
aku keluar dari rumah, mendapati Nadia sedang memakai sepatunya, tak lama dia berdiri dan menoleh ke arahku, menampilkan senyum manis yang aku sukai.
"kenapa senyum-senyum?" Nadia mengerucutkan bibirnya, menyajikan wajah lucu yang sangat menggemaskan.
"yau udah gak senyum lagi" jawabnya dengan marah yang dibuat-buat.
"gakpapa juga, gak senyum juga udah cantik" Nadia tidak bisa menahan senyumnya bersama pipinya yang mulai memerah. ahh, lu cantik banget si Nad, jadi pengen gigit batinku. "yah kok senyum? jadi makin cantik kan" lanjutku dengan nada kecewa, membuat wajahnya bersemu dan senyum yang ditahan-tahan olehnya.
"udah gombalnya?" tanya Nadia dengan wajah marah yang dibuat-buat, seringkali membuatku ingin menikamnya.
"belum, nanti dilanjutin" jawabku sembari mulai memakai sepatu.
"mau mikir dulu yah?" mendengar itu, aku menoleh ke arah Nadia sembari tidak berhenti memakaikan sepatu ke kakiku ini.
"enggak, mau liat kamu senyum aja" senyum Nadia mengembang malu-malu. Setelah selesai memasangkan sepatu, aku bangkit dan berdiri tepat didepannya. "kalo ketemu aku jangan lupa senyum yah" kataku mencubit pipi Nadia dengan lembut.
"kenapa?" tanyanya polos.
"ya biar aku seneng aja" jawabku sembari menaiki motor dan menyalakannya. "ayo naik" lanjutku.
"iya kak" Nadia menaiki motorku dengan perlahan. " udahhh" lanjutnya.
"motornya suka mogok kalo supirnya gak di peluk" kataku menggoda Nadia.
"kak Anzar yang mogok, bukan motornya!" jawab Nadia dengan tangan yang mulai melingkar ditubuhku, menciptakan sebuah kenyamanan untuk diriku. "ayo berangkat" lanjutnya.
"siap bos"
Aku melajukan motor dengan pelan, menikmati setiap detik waktuku bersama Nadia, Nadia yang tidak sengaja aku temui, Nadia yang yang tidak sengaja merajut kembali luka yang dulu, dan Nadia yang sengaja aku pilih untuk dicintai.
"kak Anzar" suara halusnya terdengar sangat dekat dari telingaku.
"apa?" jawabku cepat.
"kak Anzar jangan Nakal lagi yah!" kata Nadia menegurku dengan kelembutannya.
"iya Nadia" jawabku tanpa berniat untuk membantahnya
"harus rajin sekolah, jangan bolos lagi!" lanjut Nadia menyeramahiku.
__ADS_1
"iya sayanggg" Nadia sedikit tertawa dan kemudian dia mempererat pelukannya.
"kak Anzar" lanjut Nadia memanggilku dengan suara manjanya itu.
"hmm" jawabku.
"Nadia kalo pulang sekolah pengen dianterin terus sama kak Anzar" suara manja Nadia kembali terdengar.
"pulang doang? berangkatnya gak mau bareng?" sautku bertanya pada Nadia.
"pengen si, tapi takut kesiangan" jawabnya masih dengan suara indahnya itu.
"enggak kesiangan deh"
"ya udah, nanti Nadia telpon kak Anzar"
"iya Nadia"
Untuk setiap hari yang pernah aku lalui, aku menemukan banyak kebahagian, banyak ketenangan dan kenyamanan. Tapi kali ini, aku merasa ini adalah hari yang paling sempurna. Ya, mungkin menurut kalian sikapku ini berlebihan, tapi aku hanya ingin jujur, saat itu memang sangat indah, aku dan Nadia resmi berpacaran, tanpa dimulai oleh rasa canggung, tapi dimulai dengan pelukan hangatnya.
Nadia memeluku sangat erat, bersembunyi dibalik punggungku, aku tidak tahu apakah dia tersenyum atau tidak, yang pasti aku merasakan setiap gerakan kepalanya yang manja bersender dipunggungku.
