
Tarian-tarian asap putih terus mengepul di mulutku. Ya, aku memang pecandu asap ini, tapi untuk masalah obat-obatan dan miras, aku belum pernah menyentuhnya apalagi memakainya. Untukku biarlah aku mengepul seperti kereta api daripada hidupku hancur karena narkoba.
Aku tidak pernah memilih untuk menjadi bajingan seperti ini, tanpa aku sadari, inilah aku dengan segala sifat yang menghiasi hidupku. Seiring berjalannya waktu, ayahku pun pernah berkata "aku tidak peduli dengan kenakalanmu itu, asal jangan jadi orang goblok, nakalmu dalam artian hanya untukmu dan tidak merugikan orang lain" Ya, itulah ayahku yang percaya bahwa anaknya bisa menjaga kehormatan yang selalu di bawa setiap saat. Kebebasan ini semata-mata hanyalah ujian, akan jadi apa aku menurut keputusanku sendiri.
Satu jam mungkin sudah berlalu hanya dengan duduk diam menikmati asap rokok bersama kopi yang sudah mulai surut, tak lama seseorang datang ke tempat dimana aku terdiam bersama dengan Riko dan Reno.
"Zar, lu di cariin guru BP" kata seseorang yang berperawakan pendek gendut dan warna kulit sawo matang, dia adalah Anggi teman sekelasku.
"ada apa Gi?" Aku rasa kali ini aku belum pernah melakukan kesalahan, tapi kenapa guru BP memanggilku?
"gak tau Zar, lu cek aja sana" setelah mengatakan itu Anggi duduk di kursi yang ada disana. "gue minta rokok yah" lanjutnya mengambil sebatang rokok dari bungkusnya yang ada diatas meja.
"ambil aja" saut Riko dengan gaya tengilnya "Zar, lu bikin masalah apa lagi? kok gue sampe gak tau" lanjutnya bertanya padaku.
"gak tau gue juga" jawabku yang benar-benar tidak tau apa masalahnya. "gue ke ruang BP dulu deh" kataku sembari bangkit berdiri dari posisi duduk.
"mau ditemenin gak?" tanya Reno dengan penuh empati.
"gak usah, lu pada disini aja" setelah itu aku berjalan melangkahkan kaki ini untuk memenuhi panggilan dari guru BP. Tanpa ada rasa khawatir atau takut sedikitpun untuk apa yang akan aku hadapi nantinya. Hingga sampailah aku didepan pintu ruang BP.
"asslamuailaikum" disana aku mendapati pak Ali yang sedang duduk sembari terus fokus pada korannya yang akhirnya dia menoleh dan menaruh korannya itu.
"waalaikumsalam, kamu ternyata" katanya dengan tatapan seperti ingin menerkam aku yang tidak mungkin melawannya ini.
"iya pak, kenapa yah?" tanyaku dengan kebingungan yang sedang menghampiri, kemudian aku duduk di sofa yang ada sana.
"suruh siapa duduk?" aku segera berdiri dengan tingkah bodoh yang aku perlihatkan padanya.
"maaf pak, refleks" jawabku menyengir kuda.
"sekrang duduk" bersamaan aku dan pak Ali kemudian duduk berhadapan, dia terus menatapku dengan wajah datarnya. "Anzar, bapak itu bingung sama kamu, udah sering bolos, nakal pula kau ini" lanjutnya dengan wajah marah.
"iya pak maaf" jawabku sadar akan hal yang di bicarakan oleh Pak Ali adalah kebenaran tentang diriku.
"bapak pernah kasih kamu surat buat orang tua kamu datang kesini, tapi orang tua kamu tidak datang..."
"ohh iya pak, serius saya lupa itu pak, maaf pak" potongku dengan senyum bodoh yang terus tercetak.
"alahhh kamu ini" katanya seperti tidak percaya.
__ADS_1
"bapak si, ko gak ngingetin?" tanyaku dengan gaya tengil yang sudah kembali kedalam jiwa ini.
"bapak itu sibuk, masalah bukan kamu saja!" jawabnya seperti mengeluh akan tugas-tugasnya itu.
"yaudah pak, besok saya bawa orangtua saya deh" kataku yang sudah tidak betah berada di ruangan ini.
"jangan lupa lagi" jawabnya penuh dengan ancaman.
"siap pak, saya ke kelas yah pak" kataku sembari mencium punggung tangan Pak Ali "asslamualaikum" kemudian aku kembali ke warung pak Deni.
aku benar lupa tentang aku harus membawa orangtuaku, suratnyapun aku buang ke tempat sampah waktu itu *bodohnya dirimu wahai ****. sampailah aku ke warung pak deni.
"kenapa Zar?" tanya Riko yang sedang duduk disana.
"yang dulu orangtua gue dipanggil, lupa gue" jawabku santai sembari mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
"ohh, terus lu mau bawa siapa?" tanya Riko kembali.
