluar dari rumah Nadia dengan senyum tertahan. mendapati Riko dan Gibran yang sedang berbincang.
"Ayolah!" lekas aku menaiki motorku diikuti oleh Gibran dan Riko menaiki motornya sendiri. Oh yah motor Riko apa? KLX warna hitam, oke kalian sudah tahu.
"ikutin gue ya!" kata Gibran sembari langsung menjalankan motornya. Aku dan Riko tidak menjawab, melainkan langsung menjalankan motor mengikuti Gibran.
Motor berjalan menyusuri jalan raya yang tidak ramai. Aku memacu motor dengan kecepatan sedang, mengikuti Gibran yang ada didepanku. Perasaanku mulai canggung, ini pertama kali aku bergabung dengan geng lain selain PM, itu pun karena aku yang mendirikan PM.
Gibran mulai memelankan laju motornya, tak lama dia berhenti didepan rumah yang cukup besar, pagarnya pun cukup tinggi. Dihalaman rumah itu sudah banyak motor terparkir.
"bentar" kata Gibran sembari turun dari motornya, kemudian dia memencet bel rumah itu. Aku dan Riko hanya diam melihat apa yang dilakukan oleh Gibran.
Kemudian ada satu orang pria bertubuh tinggi kurus keluar dari dalam rumah.
"buka aja Bran, gak dikunci!" seru orang itu.
"bilang dari tadi!" jawab Gibran kesal.
"ha ha ha elu aja gak ngeliat" jawab orang itu seperti sudah akrab dengan Gibran. Gibran tidak menjawab lagi, kemudian dia membuka gerbang rumah itu.
"masukin motornya" kata Gibran. Aku dan Riko lekas mamarkir motor dihalaman rumah yang aku duga tempat berkumpulnya BZ, kemudian Gibran menyusul memarkirkan motornya disamping motorku.
"bawa siapa Bran?" tanya pria tinggi kurus tadi, mendekati kita bertiga.
"Anzar" jawab Gibran menunjukku "Riko" lanjutnya juga menunjuk Riko.
"oh yang ini Bran?" tanya pria itu lagi.
"iya" jawab Gibran sembari turun dari motornya. Aku dan Riko juga melakukan hal yang sama.
"kenalin, gue Febri" sapa pria tadi menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Anzar" jawabku tegas bersalaman dengan Febri.
"Riko" kata Riko bersalaman dengan Febri setelah aku.
"ayo masuk" ajak Gibran sembari berjalan masuk ke rumah.
Didalam rumah itu banyak sekali orang, semuanya laki-laki. Aku bersalaman dengan semua yang ada disana, menandakan hormat satu golongan dan untuk sebuah ikatan sebagai saudara.
Aku merasa sedikit cangung dengan orang-orang baru yang ada disekitarku ini. Tidak banyak bicara, aku hanya diam, duduk di lantai melihat mereka mengobrol. malam sudah datang, diluar pun sudah gelap.
"Zar, gue mau nanti lu sama Riko dibelakang dulu" kata Gibran berbicara padaku.
"berdua doang?" jawabku tidak mengerti dengan rencana Gibran.
"Gila lu Bran!" saut Riko yang ada disampingku.
"Gue mau lu berdua jadi kejutan" jawab Gibran serius "Gue bakal ngintruksiin BZ buat nyerang dengan satu barisan. Di waktu yang sudah ditentukan, barisan itu akan terbagi dua, menyisakan ruang kosong ditengah. Itu adalah waktu buat lu berdua" Aku tidak menduganya, strategi yang sangat cerdik. Menjadikan aku dan Riko sebagai senjata rahasia. Aku hanya diam membayangkan apa yang akan terjadi. Ini akan menjadi pertempuran yang sangat besar.
"ayolah sekarang" Seru Gibran pada semua anggota BZ yang ada.
"ayo-ayo!" sambung Febri.
Semua mulai bubar dari diamnya. Mengikuti Riko keluar dari rumah ini. Kita mulai menjalankan motor, mengikuti Gibran yang berada paling depan. Sampai akhirnya Gibran mengarahkan kita untuk berhenti di sebuah masjid dan mengarahkan kita untuk memarkirkan motor dihalaman masjid itu.
Kita sudah berada dekat di area tongkrongan anak-anak PM. Hari yang gelap seperti menjadi wadah untuk terjadinya pertempuran. Kita mulai turun dari motor dan berjalan ke arah dimana PM berada. Senjata-senjata favorit mulai dikeluarkan, aku melihatnya, tidak ada senjata tajam. Aku melihat mereka membawa stik golf, rantai, kopel, bahkan ada yang membawa kunci inggris. Aku sangat tegang kali ini, ada juga sebagian yang tidak membawa apa-apa.
__ADS_1
"Zar, tetap dalam strategi yang tadi" kata Gibran padaku. Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Gibran. Kemudian aku diam melihat rombongan anak-anak muda yang akan memulai adu jotos.
"Kita dibelakang Rik" kataku pada Riko, yang langsung menghentikan langkahnya.
"gue tegang" ucap Riko.
"ada gue" kataku menenangkan dia.
"lu bisa apa?" tanyanya meledek.
"anjing lu" kataku dengan nada santai.
