
Belum lama terdiam dikedai kopi ini, menikmati alam bersama rasa yang disajikan. Sesempurna inilah hidupku, ditemani sahabat dan pacarku sendiri.
"aku mau ke toilet dulu yah" ucap Nadia.
"mau ditemenin gak?" godaku pada Nadia yang sudah berdiri.
"gak mau" setelah mengucapkan itu, Nadia pergi untuk menuntaskan urusannya ditoilet.
"Rik, nanti sore kita kumpul sama BZ" kataku tanpa basa basi.
"maksud lu?" tanya Riko masih bingung.
"seperti yang gue bilang dulu, kita terima undangan Gibran" jawabku santai.
"terus sore mau ngapain?
"gabung sama mereka, nyusun rencana buat nyerang PM"
"serius lu?"
"ya iya bego!"
"anjing! seru nih pasti"
******
Tidak berlama-lama menikmati kopi, aku segera mengantarkan Nadia pulang bersama Riko mengikutiku dari belakang.
Motor berjalan pelan, aku tidak membiarkan waktuku bersama Nadia berjalan cepat. Aku masih ingin merasakan hangat pelukkannya atau mendengar suara lembutnya itu.
Rasanya, ingin sekali aku membalikan badan. Membalas pelukan yang Nadia berikan, memberikan kehangatan untuknya di sore hari yang dingin ini. Itu bisa saja terjadi dan membuat motor ini kehilangan kendali, kemudian kita jatuh. Jadi, kuurungkan saja keiinginan itu.
"Nad!" panggilku.
"apa?"
"cium dong" kataku sembari mengodekan untuk dia mencium pipiku.
"kak Riko liat dari belakang ih"
"biarin, cepet dong!" Nadia mencubit pipiku pelan, memberikan penolakan yang halus bagi aku yang terlampau agresif.
"gak boleh" tawa Nadia terdengar lembut ditelingaku.
"yahhh" sesalku.
Pelukannya semakin erat, seperti tidak ingin melepaskanku. Sore cerah ini, seperti menjadi wadah untukku berbahagia bersama Nadia.
"Nad!" panggilku untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"apa kak Anzarrr?" sautnya lembut memanjakan telingaku.
"ciummm" Nadia mencubit pahaku dengan keras membuatku merintih kesakitan.
"gemes ih" katanya tanpa rasa bersalah.
"sakit!" omelku.
"makannya diem!"
"iya diem"
"jangan marah!"
"enggak sayang"
Nadia kembali menguatkan pelukannya. Kepalanya bergerak manja dipundakku, membuat senyumku mengembang, bersama mata yang terus melihat kedepan, melihat jalanan aspal dan beberapa kendaraan hilir mudik diatasnya.
Rumah Nadia mulai terlihat dari kejauhan, membuatku mulai mendekatinya dan menghentikan motor tepat dihalaman rumah Nadia. Riko pun mengikutiku, dia memarkirkan motornya di sebelah motorku.
Nadia lekas turun dari motorku, melepaskan pelukan hangatnya dan menggantikan dengan senyum manis yang dia perlihatkan padaku.
"ibu kamu belum dateng yah?" tanyaku.
"iya, mobilnya juga gak ada" jawabnya membenarkan pertanyaanku. "tapi gak apa-apa, kak Anzar disini dulu aja. Kan ada kak Riko." lanjutnya.
"ngapain?"
"ada urusan" jawabku tanpa mau menceritakan apa yang akan terjadi selanjutnya "ayo Rik, duduk disitu" ajakku pada Riko. Sembari menunjuk kursi yang ada diteras rumah Nadia. Riko mengangguk, lekas dia berjalan mengikutiku, kemudian kita duduk dikursi itu.
"Nadia kedalem dulu yah" Kata Nadia sopan.
"iya sayang" jawabku manis.
"najis! lebay banget sih lu!" potong Riko dengan hebohnya. Membuatku menoleh kearahnya. Nadia tidak menggubris makian Riko, dia langsung masuk kedalam rumahnya, entah mau apa.
"terserah gue lah" sautku tegas sembari mengeluarkan bungus rokok dari saku celanaku.
"minta gue" Riko langsung merebut bungkus rokok itu tanpa seizinku.
"maen serobot aja lu, anak durhaka"
"maaf beh, gak kuat pengen ngebul" katanya sembari mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya menggunakan korek api zippo yang aku kenal.
"korek kaya kenal tuh" kataku sembari tersenyum lebar. Dibalas oleh Riko yang menoleh ke arahku dengan senyum bodohnya.
"perek lu!" seruku sembari merebut korek itu.
"anjing! perek apaan?" tanyanya.
__ADS_1
"pencuri korek!"
"ha ha ha anjing lu!"
Suara deru motor mulai terdengar, kemudia motor itu datang dikendarai oleh Gibran yang memarkirkan motornya dibelakang motorku. Kemudian dia turun dari motornya, menghampiri aku dan Riko.
"udah lama disini?" tanyanya sembari bersalaman dengan aku dan Riko.
"baru dateng" jawabku ramah.
"kayanya sekarang langsing berangkat aja, Zar. Keburu malem"
"gimana Rik?" tanyaku pada Riko.
"ya ayo!" jawab Riko, semangat.
"wahhh jagoan semangat banget nih" sindir Gibran.
"ha ha ha disini kaya yang iya, ntar kalo udah bentrok, kabur dia" sambungku mengejek Riko yang tengil ini.
"anjing lu! liat aja, gue paling depan!" jawab Riko, membela diri.
"ya udah, ayo berangkat!" ajak Gibran.
"gue mau pamit dulu sama Nadia yah" sautku sembari lekas masuk kedalam rumah Nadia yang pintunya tidak ditutup.
tok tok tok... Aku mengetuk pintu kamar Nadia. Berharap dia ada dikamarnya dan segera keluar untuk menemuiku.
"nad! kamu didalem" kataku, memastikan Nadia berada dikamarnya.
"iya... bentar" saut Nadia didalam kamar.
trek.... pintu terbuka, menunjukan seorang wanita cantik yang tidak henti-hentinya membuatku terpesona.
"ada apa kak?" tanya Nadia, spontan aku mengedipkan mataku.
"aku mau pulang" Nadia mengerucutkan bibirnya, seperti tidak suka dengan yang aku ucapkan barusan.
"disini dulu dong" rengeknya.
"nanti juga kesini lagi" kataku sembari mengusap pucuk kepala Nadia yang sedang cemberut. Nadia hanya diam, memalingkan pandangannya dariku.
"Nad" panggilku lembut sembari mendekatkan wajahku pada wajah Nadia, kali ini aku dan dia hanya berjarak beberapa centi meter saja. Nadia terlihat tegang, dia memejamkan matanya kuat-kuat. Jantungku berdetak kencang, melihat pipi Nadia yang sudah memerah. Lekas aku mendekatkan mulutku ke telinga Nadia.
"aku pulang yah" bisikku "nanti besok juga kesini lagi" Nadia diam mematung sampai aku mulai melangkah untuk menyusul Gibran dan Riko yang berada diluar.
"kak Anzar" panggil Nadia lembut, membuatku tertegun lalu menoleh pada Nadia.
Nadia mengecup pipiku dengan cepat, membuatku sangat terkejut. Kemudian dia pergi cepat kedalam kamarnya, menutup pintu rapat-rapat. Aku tersenyum melihat tingkah Nadia yang terkejut dengan perbuatannya sendiri. Kamu memang selalu mengejutkan, Nadia.
__ADS_1