"teh Ineu ajalah" jawabku dengan santai yang kemudian aku duduk di sebelah Riko.
"*** lu, ntar pak malah Ali ngaceng kalo gitu" saut Riko dengan hebohnya membuat Reno dan Anggi tertawa.
"sekalian gue suruh teh Ineu pake rok mini biar - sekalian" kataku dengan penuh semangat.
" ha ha ha bangke emang lu" kata Riko dengan tawanya.
aku menikmati semua kegilaan ini, bersama para teman yang tidak pernah sungkan dan tidak pernah memandang diriku lebih dari yang lain, kita semua sama rata. Aku yakin, setiap individu punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing.
"sekolah udah bubar kayanya" kata Anggi membuka suara.
"baru jam 11" saut Reno yang tidak percaya.
"guru mau ada acara katanya" jawab Anggi meyakinkan.
"ohh, bilang dong!" jawab Reno dengan gaya tengilnya itu.
"ayolah balik Zar" ajak Riko sembari bangkit dari duduknya.
"nginep di rumah gue yok, besok kan minggu" kataku mengajak tiga orang semprul yang sedang bersamaku ini.
__ADS_1
"gue gak bisa Zar, ada acara" saut Anggi menolak dengan sopan.
"gue juga nih, di rumah lagi gaada orang" sambung Reno.
"ya udah gak apa-apa bos" sautku mengerti dengan urusan mereka masing-masing. "jangan alesan lu Rik, gue tonjok lu" lanjutku memaksa sekaligus mengancam Riko untuk menginap dirumahku.
"iya iya, gue mah akan selalu ada buatmu" katanya seperti anak alay.
"najis!" jawabku jijik "ntar gue jemput, gue mau ke rumah Nadia dulu" lanjutku.
"cewe terosss"
"bacot lu! ayok pulang lah" aku berjalan ke tempat dimana pak Deni sedang duduk "beh mau bayar" pak Deni lekas menoleh ka arahku. "sampoerna mild sebungkus sama kopi good day tiga, berapa?" lanjutku berniat membayarnya.
"35 rebu Zar" jawab pak Deni.
"nih, 50 rebu, ntar kembaliannya dipake jajan lagi disini" kataku sembari memberikan uang 50 ribu itu. "pulang dulu yah beh" lanjutku.
"iya sono" jawabnya singkat.
aku berjalan bersama Riko yang mengikutiku menuju tempat dimana motorku diparkirkan, aku langsung naik ke motorku dan Riko juga ikut naik.
"bentar Zar, itu bukannya Gibran yah?" tanya Riko sembari menunjuk ke arah pria yang bernama Gibran itu yanf berada di depan gerbang sekolahku sedang diam duduk diatas motor ninja merahnya.
"iya Rik, ngapain dia disini?" kataku balik bertanya pada Riko.
"ya gue gak tau lah" jawabnya cepat.
Tak lama datanglah seorang wanita cantik yang tidak asing lagi denganku, dia adalah Nadia, dia berjalan mendekati Gibran, saat itu mereka mengobrol dan terlihat sangat akrab, hingga Gibran memakaikan helm pada kepala Nadia, hati ini mulai merasa ada yang tidak beres, seperti sakit tapi tak berdarah, amarahku naik melihat Nadia menaiki motor Gibran, ingin sekali aku turun dan menghantam Gibran, tapi aku bukan siapa-siapa Nadia juga.
Aku memilih untuk diam, menyaksikan Nadia memeluk Gibran dengan wajah senangnya, dan mereka mulai pergi menjauh meninggalkan sebuah rasa sakit hati yang aku alami saat ini. Teryata sikap manisnya hanyalah semu dipikranku, dia tidak punya perasaan apa-apa terhadap diriku. Aku pun bingung dengan diriku ini, mengapa aku harus sakit hati, tapi ini benar-benar nyata dan aku tidak terima Nadia bersama orang lain.
"anjing" gumamku meredam amarah yang sedang membara.
"Zar, cewek lu itu dibawa sama Gibran" kata Riko seprti tidak percaya dengan kejadian barusan. "anjing! perlu kita serang Matador?" tanyanya dengan penuh emosi.
"dia bukan cewe gue" jawabku malas meskipun amarah ini terus menyelimuti diriku dan berbisik hancurkan Gibran, Nadia hanya boleh bersama Anzar.
"tapi Zar..."
__ADS_1
"udah Rik, gak usah dibahas lagi" jawabku sembari menjalankan motorku dengan cepat, diiringi dengan amarah dan sakit hati yang terus mencabik-cabik diriku apa maksudmu Nadia? kamu sungguh kejam, aku kira kamu adalah pelabuhan yang akan menjadi tempat bahagia setelah lama berlayar dilautan, tapi ternyata kamu hanyalah batu karang yang sudah menggores kapalku.