"ehh udah nyampe?" jawabnya seperti orang linglung.
"ini rumah siapa?" tanyaku menggodanya.
"rumah Nadia" jawabnya polos.
"ya iya berarti udah nyampe Nadia" kataku yang heran dengan kelakuan bocah satu ini.
"hi hi" Nadia hanya tertawa bodoh. Belum juga Nadia turun dari motorku, suara deru motor yang lain terdengar memasuki halaman rumah Nadia, pengendara motor ninja merah itu adalah Gibran. Ya, harus kuakui, dia memang terlihat gagah, apalagi jika mendengar ceritanya, dia layaknya jendral ketika sedang bertempur. Gibran memarkirkan motornya tepat disebelahku dan dia segera turun, aku cukup kaget, aku takut dia menyerangku, didepan Nadia dan aku tidak mungkin melawannya saat ini.
"wah gak bilang dulu sama abangnya nih"
sapanya dengan senyum ramah dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku.
"gue kira lu bukan abangnya" sautku ramah bersalaman dengan Gibran, bersamaan dengan Nadia yang segera turun dari motorku.
"kak Anzar kenal sama kak Gibran?" tanya Nadia bingung.
__ADS_1
"Anzar itu, temen abang" potong Gibran cepat.
"ah kok Nadia gak tahu? abang boong yah?" tanya Nadia kembali tidak percaya dengan abangnya sendiri.
"iya kan temenannya baru" alasan Gibran "ayo Zar masuk kerumah" lanjut Gibran masuk kerumahnya.
"iya duluan aja" jawabku ramah sembari turun dari motorku.
"kak Anzar dari kapan kenal kak Gibran?" tanya Nadia.
"dua hari kebelakang, sampe gue pernah benci sama abang lu" jawabku menceritakan yang sebenarnya pada Nadia.
"iya, kak Anzar cemburuan ih" saut Nadia menggodaku. Aku mendekatkan mulut ketelinga Nadia yang tidak menghindar sama sekali.
"Nadiaku miliku, tidak boleh bersama orang lain selain Anzar" bisikku, Nadia hanya diam dengan pipinya yang mulai memerah. "mau masuk gak?" lanjutku bertanya, membuat Nadia terusik dari diamnya.
"i..ya ayo masuk kak" jawab Nadia mendahuluiku berjalan menuju teras rumahnya.
"gue diluar dulu yah" kataku sembari duduk dikursi yang ada diteras rumah Nadia.
"gue-gue, tadi aja manis banget ngomongnya pake aku kamu" jawab Nadia dengan marah yang dibuat-buat. anjir kebiasaan ngomong kasar si lu Zar
"ha ha ha iya maaf"
"kak Anzar mau minum apa?" tanya Nadia yang sudah duduk disebelahku.
"kopi boleh gak?" balasku bertanya.
"boleh, Nadia buatin dulu yah" jawab Nadia bangkit berdiri dari duduknya kemudian berjalan berniat untuk masuk kedalam rumah.
"iya, cepetan" Nadia menoleh kearahku.
"iya kak Anzar"
"kalo lama nanti aku rindu"
"kak Anzar bawel" setelah mengatakan itu Nadia lekas masuk kedalam rumahnya, membuat senyumku mengembang bersama dengan bayangan Nadia yang terus hadir disetiap kedipanku. Ah Nadia, saat mataku tertutup bukan gelap yang aku dapati, tapi bayangan senyummu dan wajah cantik yang aku kagumi.
*kali ini dan untuk masa yang akan datang, aku tidak perlu bingung lagi, tentang pada siapa rindu ini ditujukan, kamu adalah resmi pemilik rinduku, setiap detik yang aku jalani nantinya akan berubah, tidak seperti saat aku belum mengenalmu, tentunya tidak disetiap waktu aku akan bersamamu, tapi kamu jangan khawatir, aku percaya, kamu akan ada dipikiranku setiap detiknya.
__ADS_1
-Anzar*