Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Mabal


__ADS_3

Pernah suatu ketika, terbangunkan oleh suara yang sangat lantang, hingga membuat jantung berdetak lebih kencang, suara itu memanggil namaku, di kediamanku aku sedang berjuang dengan sekuat tenaga, melawan rasa nyaman yang menyelimuti, hingga suara itu datang terdengar semakin dekat.


"Bangun Anzarrrrr!"


Byurrrr


Satu gayung air berhasil membasahi wajah kusut ini.


"Astagfirulloh mamahhh!" Aku terbangun dari tidur pulas dengan satu gayung air yang sudah berkali-kali membuatku kesal.


"Sholat shubuh cepet!" Aku beranjak dari tempat tidur yang sebagian sudah basah karena di siram oleh ibuku.


Seperti yang sudah sering di lakukan, setelah berhasil bangun dari tidur pulas, aku hanya bersiap untuk berangkat sekolah.


"Sarapan dulu, jangan maen nyelonong aja" aku hanya pasrah dan menuruti semua perintah ibuku, orang yang selalu memarahiku, orang yang sangat peduli padaku.


"Kamu itu udah gede, masa tidur aja harus dibangunin mulu" kata ibuku yang terus terfokus pada roti tawarnya.


"Anzar juga bisa bangun sendiri Ma, mama nya aja gak sabaran" sautku sembari mengambil satu bungkus rokok sampoerna mild milik ayahku yang masih tidur.


"Iyalah, gitu aja pasti jawab nya" aku tersenyum melihat ibuku, sembari aku menyalalakan rokok, ibuku melanjutkan omelan nya.


"Anzarrr! kamu ini mau sekolah, malah ngerokok, rokoknya nyuri lagi dari ayah kamu" aku tertawa sembari menyemburkan asap yang memenuhi mulutku, melihat ibuku yang sedari tadi memasang muka masam, aku mendekatinya lalu mencium keningnya.


"Anzar berangkat dulu yah Ma" aku bergegas ke garasi, mengeluarkan motor KLX 250cc berwarna hijau atau sering aku panggil si keong yang akan membawaku meluncur ke sekolah.


Aku mengendari si keong dengan dengan kecepatan rendah sembari menikmati setiap hisapan asap rokok yang sudah semakin pendek hingga sampailah aku di depan gerbang sekolah tercinta.

__ADS_1


Aku memarkirkan motorku di depan warung pak Deni yang berada tepat di depan sekolahku dan diam di dalam warungnya.


"Gak masuk Zar?" Tanya pak deni.


"Males upacara beh"


"Kebiasaan lu, ngopi gak?


"Ngopilah biar ga bego, good day beh, air nya dikit aja"


"Rokok engga?"


"Punya, udah nyolong tadi dari bapak gua"


"Ha ha ha durhaka lu zar!"


"Iyaa? Ntar gue tobat deh"


Pak deni membuatkan kopi yang tadi aku aku pesan, seperti biasa babu-babu sekolah akan mengecek ke warung pak deni untuk mengamankan anak yang sengaja sembunyi untuk tidak mengikuti upacara atau doa pagi.


Aku melihat 2 osis yang masuk ke warung pak deni, dengan sengaja aku menampakan diri di depan mereka.


"Ngapain lu kesini? Bolos lu yah?" Aku mengambil satu batang rokok di saku celanaku dan menyalakan.


"Enggak Zar, lu gak ikut upacara?" Kata Andi sok ramah.


"Ngapain? Mending gue diem disini, bisa ngopi, bisa ngerokok"

__ADS_1


"Kakak udah bolos upacara, ngerokok lagi, cepet ke sekolah!" kata perempuan yang bersama andi, mendengar itu aku tersenyum meledek.


"Lu siapa adek kecil? Berani ngatur hidup gue?" Wajah wanita itu terlihat tidak gentar sedikitpun, dia menatapku tajam seperti ingin menikam.


"Aku Nadia, anggota OSIS" sangat lucu, dia memberikan tangannya untuk bersalaman denganku.


"Aduhh babu! Sana pergi lu berdua" kataku yang sudah malas meladeni mereka.


"Nad, masuk ke sekolah aja yuk" kata Andi seorang pengecut yang pernah aku pukuli karena melaporkan aku ke guru, ketika dia pertamakali memergokiku sedang merokok di warung pak deni.


"Tapi dia gimana kak?" Tanya Nadia polos.


"Udah biarin aja" jawab Andi.


"Ohh iya Di, tadi gue pesen kopi terus gue lupa ga bawa uang, lu bisa bantuin gue gak?" Kataku dengan ekspresi mengancam.


"Iya Zar, nanti gue bayarin aja" Aku mendekati Andi dan merangkulnya dengan akrab.


"Temen baik banget lu Di, sekalian sama rokok nya yah"


"Iya Zar, Gue masuk dulu yah" aku melepaskannya dan berubah menatap Nadia, anak kelas 10 yang baru masuk tapi sudah berani menegorku, dia telihat lebih pendek dariku dan terlihat cukup cantik dengan rambut pendeknya.


"Mau nemenin gue di sini gak?" Tanyaku dengan senyuman jahat yang sangat cocok dengan wajah ini.


"Hih, kenal aja engga" aku sedikit tertawa mendengar mendengar ucapan dengan suara lucunya.


"Tadi lu kan ngajak kenalan, nih gue Anzar anggota partai Demokrat" Aku menjulurkan tangan padanya dan dia menatapku dengan waspada, tanpa sedikitpun tersenyum.

__ADS_1


"Dihh cowok aneh" jawab nadia sambil berjalan menjauhiku. "Hayu kak Andi kita ke sekolah" lanjutnya sembari terus berjalan meninggalkan andi yang masih diam berdiri ditempatnya


"Jangan lupa Di, kalo ada apa-apa lu bakal nanggung akibatnya!" Andi hanya sebentar melihatku dan langsung pergi ke sekolah mengikuti Nadia.


__ADS_2