Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Nadia-1


__ADS_3

Setelah keluar dari ruang BP, aku sangat malas ikut pelajaran, jadi aku memutuskan untuk diam dan tidur di UKS, sembari mengepal amplop yang berisi surat panggilan orang tua aku berjalan melawati koridor-koridor sekolah hingga aku sampai di UKS dan mulai merebahkan badan di ranjang yang ada disana.


"Kenapa kak?" Tanya seorang perempuan yang tidak salah lagi dia adalah anak PMR yang sedang piket waktu itu.


"Enggak, numpang tidur aja" aku memejamkan mata dan menghalangi muka dengan lenganku, mengingat kejadian tadi, apa aku sebrutal itu? Jujur saja aku sangat bersyukur Riko menghentikan perbuatanku, jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Tiar.


"Laa, kakak ini kenapa?" Kata seorang wanita yang baru datang, mendengar hal itu aku lekas menoleh ke sumber suara. Aku melihatnya membelakangiku, seperti tidak asing lagi dengan tubuh yang pendek dan rambut hitam sebahu, tak lama dia menoleh ke arahku. Nadia? Ya Tuhan mengapa aku begitu sial, aku sudah berniat untuk menjauhinya agar uangku tetap utuh, tapi dia sekarang dia ada di hadapanku.


"Kakak?" seolah terkejut melihat keberadaanku "kakak gakpapa?" Hah? Apa aku tidak salah dengar, apa maksudnya dia bertanya seperti itu.


"Kagak, emang ada apa?" Tanyaku yang bingung dengan sikap Nadia.


"Semua siswa rusuh pas denger kak Anzar sama kak Tiar berantem" aku tidak menyangka ternyata berita itu menyebar dengan sangat cepat.


"Jadi kakak yang berantem?" kata Lala, perempuan yang sudah ada ruang UKS sebelum Nadia datang. Aku hanya diam, malas membahas semua itu. "Kakak ini siapa?" Lanjut Lala bertanya.


"Anzar" jawabku malas.


"Ohh kak Anzar itu yang ini? Baru tau aku"


"Heh bocah, lu mau kacamata lu gue ganti gak?" Tanyaku pada Nadia, aku sudah malas ada disini, mulutku sudah meronta-ronta meminta asap putih.


"Ya iyalah, pokoknya kakak harus ganti aku gamau tau!" Ekspresi Nadia kembali marah karena aku ingatkan dengan kacamata nya.


"Yaudah ayo ikut gue"


"Kemana?" Kata Nadia.


"Udah ayo ikut aja" aku menarik tangan nya, meninggalkan Lala sendirian di UKS.


"Ihhh tangan nadia sakit, kakak mau bawa aku kemana si?" Tak terasa senyumku mengembang melihat wajah Nadia yang sangat lucu.


"Diem, mending lu nurut aja!" Jawabku sembari terus berjalan hingga aku dan Nadia sampai di warung pak Deni.


"Mau ngapain kesini?"


"Udah ayo" aku membawa masuk ke dalam dan mendapati pak deni sedang menghitung uang.


"Beh, kopi good day satu" kataku pada pak Deni. "Lu mau minum apa?" lanjutku bertanya pada Nadia.


"Enggak kak, aku mau ke sekolah aja" jawab Nadia seperti ketakutan.

__ADS_1


"Udah diem temenin gue di sini, ntar kacamata lu gue ganti" kataku sedikit menenangkan nya.


"Ini siapa Zar?" Tanya pak Deni heran, mungkin karena baru kali ini dia melihatku membawa perempuan.


"Tawanan gue beh" Jawabku asal sembari berjalan ke belakang untuk diam disana.


Warung pak deni cukup luas, di depan nya ada etalase, kulkas dan mesin fotocopy, bagian belakang ruangan di pisahkan oleh lemari hingga tidak bisa terlihat orang yang ada di depan warung, di belakang ada bangku dan meja panjang seperti yang ada di warung-warung bakso.


"Lu diem disini, temenin gue" entah apa yang membuatku ingin membawa nya kesini, biasanya aku hanya ingin sendiri menikmati keheningan dan bergelut dengan lamunan sendiri, tapi sekarang aku malah membawa Nadia kesini dengan sengaja.


"Nanti kalo kelas aku masuk gimana?"


