Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Wanita yang malang


__ADS_3

"Nad, sampe sini aja yah" kataku, memberhentikan motor didepan gerbang sekolah.


"kak Anzar mau kemana?" tanyanya masih belum turun dari motorku.


"mau jemput wali, pas sabtu disuruh bawa"


"emang kenapa?"


"udah cepet, upacara keburu mulai loh"


"ya udah deh" Nadia sembari turun dari motorku.


"senyum dong" Nadia lekas menampilkan senyum manisnya padaku "cantik" lanjutku menggodanya.


"Nadia masuk yah"


"iya"


"kak Anzar hati-hati"


"iya sayang"


"dahh" pamit Nadia melambaikan tangannya, kemudian masuk ke kesekolah berjalan bersama kerumunan siswa-siswa yang baru datang.


Setelah kepergian Nadia, aku melajukan motorku menuju rumah teh ineu. Motor melaju cepat sambil sesekali terhambat oleh ramainya pengendara lain. Aku tidak begitu tahu pasti dimana letak rumah teh ineu, aku hanya tau nama tempatnya saja. Sesampainya aku di suatu daerah yang dikatakan oleh teh ineu dipesannya tadi malam, aku memutuskan untuk bertanya pada warga disana, hingga akhirnya aku bisa sampai tepat dirumah teh ineu.


"assalamualaikum" seruku, sembari mengetuk pintu yang aku sangka sebagai rumah teh ineu.


"waalaikumsalam" suara dibarengi dengan pintu terbuka. "ehh beneran dateng nih" seorang perempuan cantik berumur 22 tahun yang tak lain adalah teh ineu. Sialnya dia janda, jika saja aku mengenalnya lebih awal. Mungkin dia belum menikah dan malah menungguku. Malangnya dia ditinggalkan oleh suaminya dulu yang katanya seorang pria hidung belang yang sudah punya istri sebelum dia.

__ADS_1


"iya lah, kan ini udah disini"


"ha ha yuk masuk dulu" Aku masuk kedalam rumahnya yang sederhana, kemudian aku duduk disofa ruang tamu.


"kopi yah sayang"


"gue belum nawarin ih"


"biar cepet ha ha ha"


"dasar lu"


"ganteng yah?"


"ha ha ha" Teh ineu kemudian berjalan ke dapurnya untuk menyiapkan kopi yang aku minta tadi.


"teh! boleh ngerokok gak?" teriakku.


"teteh mau ganti baju dulu yah" katanya sebelum pergi untuk mengganti baju.


"iya teh, dandan yang cantik"


"kan udah cantik"


"lebih cantik lagi"


"siap bang Anzar ha ha ha" setelah mengtakan itu, dia pergi kekamarnya untuk mempersiapkan dirinya menjadi waliku. Aku terdiam di duduku, menunggu teh ineu mempersiapkan dirinya sembari menikmati kopi hangat dan setiap hisapan asap nikotin.


"siappp" seru teh ineu yang sudah ada dihadapanku. Aku hanya bisa takjub melihat cantiknya. Sexy, itu pun ada padanya. Dengan memakai gaun kuning bermotif bunga mawar dia terlihat sangat sempurna ditambah dengan senyum manisnya. "gimana, cantik gak?" tanyanya membuyarkan bengongku.

__ADS_1


"sexy teh" jawabku nyengir kuda.


"dasar omes yah lu!" seru teh ineu melemparkan bantal yang ada diatas sofa padaku.


"ha ha ha kan emang iya ih"


"iya lah terserah lu aja" katanya melipatkan tangan didepan dadanya.


"hayu lah, berangkat" Lekas kita pun keluar dari rumah teh ineu. Aku melihat dia mengunci pintu rumahnya, kemudian dia datang padaku yang sedang berdiri menyender dimotorku.


"apa liat-liat?"


"engga, jarang aja liat cewek secantik ini"


"gombal lu" senyum malunya terpancar sembari memukulku pelan dengan akrabnya.


"ayolah!" aku menaiki motorku.


"ini gimana duduknya?" tanyanya yang bingung karena dia bukan memakai celana.


"ya terserah"


"ah ribet kan!" gerutunya sembari menaiki motor seperti orang pada umumnya. "jangan ngebut, nanti rok gue terbang!" omelnya.


"aduhh serem banget!"


"tau lu ah omes mulu!"


"lahh siapa yang mulai?"

__ADS_1


"udahlah, ayo jalan cepet"


"siap berangkat"


__ADS_2