
Raga ini sigap sudah menemukan kembali gairahnya, bersama dengan luka-luka yang sudah menghilang tanpa bekas. Ah, aku pikir dunia tidak adil padaku, ternyata aku hanyalah bocah bodoh yang tidak pernah tahu alur cerita yang akan terjadi didunia ini.
Cepat, aku dengan sengaja membasuhkan air ketubuh ini. Aku tidak ingin Nadia menunggu lama, lagi pula aku juga merindukannya. Langkah kakiku berjalan menuju kamarku sendiri, kemudian aku memakai kaos oblong warna merah maroon bersama dengan celana jeans hitam, Tak lupa kalung hitam berliontin perak berbentuk balok aku kenakan dileher ini.
Aku berjalan menuju ruang tamu, berniat untuk membakar rindu dengan menemui Nadia. Tapi sialnya, yang aku rindukan sudah tidak ada ditempatnya.
"kemana Nadia?" gumamku, sembari berjalan ke dapur berniat untuk menanyakannya pada ibuku. Didapur aku mendapati seseosok perempuan yang bukan ibuku, tapi dia yang aku rindukan.
"lagi ngapain bu?" sapaku pada Nadia yang sedang asik memasak.
"eh kak Anzar, Nadia lagi masak lah" jawabnya sembari terus fokus pada masakannya.
"mama kemana?"tanyaku tanpa sedikitpun memalingkan pandangan dari Nadia.
"katanya mau ke warung dulu" jawabnya tanpa melihatku, dia lebih memilih memperhatikan masakannya hingga tidak sedikitpun melihatku.
"udah mateng itu!" Nadia langsung menoleh dengan senyum seperti meledekku.
"baru dimasukin!" jawabnya cepat.
"maen dimasukin aja, gak pemanasan dulu" Nadia menggerinyitkan keningnya sehingga terlihat lipatan-lipatan di keningnya itu.
"maksudnya?"
"enggak" jawabku cepat, melihat dia memalingkan pandangannya dariku sembari dia mengerucutkan bibirnya membuatnya terlihat sangat menggemaskan. "cepetan masaknya, laper" lanjutku, membuat Nadia menoleh dengan mata yang membulat.
"iya kak Anzar" jawabnya. Aku hanya terdiam sembari menyomoti makanan yang sudah jadi.
"mau gak?" tanyaku menyodorkan timun ke mulut Nadia.
"gak mau" jawabnya cepat menghindari serangan timun itu.
"mau yang lebih gede?" kataku sembari mengambil timun yang lebih besar. "yang gede lebih enak" lanjutku mengusap-ngusap timun itu.
"ihhh kak Anzar jorok!" jawabnya mengambil timun yang aku pegang dan meletakannya kembali ketempat semula.
"jorok apa Nadia? ini cuma timun" kataku mendrama.
"iya gak tahu" jawabnya salah tingkah " kak Anzar sana ah nungguin ruang makan aja" aku tersenyum jail lalu lekas melangkah menjauhi Nadia. "Nad" Nadia menoleh ke arahku "timunnya jangan digigit, nanti sakit!" lanjutku memegang resleting celanaku sembari menampilkan wajah seperti orang kesakitan.
"kak Anzarrr!" teriaknya sembari mengambil timun yang tadi, seperti ingin melemparkannya padaku.
"ampun sayanggg!" jawabku dengan tangan melindungi kepala semabari berlari menuju ruang makan dan kemudian duduk di kursi yang ada disana.
Tak lama ibuku datang menenteng kantong plastik yang tidak aku ketahui isinya.
"abis dari mana ma?" tanyaku pada ibuku yang lekas menoleh kearahku.
__ADS_1
"dari warung" jawabnya singkat. "Nadia masih didapur?" lanjutnya.
"iya ma" jawabku cepat.
"bukannya bantuin malah diem disini!" omelnya sembari berjalan menuju dapur.
"semangat ma" balasku tidak memperdulikan omelanya.
"semangat-semangat" gerutunya.
Aku rasa, aku adalah orang yang sangat beruntung. Aku punya ibu yang selalu memarahiku, punya ayah yang siap memberiku uang dan punya Nadia untuk dirindukan.
Piring-piringpun datang ditenteng oleh ibu dan Nadiaku, perutku sudah meronta-ronta merindukan makanan yang sudah dirindukannya.
"bantuin Anzar! diem aja kamu!" omel ibuku kesal melihatku hanya duduk diam menyaksikan Nadia dan ibuku menyiapkan makanan.
"hehe iya ma iya" jawabku dengan senyum bodoh, lekas membantu merapikan piring-piring yang dibawa oleh Nadia dan ibuku. "makan cuy" lanjutku setelah beres merapikan piring lalu duduk kembali bersebrangan dengan Nadia dan ibuku yang duduk bersebelahan.