"ha ha ha" tawa Riko memecahkan ketegangan.
Aku mulai berjalan, agak jauh dari barisan BZ. Aku melihat barisan itu mulai berlari, kemudian terdengar teriakan-teriakan.
"BZ DATANGGG!"
"MAJU SEMUA ANJING!"
Jantungku mulai berdetak sangat kencang, aku kira aku merasakan ketakutan, kaget dengan apa yang terjadi didepanku.
"Kita deketin Rik" Riko hanya mengangguk dan mulai berjalan mendekati kerusuhan yang dibuat oleh anak muda. "siapin kopel!" lanjutku.
"gue siapin" jawabnya sembari melepas kopel dari pinggangnya. "elu Zar?" tanya Riko.
"gue tangan kosong" jawabku tanpa menoleh pada Riko. Riko diam tidak berbicara lagi.
Barisan BZ mulai terbagi dua, memberi ruang untuk aku dan Riko masuk kedalamnya.
"sekarang Rik!" seruku sembari langsung berlari masuk ke area pertempuran.
Aku berlari, seiring rasa takut berubah menjadi benci. Aku ingin menghancurkan mereka yang sudah berani mengganggu kehidupanku.
"MAKAN ANJING!" teriakku sembari melompat.
buaghh
satu tendangan keras menghantam satu orang anak PM. Aku semakin bersemangat, emosi memburu semua musuh yang ada didepan mata. Aku masuk ke barisan PM dengan cepat.
buaghh
buaghh
buaghh
pukulanku membidik anak PM yang membawa stik baseball hingga dia jatuh tersungkur. Kemudian aku membawa stik baseball itu dan menyenderkannya dipundakku.
"MAKAN ANJING!"
buagh
buagh
Satu lagi anak PM terkena hantaman stik yang aku bawa. Aku semakin mengganas hingga tidak bisa melihat dimana barisan BZ. Aku tidak peduli, lagi pula aku adalah petarung solo.
"Zar, mundur dikit!" teriakan itu membuatku menoleh. Terlihat Riko yang sedang sibuk menghantam-hantamkan kopelnya. Aku tidak menggubrisnya, semakin dalam aku masuk ke barisan PM, melayang-layangkan stik baseball hingga barisan PM terpecah. Aku mencari Raka.
__ADS_1
"ANJING!" teriak Riko kembali, mulai mendekatiku.
"dibelakang gue!" Riko menempatkan dirinya dibelakangku melindungiku dari serangan mendadak.
PM tedesak, koloni BZ terus maju menyudutkan PM. Terlebih barisan PM sudah terprcah oleh perbuatanku. Amarahku terus tumbuh, lebih besar dan lebih ganas.
Aku terus melayang-layangkan stik baseball yang aku bawa, kesetiap arah dimana lawan berada. Hingga aku melihat Raka, amarahku semakin memuncak. Lekas aku berlari mendekati Raka diikuti oleh Riko yang terus melindungiku.
"ANJING!" teriakku sembari melemparkan stik baseball kearah Raka.
buaghh
Kepala Raka terpental terkena lemparanku.
"Rik, pinjem kopel!" Riko melemparkan kopelnya padaku. Aku menangkapnya, kemudian aku menghantamkan kopel itu.
buaghh
Hantaman keras mengenai punggung Raka hingga dia meringis kesakitan. Tapi kuatnya dia tidak tumbang meskipun sudah terkena hantaman yang keras. Aku membuang kopel yang aku pinjam pada Riko, kemudian dengan cepat mendekati Raka.
"ANZAR DATANG!" teriakku.
buaghh
buaghh
telak pukulanku mengenai wajah Raka hingga dahinya mengeluarkan darah. Raka memegang wajahnya hingga ditangannya banyak sekali darah. Amarahku belum juga reda.
buaghh
satu tendanganku menggulingkan tubuh Raka.
"ini Anzar!" teriakku.
buaghh
buaghh
Hantaman ketiga ditahan oleh Riko.
"udah anjing!" omelnya.
"gue matiin aja!" sautku masih dengan amarah yang kuat.
"jangan gila lu!" bentak Riko.
buaghh
tendanganku menghantam orang dibelakan Riko yang hampir memukulnya dengan stil golf.
"jangan meleng bego!" omelku.
Pertempuran terus berlangsung, Raka sudah diseret kebelakang oleh teman-temannya. Amarahku mulai reda. PM mundur lari terbirit-birit menjauh dari barisan BZ. Tidak ada warga yang ikut campur kala itu. Semunya diam menyaksikan, mungkin karena mereka takut.
"mundurrr!" seru Gibran. BZ mulai bubar, tidak mengejar. Ternyata Gibran cukup cerdik dalam menggerakan koloninya, karena sebentar lagi aku yakin polisi akan datang.
Semua anak BZ sudah menaiki motornya masing, cukup banyak dari mereka yang mengalami luka dan lebam. Kemudian sirine mobil polisi mulai terdengar.
__ADS_1
"mencar!" teriak Gibran mengintruksikan anak-anak BZ. Semua menjalankan motornya, seperti barisan yang bubar kesetiap arah. Aku segera menjalankan motor dengan cepat. Tidak tahu tujuanku kemana, yang penting lolos dulu dari polisi.