
kali ini aku sedang duduk di kelas tanpa ada guru yang mengajar, suara riuh ricuh dan gemuruh yang disebabkan oleh penghuni kelas ini membuatku gusar, sampai terlintas di pikiranku tentang janji yang diucapkan Nadia kemarin membuat senyum ini tercetak dengan sempurna seperti membangkitkan gairah yang tadi perlahan sudah menghilang.
"Napa lu senyam-senyum kaya orang stres?" tanya Riko yang sudah ada di sebelahku.
"kepo lu bangsat" aku lekas bangkit dari tempat duduk meninggalkan rasa penasaran bagi Riko yang sudah aku buat kebingungan.
"mau kemana lu?" langkahku terhenti, lekas aku menoleh pada Riko yang menampilkan raut wajah penuh dengan kecurigaan.
"ahh banyak tanya lu, ntar malem gue ke rumah elu" lekas aku berjalan menjauhi Riko dan segala kegaduhan yang ada di kelas tercinta ini.
aku berjalan dengan santai tanpa melirik ke kanan atau kiri, hanya fokus pada satu tujuan yang ingin aku capai kali ini.
"assalamuakum pak" sapaku pada bapak guru yang sedang mengajar di kelas 10 IPA 1 "saya ada perlu sama Nadia pak" kali ini aku sedang berada tepat di depan pintu kelasnya Nadia.
"waalaikumsalam, perlu apa? kelas ini sedang ujian" jawab guru itu tidak bersahabat.
"Rindu saya juga sedang di uji pak" teriakku, sontak seisi kelas itu mulai riuh ricuh mendengar ucapanku Anzarrr! jaga mulut lu bego omel batinku.
"maksud kamu?" aku menggaruk kepala yang tidak gatal sekaligus melemparkan senyum bodoh pada guru itu.
"enggak pak, gak jadi" lekas aku segera berlari menjauhi kelas Nadia. Anzarrr! lu itu bego banget si. omelku merutuki diri sendiri, Nadia pasti malu dengan apa yang aku lakukan, ahh maafkan aku Nadia, jika sudah tentangmu aku tidak bisa lagi mengontrol diri.
......
aku terdiam duduk ditempat yang paling bisa membuatku nyaman, dimana lagi kalo bukan di warung pak deni, bersama dengan asap rokok dan kopi gooday yang sedari tadi mengiringi lamunanku.
"kak Anzar" Nadia datang menghilangkan lamunan yang sedang aku ciptakan, mengantikannya dengan suatu keindahan yang selalu ingin kulihat setiap saat.
"ngagetin aja lu" Nadia pasti marah sama gue batinku menduga-duga bukan tanpa alasan, aku sudah menbuatnya malu.
"maksud kakak tadi apa?" keringat dingin mulai datang bersama dengan rasa bersalah yang kali ini datang mengampiriku.
"gue gak sengaja Nad, serius deh, maafin gue yah udah bikin lu malu" Nadia tertawa halus membuatku semakin tidak paham dengan jalan pikirannya.
"kak Anzar lucu banget si, Aku gak apa-apa, kenapa harus malu? malahan aku tadi ketawa mulu di kelas" aku terdiam dengan segala kebingungan, entah senang karena Nadia tidak marah padaku atau malah heran dengan tanggapan Nadia yang diluar dugaanku. "kakak rindu yah sama aku?" senyumnya terus tercetak bersamaan dengan tutur kata yang berniat menggodaku.
"kalo kak Anzar rindu Nadia emang kenapa?" balasku menggodanya, menempatkan wajahku tepat di depan wajah Nadia hingga tidak ada lagi yang aku lihat selain pipi Nadia yang mulai memerah.
"ihhh kak Anzar apaan sih" Nadia memalingkan wajahnya dari pandangku, berniat menyembunyikan wajahnya yang sedang bersemu. Aku tersenyum puas menguasai permainan Nadia.
"lu udah makan belum?" kataku dengan gaya bicara yang sudah aku usahakan untuk senormal mungkin seperti Anzar yang biasanya.
"belummm" jawab Nadia lemas.
"yaudah, kita makan aja, ngopi mah besok lagi aja, gue baru aja udah ngopi tadi" raut wajah Nadia berubah, menampilkan Nadia yang ceria yang akhir-akhir ini entah mengapa aku malah terjebak dalam pusaran rindu yang tidak sengaja tercipta.
"tapi aku pengen makan bakso" kata Nadia dengan suara manja yang membuatku tidak bisa menolak permintaannya.
__ADS_1
"gimana elu aja dah, lu yang pilih tempat" jawabku tak ambil pusing sembari aku berjalan dan Nadia yang tanpa diminta dia mengikutiku untuk menghampiri si keong motor andalanku yang terparkir di tempat biasa, dimana lagi kalo bukan di depan warung pak Deni.
"aku tunjukin jalannya yah" kata Nadia yang sedang menyaksikanku menaiki motor.
"iya bawel, sekarang naik dulu" Nadia dengan cepat naik ke motorku, melingkarkan tangannya di tubuh ini hingga membuatku ingin berlama-lama merasakannya.
ngeng ngeng ngeng
"itu kak di depan"
"siap bos" hingga sampailah aku dan Nadia di warung bakso yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolahku.
