
"Nad, nanti keliatan sama ibu kamu loh!" kataku pada Nadia yang terus menyenderkan kepalanya dipundakku, sembari tangannya yang mulai melingkar ditubuhku.
"iya ih, kak Anzar mah maen peluk-peluk aja!" omel Nadia sembari sedikit menjauhkan diri dariku. Aku melihat Nadia dengan tatapan keanehan, enak saja dia menyalahkanku.
"siapa juga yang duluan meluk?" gerutuku.
"kak Anzar!" jawabnya dengan wajah marah yang dibuat-buat.
"gue cium juga lu!" sautku kesal.
"kan... kak Anzar mah mesummm!" Aku memutar bola mata malas meladeni Nadia, mau bagaimanapun dia tidak akan mau mengalah.
"ehhh ada tamu!" seru ibu Nadia yang baru datang dari dapur. Aku lekas berdiri melihat kedatangannya "maaf yah, ibu tadi nyuci piring dulu" lanjut ibu Nadia ramah.
"gak apa-apa bu, kan ada Nadia" jawabku sembari mencium punggung tangan ibu Nadia. Kemudian aku duduk lagi dan ibunya Nadia juga duduk bersebrangan dengan aku dan Nadia yang duduk bersebelahan. Aku merasa bukan orang asing disini, aku merasakan ini mirip seperti suasana dirumahku.
"Anzar udah makan?" tanya ibu Nadia.
"udah bu, tadi dirumah" jawabku.
"sama, Nadia juga" sambung Nadia.
"ibu gak nanya kamu ih" jawab ibu Nadia menggoda anaknya. Nadia hanya diam dengan wajah cemberutnya. "apa?" lanjut ibu Nadia.
"enggak" jawab Nadia kesal. Aku hanya diam dengan senyum yang sudah mengembang sedari tadi. Harmonisnya keluarga ini, mereka tidak merasa kurang, meskipun setengah dari mereka sudah hilang.
"bu, Anzar kayaknya mau pulang nih" potongku yang sudah berniat untuk menemui Riko.
"ihhh disini dulu! kasian Nadia gak ada temen" bujuk ibu Nadia padaku. Menoleh lah aku pada Nadia, melihat wajahnya yang seperti memintaku untuk tetap disini.
"ada urusan bu" alasanku untuk tetap pada pendirian yang sudah aku tegakkan."ya udah deh, Anzar izin sekalian bawa Nadia bu, boleh?" lanjutku dengan ide baru.
"Ya udah, ibu juga mau belanja. Nadia mau ikut Anzar apa ikut ibu?" tanya ibu Nadia pada anaknya. tau begitu mending disini aja, enak, sepi, gaada yang ganggu ha ha ha suara batin nakalku.
"Nadia ikut kak Anzar aja deh" jawab Nadia girang.
__ADS_1
"jadi lebih milih Anzar daripada ibu?" tanya ibu Nadia mendrama. Nadia hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya. "tega kamu nak!" lanjut dramanya membuatku sedikit tertawa.
"ibu lebay ih" saut Nadia dengan cerianya menampilkan senyum manis yang selalu bisa membuatku kagum.
"ha ha ha ya udah, mau berangkat sekarang?" tanya ibu Nadia padaku dengan ritme yang kembali normal.
"iya deh bu" jawabku sembari berdiri. Tanpa aku suruh, ibu dan anaknya yang sedang bersamaku, kompak bangkit berdiri dari duduknya.
"Nadia mau bawa tas dulu!" seru Nadia sembari berlari kekamarnya.
"ya udah, pamit yah bu" kataku sembari mencium tangan ibu Nadia.
"hati-hati, jagain anak ibu yah" jawab ibu Nadia dengan penuh kepercayaan padaku.
"iya bu, pasti, dengan segenap jiwa dan raga, aku siap menjaga anak ibu" jawabku memulai drama.
"dasar kamu ini" gerutu ibu Nadia.
"Nadia pamit yah bu" seru Nadia yang baru keluar dari kamarnya, menghampiri ibunya lalu mencium punggung tangan ibunya itu "assalamualaikum" lanjutnya sembari keluar rumah dengan girangnya.
"waalaikumsalam" jawab ibu Nadia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya.
"iya, awas hati-hati" tanpa henti-hentinya dia menasehatiku.
"iya bu, assalamualaikum" jawabku pergi keluar dari rumah Nadia. Diluar aku mendapati Nadia yang sudah siap, sepatunya pun sudah terpasang dikakinya. "semangat banget nih jalan sama abang" godaku pada Nadia.
