Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Undangan Gibran


__ADS_3

esok harinya aku terbangun dengan lunglai menghampiri kamar mandi yang seringkali menjadi neraka bagiku, tidak ingin berlama-lama kedinginan aku segera membereskan mandi yang sangat menyebalkan ini, memakai baju seragam dengan tidak rapi dan datang ke meja makan untuk memuaskan rasa lapar.


"denger-denger ada yang bawa cewe ke rumah" kata ayahku membuka suara.


"siapa pah? baru denger aku" aku melanjutkan makan dengan sangat lahap, memerangi rasa lapar yang sedang menjadi-menjadi.


"dasar kamu" senyumku mengembang sembari terus melahap makanan yang ada di depanku, kali ini aku sangat lapar.


"tumben udah bangun pah?"


"papah kamu ada perlu kerja ke singapur" jawab ibuku memotong percakapan.


"ohhh, bawain mama baru yah pah" sontak ibuku langsung menjewer telinga ini.


"ah..ah sakit ma" rintihku kesakitan. "becanda ma becanda" lanjutku memelas meminta belas kasihan ibuku, sementara itu ayahku hanya menyaksikan sembari mentertawakanku.


"udah mahh, kasian" bela ayahku yang sangat baik meskipun aku sering mencuri rokoknya.


"papah lagi, mau nurutin anaknya?" ibuku melepaskan jeweran yang sangat menyakitkan itu, melihat ayahku dengan ekspresi marah, ah aku tau ibuku bukan marah, hanya saja dia manja jika sedang berada di dekat ayahku, dasar ibu-ibu.


"enggak mahh" jawab ayahku dengan seluruh kesabaran yang dia miliki.


"Anzar berangkat ma, pah assalamualaikum" kataku menghindari pertengkaran yang seringkali berujung dengan adegan romantis yang membuatku mual, aku mencium punggung tangan ayah dan ibuku dan segera bergegas untuk berangkat sekolah.


"waalaikumsalam, hati-hati" jawab ibuku dengan nada yang masih marah.


"Minta rokok pah" teriaku mengambil satu bungkus rokok sampoerna mild yang tergeletak di meja ruang tamu.


"ngeroko mulu kerjaan kamu" teriak ibuku seperti ingin memarahiku.


.......


kali ini aku sudah berada di warung pak deni bersama kopi dan asap rokok yang sudah menemaniku sedari tadi.


"heh bangsat" suara Riko yang selalu mengejutkanku. "ngopi aja lu" lanjutnya.

__ADS_1


"sama bapak itu yang sopan" jawabku santai sembari terus menikmati hisapan asap nikotin bersama cita rasa manis dari filternya.


"ohh iya pak, maafkan anakmu ini" jawab Riko mengambil lengan kananku dan mencium punggung tanganku. "pengen rokok dong pak" lanjut Riko.


"anak haram emang" jawabku sembari mengeluarkan bungkus rokok dari saku celanaku.


"ha ha ha anjing lu" kata Riko mengambil bungkus rokok yang aku pegang.


"gak masuk lu?" Riko menyalakan rokoknya, membuat pusaran asap yang terkumpul di mulutnya.


"males anjing, gue tadi di omelin sama pak Dito" jawab Riko dengan ekspresi kesalnya.


"kenapa lu?" Riko kembali menghisap asap rokok dengan gaya tengilnya.


"gara-gara gue gak sengaja megang bokong Reni" aku menyemburkan asap rokok bersama dengan tawa yang membuatku batuk.


"anjing lu mah sengaja pasti" jawabku heboh seperti ibu-ibu liat diskon 50 persen di mall.


"sumpah gue gak sengaja, tapi empuk juga sih, jadi pengen lagi ha ha ha" aku tertawa terbahak-bahak mendengar cerita si bangsat Riko ini.


"anjing emang lu, parahhh" kataku sembari terus tertawa.


"ohh itu bocah yang gue patahin kacamatanya" Riko terlihat belum puas dengan jawabanku, dia melihatku seperti menyelidiki sesuatu.