"silahkan turun tuan putri"
"akan aku lakukan Rajaku"
apa ini Anzar? seperti kau tidak menyadari, semua terjadi begitu saja tanpa ada aba-aba, seakan-akan kau menginzinkan dirimu untuk terus tenggelam di kehidupan Nadia.
"mang, bakso dua mangkok yah" kataku pada mang bakso yang ada disana. "Nad, lu mau minum apa?" lanjutku bertanya pada Nadia.
"es teh manis aja kak" jawabnya yang kini ia sudah duduk di kursi yang ada disana.
"es teh manisnya dua mang" lekas aku berjalan mendekati Nadia yang terus menampilkan senyum manisnya.
"kenapa senyum-senyum lu?" Nadia segera memalingkan pandangannya dariku, membuatku tersenyum tanpa diketahui olehnya.
"santai aja, gak usah malu-malu sama gue mah" kataku sembari duduk dan menyenderkan badan di kursi yang ada disana.
sejenak tidak ada pembicaraan diantara aku dan Nadia sampai datangnya 2 mangkok bakso besama dengan 2 gelas es teh manis.
"lu suka kesini?" kataku perlahan membuka pembicaraan dengan Nadia.
"kadang-kadang sih kalo lagi pengen aja" aku mengangguk-nganggkukan kepala sembari terus melahap bakso yang ada didepanku ini "kak, kok kita jadi barengan terus yah" lanjutnya membuat senyumku mengembang.
"iya yah, gue juga gak tau apa alesannya" senyum manis Nadia kembali di tampilkan membuat gejolak rasa kagum padanya kembali terasa pada diriku.
"Nadia juga seneng-seneng aja kalo lagi sama kak Anzar, ya emang sih pas awal-awal takut juga hehe"
"takut suka sama gue?" tanyaku berniat menggoda Nadia yang sedang membuatku tidak paham apa yang sedang terjadi antara aku dan dia.
"hih dasar hidung belang" jawab Nadia memalingkan pandangannya dariku, membuat seyumku kembali tercetak sempurna.
"cepet abisin makannya, biar cepet pulang takut keburu hujan"
"kakak mau nganterin Nadia lagi?"
"ya terus lu mau pulang sendiri?"
__ADS_1
"enggak, anterin aja hehe"
Nadia, aku tidak tahu apa sedang terjadi, tapi aku merasa tidak bisa jika kejadian ini tidak terulang lagi, kamu harus berjanji untuk mengulangnya bersamaku.
suara-suara kendaraan terus menjadi irama mengiringi aku berkendara dan Nadia yang sedang memeluku.
"kakak besok sekolah yah" suara halus Nadia yang selalu bisa mengoda telingaku hanya untuk mendengarkan dia saja tanpa memperdulikan yang lainnya.
"iya Nadia" jawabku dengan lembut tanpa ingin menolak permintaannya itu.
"jangan siang lagi berangkatnya" aku seperti dihipnotis olehnya, tanpa bisa melawan ataupun menolak apa yang dikatakan Nadia.
"kalo pagi-pagi gue mau jemput elu aja" Nadia tertawa membuat senyumku kembali mengembang tanpa bisa dilihat olehnya.
"nanti aku malah ikutan kesiangan" bajingan memang lu Zar haha batinku merutuki diri sendiri yang sangat tidak bisa berangkat pagi.
sunyi menyelimuti hingga kita sampai ke rumah Nadia, kali ini gerbangnya tertutup membuatku memberhentikan motorku tepat di depan gerbangnya.
"Kayaknya ibu belum pulang deh" kata Nadia sembari turun dari motorku.
"emangnya kemana?" tanyaku yang belum tau banyak tentang Nadia.
"ngajar di SMP" aku mengangguk-nganggukan kepala pertanda aku paham dengan jawaban dari Nadia.
"Yaudah gue pulang yah"
"gak ke rumah dulu kak?" tanya Nadia seperti tidak mau aku pergi.
"kan di rumah lu gak ada orang" Nadia menampakan senyum bodohnya dan dia masih saja terlihat manis dengan senyumnya itu.
"ehh iya yah, Nanti kakak macem-macem sama aku" kata Nadia mengubah ekspresinya menjadi julit.
"yaudah ayo ke rumah dulu deh, mumpung sepi" kataku sembari turun dari motor.
"ihhh gamauuu" jawab Nadia dengan ekspresi marah yang di buat-buat, aku tertawa melihat wajahnya yang semakin lucu itu.
"tadi ngajak" jawabku menggodanya.
"itu mah boongan, kakak pulang aja, nanti besok kalo mau tinggal kesini lagi" aku kembali tersenyum menyaksikan Nadia mengatakan itu dengan polosnya.
"yaudah, gue pulang yah"
"iya kak Anzar" aku lekas menaiki motorku dan mulai menyalakannya sehingga suara itu seakan menjadi pengiring bagiku yang akan meninggalkan Nadia kali ini. aku akan kembali Nadia.
"hati-hati kak" katanya seakan-akan tidak ingin terjadi hal yang buruk padaku.
"iya Nadia" Nadiaku lanjut batinku.
__ADS_1