Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Riko (Dewa perang)


__ADS_3

Lama berselang kedaan baik-baik. Aku berhubungan baik dengan Nadia tanpa peduli siapa kakaknya. Setiap hari yang terlewati selalu dengan adanya Nadia, sampai pada hari itu :


"ZARRR!" panggil Riko dari luar rumah. Aku segera turun untuk menemuinya.


"apa kont**!" kataku keluar dari rumah, lalu aku berjalan mendekati Riko. Kita berhadapan dipisahkan oleh pagar dengan tinggi sedada.


"gue diserang Matador, anjing!" kata Riko dengan muka yang geram.


"kok lu gak bonyok si?" tanyaku melihat mukanya.


"ehh ****! gue kabur!"


"kok bisa?" tanyaku lagi.


"lu pengen gue bonyok?" tanya Riko. Aku tersenyum lebar.


"engga, kan gue nanya" jawabku kalem.


"ini jadi gimana urusannya?" tanya Riko. Kemudian aku membuka pagar.


"masuk dulu"


"ada rokok ga?" tanya Riko lagi.


"lu gak bawa?" kataku balik bertanya.


"engga"


"gue gak punya" kataku "ya udah beli dijalan aja, gue ambil jaket dulu" kataku sembari berjalan masuk kerumah.


"emang kita mau kemana?" tanya Riko.


"tongkrongan Matador" jawabku tanpa menoleh.


"itu baru temen gue!" seru Riko. Kuambil jaket lalu memakainya. Kuambil juga kopel besi lalu memakainya. Tidak ada yang boleh mengganggu Anzar dan temannya.


"siap Zar?" tanya Riko yang melihatku keluar dari rumah.


"gaada strategi, kita bantai!" kataku.

__ADS_1


"anjayy so dramatis lu!"


"ha ha ha"


Motor melaju dengan cepat membawa kami sampai ke dekat tongkrongan Matador. Riko meminggirkan motor dan memarkirkannya ditempat yang aman.


"gue tanya sekali lagi, lu siap?" kata Riko.


"bukannya kita harus menikmati rasa takut Rik?" tanyaku. Riko menoleh pada tongkrongan Matador yang cukup dekat.


"gue gak nikmatin rasa takut, gue makan rasa takut itu" jawab Riko dengan muka geram, membuatku tersenyum karena keberaniannya. kemudian aku menarik kopel dari pinggangku.


"Gue maju duluan" kataku langsung berlari ke arah anak-anak Matador.


"ANZAR GILAAAA!" teriak Riko menyusul.


"MAJU SINI ANAK-ANAK ANJING!" teriakku.


Aku melayangkan kopel dengan kencang, melepaskan segala amarah yang terpendam sudah sangat lama. Aku dijalanan dan inilah aku.


Bughh


Bughh


Bughh


Riko datang dengan ganasnya masuk ke tengah kerumunan Matador. Dua pulukan telak mengenai wajah salah satu anak Matador. Riko mengepal besi tumpul yang melingkari tangan kanannya.


Bughh


Aku lengah, wajahku terkena pukulan. Dengan cepat aku bersiap dan kembaki melayangkan kopel. Beberapa kali pukulan tidak menemui sasaran. Aku semakin mendekat.


Bughh


Satu wajah terkena kopelku.


Bughh


Bughh

__ADS_1


Tanganku ikut andil memukul lawan yang berada di dekatku.


"ANJINGGG!!" teriak Tiar dari belakang.


Bughh


Satu tendangan mengenai perutku. Aku terpental tapi dengan cepat aku maju melayangkan kopel.


Bughhh


Banjir darah terlihat dari dahi Tiar yang langsung tersungkur ke tanah. Aku bernafsu, kulemparkan kopel ke segala arah dan kudatangi Tiar.


Bughh


Bughh


Bughh


Tiga pukulan telak membuat wajah Tiar semakin habis.


Bughh


Satu pukulan dari belakang tidak bisa ku redam, membuatku jatuh tersungkur ke tanah. Ah, aku merasakan takut itu, merasuk pada pikiranku. Aku akan habis disini.


Bughh


Bughh


Bughh


Entah berapa kepalan tangan juga injakan-injakan melayang ke tubuhku. Aku semakin takut, aku tidak bisa menikmati ini. Ini terlalu sakit.


"ANJINGGG!!" teriak Riko memecahkan kerumunan dengan bengisnya. Ini harinya, Riko sedang dirasuki Dewa perang.


"Bangun payah!" teriaknya padaku.


Aku segera bangun, mengikuti Riko masuk dan membabi buta di kerumunan Matador. Suara sirine polisi terdengar. Aku menarik Riko yang sedang dikuasai amarahnya untuk kabur dari sini.


"GUE BAKAL DATENG LAGI ANJING!" teriak Riko sembari berlari kabur. Kita berlari ke arah motor dan segera menaikinya. Kemudian motor melaju dengan cepat menyelamatkan kita berdua dari polisi.

__ADS_1


__ADS_2