"Lu kan lagi piket di UKS" jawabku sembari mengambil rokok dari saku celanaku dan meyalakannya.


"Tapi kakak jangan macem-macem yah" aku langsung memandang Nadia detail dari atas sampai bawah.


"Gue gak nafsu" Itu adalah kebohongan yang sangat besar, aku ini laki-laki normal dan bisa dengan begitu saja terangsang jika melihat wanita.


Nadia hanya diam, dia mengeluar ponsel dan fokus memainkan nya tanpa melihat ke arahku sedikitpun, tak lama pak deni datang membawa kopi yang aku pesan.


"Pacar lu ga di kasih makan Zar?" Tanya pak deni.


"Kasih intisari aja satu botol beh" jawabku asal.


Sementara hening menyelimuti kita berdua, aku sibuk dengan hisapan-hisapan asap putih dan Nadia sibuk dengan ponsel nya.


"Kakak kenapa gak masuk kelas?" Tanya Nadia membuka pembicaraan.


"Males gue" jawabku singkat sambil memainkan gelas kopi.


"Kalo males mah aku juga sama, tapi aku masih masuk sekolah"


"Iya kan itu elu bukan gue"


"Iya kakak juga harus masuk sekolah, nanti istirahat kedua masuk yah kak, aku ada ujian fisika"


"Iya"


"Tapi kakak juga masuk, jangan disini"


Apa ini? Aku merasakan suatu hal yang sangat janggal, ada apa dengan Nadia? Dia begitu lugu menasehatiku, menyuruhku untuk sekolah, dia seperti menganggapku bukan orang asing baginya, apa ini karena kepribadian dia yang ramah atau aku saja yang tidak bisa melawan. Entahlah, aku tidak mau terlalu dalam mengenalmu, Nadia.

__ADS_1


Hening kembali menyelimuti, Nadia sibuk dengan ponsel nya. Tanpa dia sadari aku sedang memperhatikan nya, melihatnya tersenyum-senyum sendiri, senyuman yang sangat manis yang terus aku nikmati sedari tadi.


"Heh, emang mata lu rabun yah?" Nadia langsung menoleh ke arahku, memperlihatkan wajah polos seperti anak kecil.


"Iya kak, mata aku rabun gak tau kenapa"


"Kok lu masih bisa liat?"


"Iya kan rabun jauh, belum parah juga"


"Ke sekolah yuk kak, aku mau belajar buat ujian fisika"


"Baru juga sebatang, sebatang lagi deh" Nadia mengerucutkan bibirnya, dia terlihat sangat menggemaskan.


"Yah ngeroko mulu" aku kembali menyalakan rokoku yang baru dan menyemburkan asapnya ke atas. "Gak baik tau" Lanjutnya berbicara.


"Ha ha tau apa lu?"


"Itu ada peringatan di bungkus rokok nya"


"Terus lu percaya? Gue mah engga, yang nulisnnya aja gatau siapa" jawabku asal.


"Terserah kakak ajalah"


Aku menghambiskan rokokku dengan rakus, melihat ke arah jam dinding yang ada disana waktu menunjukan pukul 12 kurang 15 menit, sebentar lagi istirahat kedua, waktu dimana para siswa yang ingin merokok atau sekedar makan akan datang kesini, aku tidak mau nama Nadia jadi tercoreng karena berduaan denganku di warung pak deni.


"Ayo, lu mau ke sekolah gak?"


"Iya ayo kak" jawabnya dengan semangat.


Aku beranjak pergi ke sekolah bersama Nadia yang mengikutiku dari belakang.


"Beh, Bayar ntar sekalian pulang ya"


"Iya siap Zar"


Ini pertamakali terjadi dalam sejarah hidupku, berjalan berdampingan dengan perempuan di sekolah, aku sangat bingung, apa yang harus aku lakukan? Hingga aku memutuskan untuk jalan duluan ke kelas tanpa mengantarkan Nadia ke kelasnya.


"Gue duluan yah" kataku pada Nadia.


"Iya kak, jangan lupa ganti kacamata aku!" Jawabnya dengan nada mengancam, memperlihatkan wajah marah yang membuatnya semakin menggemaskan.

__ADS_1


"Iya bawel lu" aku segera pergi meninggalkan Nadia dan menurutinya untuk masuk ke kelasku.


__ADS_2