"anjing lu Zar, itu pacar elu kan?" ada apa dengan bocah satu ini? dia tampak terlihat aneh dan susana hatinya seperti sedang tidak baik.


"emang kenapa bangsat? lu cemburu? ha ha ha"


"Najisss"


"lu kenapa si Rik?"


"lu jangan keasikan sama cewek baru lu, sampe-sampe lu lupa sama gue" jawab Riko yang terbilang tengil tapi kali ini dia sangat aneh.


"lebay lu, kaya cewek aja ha ha ha" aku mengerti, mungkin dia hanya ingin memperlihatkan seberapa kuatnya persahabatan yang kita jalin sembari berharap agar tidak bisa di hancurkan oleh siapapun dan apapun itu.

__ADS_1


"anjing emang lu" jawab Riko ketus.


sedetik setelah itu, aku bisa mendengar iringin suara knalpot motor yang bising berhenti tepat di depan warung pak Deni. Selanjutnya suara langkah kaki mulai mendekat masuk mendekati keberadaanku.


"lu Anzar kan?" tanya pria bertubuh atletis berkulit putih dan rambut acak-acakan serta mengenakan seragam sekolah yang pasti bukan dengan logo sekolahku, berdiri di depanku bersama dengan 5 orang pria yang berseragam sama. "kenalin gue Gibran" lanjutnya menyodorkan tangan bermaksud mengajakku bersalaman.


Riko lekas berdiri mendahuluiku bersalaman dengan gibran "Riko Alfian Putra, ada perlu apa kesini?" kata Riko menunjukan keberaniannya.


"ohh yah? kebetulan sekali gue langsung ketemu sama lo berdua" jawab Gibran dengan santai.


"maksud lu apa?" tanyaku dingin, bersamaan dengan tatapan tajam yang terus mengintai bocah tidak dikenal ini.


"berawal dari menjadi pentolan kelas, lalu memberi perlawanan pada geng TOPI dan selanjutnya berduel dengan ketua MATADOR"


"gak usah banyak bacot, to the point aja" potong Riko dengan tengilnya.


"gue mau lu berdua gabung ke G-BZ, nama yang pasti sudah kalian kenal" kata Gibran dengan ekspresi dingin yang meyakinkan.


"ohh, gue gak minat" jawabku malas meladeni orang-orang bodoh yang selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan nama besar di jalanan.


"sekarang lo punya banyak musuh, lo butuh kita buat ngancurin musuh lo yang punya banyak orang" aku tersenyum sinis, menampilkan ekspresi psikopat yang tidak pernah takut dengan apapun.


"gue gak butuh siapapun, termasuk elu dan bocah-bocah yang ada di belakang lu" sontak pria pendek kekar dengan kepala botak memperlihatkan muka garangnya seperti ingin maju untuk memulai baku hantam denganku, tapi dia di tahan oleh Gibran yang tidak salah lagi dia adalah ketua dari G-BZ (Golongan Bangsa Jalanan).


"gue gak mau ada masalah sama lu pada, baiknya lu gak usah ganggu kita" kata Riko dengan segala wibawa yang dia perlihatkan.


"oke gue pergi" kata Gibran tidak ingin memperkeruh keadaan "Zar, lu bisa datang kapan aja ke BZ, kita cinta damai dengan orang yang Netral.


aku bukanlah orang bodoh, kapanpun dan siapapun bisa saja menjadi musuhku, semua tergantung keadaan ataupun kesalah pahaman, siapapun patut untuk di waspadai.


mereka pergi meninggalkan sebuah keresahan, kata-kata bocah yang bernama Gibran barusan bisa saja hanya sebagai trik untuk menjatuhkanku atau minikamku dari belakang.


aku tidak pernah takut dengan siapapun, apalagi yang harus aku takutkan? aku punya bocah sialan yang akan mengiringi setiap pergerakanku, dia mungkin sedikit bodoh dan kadang ceroboh dalam mengambil keputusan, yang terpenting dia selalu ada di sampingku dengan besarnya keberanian yang dia punya.


Gue tau gue ini tolol Zar

__ADS_1


tapi kadang lu lebih tolol dari gue


-Riko


__ADS_2