"daripada belanja sama ibu, suka dimarahin mulu" perkataanya membuatku tersenyum, tingkahnya seperti anak kecil yang seringkali membuatku gemas karenanya.
"gue bilangin lu" ancamku, sembari lekas memakai sepatu.
"sana bilangin!" tantangnya.
"aku gak tega kalo kamu dimarahin" sautku menggoda Nadia disela-sela waktu memakai sepatu.
"gombal" katanya sembari berjalan dan kemudian menyenderkan tubuhnya dimotorku. Aku berdiri setelah selesai memakai sepatuku, tak lupa, aku mengambil rokok yang tadi aku bawa, ternyata masih ada diatas meja yang ada diluar. Kemudian aku menghampiri Nadia yang terlihat sangat cantik, mengenakan celana jeans putih panjang dan sweeter warna kuning miliku yang belum dia kembalikan padaku. Tak apalah, sweeter itu terlihat cocok dengan Nadia, meskipun sedikit kebesaran, tapi dia tetap terlihat sangat cantik.
__ADS_1
Aku berjalan mendekati Nadia, hingga sangat dekat dengannya, wajah Nadia mulai terlihat tegang, matanya melotot melihat mataku.
"awas!" kataku menarik lembut tangan Nadia, kemudian dengan senyum yang sudah tercetak dibibir, aku menaiki motorku dengan gagah. "ayo naik sayang" dengan senyum malu-malunya, Nadia perlahan menaiki motorku.
"kita mau kemana?" tanya Nadia.
"kemana aja, yang penting sama kamu" jawabku tanpa menghiraukan apapun.
"kalo ke planet lain gimana?" tanya Nadia tidak masuk akal.
"bisa aja, asal abangnya dipeluk dulu!" jawabku menggodanya.
"siap bang" kata Nadia sembari memeluk tubuh ini, aku sangat suka ketika Nadia memeluku, seperti menggambarkan bahwa kita itu terikat satu sama lain. "ke planet saturnus yah" lanjutnya.
"ongkosnya dicium" godaku kembali.
"ahh Kak Anzar mah mesum mulu!" sudah berapakali Nadia mengataiku 'mesum', aku ini bukan mesum. Ya, dikit sih, normal lah "ayo cepet! ongkosnya ngutang dulu yah!" lanjutnya semakin ngaco.
"ngutang aja lu!" sautku sembari melajukan motor keluar dari pekarangan rumah Nadia. Nadia hanya diam, tidak membalas ucapanku. Dia sedang hening dengan pikirannya, bisa aku rasakan pergerakan kepalanya dipundaku, dia manja, dia sedang menikmati kenyamanannya. Dia pacarku, Nadia dengan segala sifatnya yang aku sukai.
Motor melaju pelan, putaran-putaran rodanya seperti sedang menghilangkan jarak dari tujuanku. Tadinya aku ingin menemui Riko dirumahnya, tapi aku masih merindukan Nadia, aku ingin bersamanya, jika bisa untuk selamanya.
"kak Anzar" panggil Nadia lembut.
"hmm"
"kita mau kemana si?" tanyanya setengah merengek.
"ke kedai kopi, kali-kali nyobain kopi mahal, tiap hari kopi sachet mulu" jawabku menjelaskan pada Nadia.
"Nadia gak suka kopi" rajuknya.
"iya tau, kan sukanya kak Anzar" kataku menggoda Nadia.
"iya, suka kak Anzar aja" anjir! malah gue yang baper batinku. Aku terdiam, tanpa bisa menjawab ucapan Nadia yang sudah bisa membuatku tersenyum dengan penuh arti, beruntungnya itu tidak diketahui oleh Nadia. "kak Anzar suka banget kopi yah?" lanjutnya bartanya.
__ADS_1
"iya, suka. Tapi lebih suka kamu" jawabku manis. Akhir-akhir ini aku bingung, aku tidak mau memperlakukan Nadia seperti aku memperlakukan orang lain, aku ingin membuat Nadia selalu tersenyum dan nyaman dengan diriku. Tapi disisi lain, ini seperti bukan Anzar. Biarlah Anzar yang dulu hilang, demi Nadia yang juga untuk Anzar.
"ah gombal mulu!" jawab Nadia yang semakin erat memeluku. Aku hanya diam, merasakan kehangatan pelukanya yang terus mengikat tubuhku.