
Telpon :
"Halo Zar, gue depan rumah lu nih" kata Riko bersuara lewat ponsel.
"ngapain lu?"
"Gibran ngajakin ketemu"
"ya udah, tungguin bentar"
Malam itu, aku melihat dilayar ponselku. Jam menunjulan pukul 07.15. Aku segera bersiap kemudian keluar untuk menemui Riko.
"ma, Anzar keluar dulu yah"
"mau kemana?" tanya ibuku yang sedang asik menonton TV.
"main sama Riko" jawabku sembari mencium tangan ibuku.
"jangan malem-malem!"
"ya udah, berangkat yah" kataku sembari berjalan keluar rumah.
"hati-hati!"
"iya... Assalamualaikum" seruku yang semakin berjarak dengan ibuku.
"waalaikumsalam" jawabnya.
Aku keluar dari rumah dengan santai. Tak lupa, sembari berjalan aku menyalakan rokok yang sudah kuambil dari saku celanaku.
"lama banget sih lu!" omel Riko.
"bisik lu! gue nebeng yah"
"yaudah ayo naik!" Kemudian aku berjalan kebelakang motor Riko dan sedikit menjauhinya.
"LOMPAT KADAL NONJUTSU! hiyaatttt" Dengan cepat aku berlari kemudian melompat naik ke motor.
"ANJENGGG!" teriaknya hampir kehilangan keseimbangan. "pelan-pelan dong bngsatt!" omelnya.
__ADS_1
"kalo pelan-pelan mah lama keluarnya, bego!" balasku.
"anjing lu" marahnya.
"udah cepet jalan!" Spontan Riko menjalankan motornya membuatku hampir terjengkang kebelakang.
"pelan-pelan, bego!" omelku.
"kalo pelan-pelan mah lama keluarnya" balasnya.
"anjing lu, punya lu mah loyo. Pelan juga cepet keluarnya!"
"punya lu juga!"
"yang jelas punya gue lebih strong daripada punya lu!"
"iya, liat paha dikit ngaceng"
"itu normal, bego!" Riko diam sejenak, kemudian
"liat tuh Zar" katanya sembari menunjuk perempuan sexy sedang berdiri didepan supermarket.
"dosa bego! lu tau dosa gak?"
"oh siap pak haji, maaf"
"ha ha ha anjing lu!"
"ha ha ha"
Riko memberhentikan motornya disebuah kedai kopi terbuka. Memarkirkan motornya disamping motor gibran. Kemudian berjalan pada tempat Gibran berdiam diri.
"Anzarr!" sambutnya ramah sembari berdiri dari duduknya. Kemudian bersalaman denganku selanjutnya dengan Riko. "kemana aja?" tanya Gibran padaku.
"sama adek lu terus" potong Riko.
"dia nanya sama gue tolol!" balasku menoyor jidat Riko.
"santai dong pak!"
__ADS_1
"bisik lu kont**!" Kemudian aku duduk bersebrangan dengan Gibran.
"gue ada job buat kalian nih. Dapet duit banyak kalo beres" ucap Gibran tanpa basa-basi lagi.
"wahh rejeki nih" seru Riko.
"job apa nih?" tanyaku.
"nyulik orang" jawab Gibran.
"gue gak minat" jawabku sembari menyalakan rokok.
"kita dikasih 10 juta kalo dapet" kata Gibran menatapku tajam.
"gue gak butuh" jawabku membalas tatapan Gibran. "gue masuk BZ bukan buat ini" jelasku.
"ini bisa jadi pemasukan buat kas BZ, Zar" balasnya lagi.
"lu cari orang lain aja, gue sama Riko ga setuju" jawabku.
"iya Bran, gue kira job nyerang MATADOR" sambung Riko.
"munafik banget si lu pada! kita ini berandal cuy!" sautnya tengil.
"tapi gue bukan penjahat" jawabku santai.
"gue ngajak lu berdua masuk BZ karena gue liat nyali lu berdua cocok buat pekerjaan-pekerjaan kaya gini. Tapi, ternyata lu berdua banci" ledeknya sangat tengil.
"jaga omongan lu anjingg!!" bentak Riko berdiri sembari menunjuk Gibran dengan bengisnya.
"udah Rik" leraiku. "kalo lu narik gue cuma buat kaya gini, gue keluar dari BZ" lanjutku dengan tatapan tajam pada Gibran.
"kalo lu berdua keluar, BZ memburu kalian" acamnya.
"terus kita takut?" jawabku. "lu takut gak Rik?"
"halahhh cuma BZ doang mah kecil" jawab Riko menjentikan jarinya.
"lu denger Gibran? gue gak takut" ucapku kalem "ayo Rik, kita balik aja" ajakku pada Riko.
__ADS_1
"siap pak bos!"