"giliran makan aja, paling semangat" gerutu Nadia tanpa melihatku.
"merindukanmu juga semangat aku mah"
"uhuk-uhuk" suara ibuku batuk tersedak minumannya. "geli mama dengernya" lanjut ibuku mengomel.
"ahh mamah kaya yang Anzar gak tahu aja, mama kalo chattingan sama papah suka bilang mama rindu papah, cepet pulang yah pah ditambah emoticon cium 10 biji ha ha ha" balasku dengan penuh kemenangan, membuat ibuku jadi salah tingkah dengan pipinya yang sudah memerah ditambah dengan Nadia yang sedang menahan tawanya.
"Anzar! kamu gak sopan ih, itu privasi tahu!" jawabnya dengan mata melotot dan wajah dimarah-marahkan.
"udah berisik Anzar! makan cepet" kata ibuku mengalihkan pembicaraan.
Aku tidak lagi menjawab perkataan ibuku, hingga sementara berakhirlah pembicaraan, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring seperti tidak mengizinkan hening menyelimuti ruangan ini.
"Anzar selesai" kataku membuka suara sembari bangkit dari tempat duduk yang selanjutnya aku berjalan menuju kamar mandi.
"sholat dzuhur Anzar!" kata ibuku.
"siap ma" jawabku cepat.
setelah mengatakan itu aku lekas berwudhu dan melakasanakan sholat dzuhur seperti yang diperintahkan ibuku. Ya, meski jika sedang tidak dirumah, aku seringkali melewatkannya.
Sholatpun selesai, aku lekas keluar dari kamarku dan berjalan menuju ruang tamu, disana aku mendapati Nadia yang sedang duduk selfie bersama ibuku.
"wah gak ngajak" kataku sembari duduk disofa yang kosong.
"ya sini kalo mau ikut" jawab Nadia.
"ogah" sautku cepat.
__ADS_1
Kali ini aku hanya menjadi penonton dari akrabnya Nadia dan ibuku, baru dua kali dia bertemu dengan ibuku, sudah lengket saja kelihatannya.
"ihhh bagus-bagus, kirimin ke mama dong!" kata ibuku dengan hebohnya.
"mama punya WhatsApp gak?" tanya Nadia pada ibuku.
"punya sayang" jawab ibuku sembari mengeluarkan ponselnya.
"Nadia minta nomernya dulu" kata Nadia.
"nih catet aja" jawab ibuku dengan semangat memberikan ponselnya pada Nadia. Nadia lekas mencatat nomor ibuku lalu mengembalikan ponsel itu pada ibuku.
"Nadia kirim fotonya sekarang yah" kata Nadia, ibuku hanya menggangguk mememperhatikan Nadia. "udah kekirim ma" lanjut Nadia, ibuku dengan cepat melihat ponsel yang sedang di pegangnya itu.
"iya udah ada" kata ibuku dengan wajah girangnya "bisa sombong inimah ketetangga, kalo si Anzar itu laku" kata ibuku berbicara sendiri. Aku hanya terdiam bersama Nadia yang terus tersenyum karena kelakuan ibuku "ya udah, mama mau sholat dulu yah" lanjut ibuku sembari berdiri lekas berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.
"iya ma" jawab Nadia dengan senyum manisnya.
"mau pulang sekarang, apa mau disini dulu?" tanyaku pada Nadia.
"hm... pulang aja deh" jawab Nadia.
"ya udah sholat dulu sana" sautku sembari menyalakan rokok yang sudah aku ambil tadi dari atas meja.
"Nadia lagi halangan" jawabnya cepat.
"ahh gak bisa sunnah dong" kataku menggoda Nadia.
"nih sunnah" jawab Nadia cepat menunjukan kepalan tangannya.
"ha ha ha"
Tak lama ibuku datang, mungkin dia akan kekamarnya, tapi sebelum ke kamar, dia harus melewati ruang tamu hingga kembali bertemu Nadia dan aku. Nadia lekas berdiri mendekati ibuku.
"Nadia pulang dulu yah ma" kata Nadia pada ibuku.
"mau pulang apa mau main sama Anzar?" tanya ibuku memggoda Nadia.
"mainnya dirumah Nadia aja hehe" jawab Nadia dengan senyum manisnya.
"ya udah kalo gitu, hati-hati" kata ibuku.
"iya ma" jawab Nadia mencium punggung tanggan ibuku, lekas aku berdiri dan melakukan hal yang sama dengan yang Nadia lakukan
"Asslamualaikum ma" kata Nadia sembari keluar rumah.
"waalaikumsalam sayang" jawab ibuku "hati-hati Anzar, jangan sampe Nadia lecet" lanjut ibuku berbicara padaku.
__ADS_1
"siap ma, assalamualaikum" kataku sembari melangkah keluar rumah.
"waalaikumsalam"