Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Rencana Anzar


__ADS_3

aku berjalan bersama Riko, sembari terus memikirkan motorku yang aku takutkan akan menjadi incaran kemarahan anak-anak PM


tetapi aku juga tidak mau kesana untuk melindungin motorku, yang ada malah aku yang menjadi bulan-bulanan mereka.


"Rik motor gue gak bakal di ancurin kan?" tanyaku pada Riko dengan perasaan penuh kehawatiran.


"gak bakal, tenang aja kalo diancurin kita lapor polisi" jawabnya dengan tenang sembari terus berjalan menuju ke kelas kami.


"kak Anzar!" kata seorang perempuan dengan suara yang aku kenal, lekas aku berhenti berjalan yang kemudian aku menoleh ke belakang. "baru dateng yahh?" tanya Nadia dengan ekspresi marah yang dibuat-buatnya.


"iya nad, kenapa? lu rindu sama gue?" kataku mendekati Nadia yang memamerkan wajah lucu yang dimarah-marahkan.


"ihhh kak Anzar mah geer" senyumku mengembang dan mata yang terus tertuju pada Nadia tanpa berniat untuk memalingkannya. "kak, nanti malem ke rumah Nadia yah, ada yang mau kenalan" lanjutnya penuh dengan teka-teki.


"siapa?" tanyaku yang tidak tahu apa maksud Nadia.


"pokonya malem ke rumah Nadia aja" katanya dengan penuh penekanan.


"iya lah terserah lu, gue mau ke kelas dulu yah" kataku sembari lekas berjalan.


"semangat kak" aku berhenti berjalan lalu lekas menoleh pada Nadia yang sedang menampilkan senyum manisnya.


"siap bos" kataku sekilas dan langsung melanjutkan berjalan dengan cepat menuju ke kelas.


sampai di kelas aku mendapati pengehuni kelas yang sedang leha-leha dikarenakan pelajaran pertama telah selesai, mereka ada yang tidur, ada yang bermain gitar, bermain game, bahkan ada juga yang pacaran.


"Reno! sini lu keluar" kata Riko dengan nada penuh ancaman.


"kenapa Rik?" saut Reno dengan wajahnya yang sudah terlihat tegang.


"gue bilang sini keluar!" teriak Riko menunjukan kemarahannya.


"i...iya Rik" Reno lekas berjalan mendekati aku dan Riko yang sedang berada di depan pintu.


"santai Rik, dia masih temen kita" kataku mencoba menenangkan Riko agar dia tidak gegabah.


"santai aja, gue mah biar keliatan galak aja" jawabnya menahan tawa.


"si *** emang" kataku memaki kelakuan Riko yang super gila ini, Riko menarik Reno untuk sedikit menjauh dari pintu kelas.

__ADS_1


"ko lu jadi temen anjing banget si?" kata Riko memegang baju Reno dengan kasar dan menunjukan wajah marahnya.


"kenapa Rik? gue gak tau apa-apa" jawab Reno yang sudah ketakutan.


"Kita berdua tadi di keroyok PM di depan dan elu gak ngomong apa-apa kalo PM mau ngelakuin itu, lu mau gue apain?" kataku dengan gaya tengil.


"sorry Zar sorry, gue gak maksud biarin PM nyerang elu, gue diancem sama Raka, gue takut gue jadi incaran Zar" kata Reno dengan wajah memelasnya, Riko segera melepaskan cengkraman dari Reno dengan kasar.


"Sialan si Raka!" Maki Riko dengan amarahnya. "kita harus bales perbuatan si banci itu Zar!" lanjutnya bercakap.


"lu gak usah takut Ren, ada gue, ada Riko" kataku menenangkan Reno sekaligus kampanye untuk dia ikut bersamaku, disituasi ini kita butuh banyak orang. "kita terima undangan Gibran untuk BZ" kataku yang mengingat tentang undangan dari Gibran.


"serius lu Zar?" tanya Riko seperti tidak percaya.


"kita butuh mereka Rik, kita ancurin PM, kita buat semua tunduk di satu nama, agar tidak terjadi peperangan jalanan lagi" kataku penuh dengan emosi.


"itu berarti lu mau ngelawan semua geng Zar?" kata Riko yang mungkin terkejut mendengar ucapanku.


"ya, itu perlu" jawabku ketus dan lekas pergi dari sana untuk menenangkan diri "pulang gue tunggu di warung pak deni" kataku pada Riko.


"heh ***, di warung pak Deni ada anak-anak PM, bego!" kata Riko dengan tengilnya, membuatku menoleh dengan seyuman bodoh yang membuat wibawaku yang tadi luntur seketika.


"setan! lu mau bunuh diri?" katanya dengan wajah heran.


"heh ***! mereka pasti udah pulang, anter gue sekalian ngecek motor" kataku memaksa Riko. "lu juga Ren, ikut gak usah belajar dulu" lanjutku pada Reno.


"i..ya hayu Zar" kata Reno dengan ragu.


"ayo cepet!" kataku menarik Riko dan Reno untuk mengikutiku.


"semprul emang lu!" kita bertiga berjalan berniat meninggalkan sekolah tercinta ini, untuk sejenak bersantai dengan asap dan kopi yang ada di warung pak deni, hingga sampailah kita tepat di gerbang sekolah.


"lu cek gih" kataku menyuruh Riko.


"lu yang ngajak" jawabnya ketus.


"tai lu!" kataku sembari berjalan untuk sekedar memantau keadaan diluar. "aman cuy, lets go" kataku melambaikan tangan sebagai kode untuk bergerak.


"anjirrr, motor gue aman" kataku berbicara sendiri, sekilas mengelus mitorku itu lalu lanjut berjalan kedalam warung pak Deni.

__ADS_1


"Beh! kopi good day tiga, sampoerna mild sebungkus" kataku pada pak Deni yang sedang memainkan ponsel.


"ohh siap Zar!" pak deni lekas bangkit dari duduknya itu "tadi pagi ada yang ribut disini Zar" itu gue beh batinku.


"yang bener Beh? siapa?" tanyaku pura-pura tidak tahu dengan kejadian tadi pagi yang aku alami.


"gak tau, bukan murid sini, gua lagi di dalem Rumah pas kejadiannya, lagi sholat" katanya sembari menyeduh kopi pesananku.


"lain kali usir beh, bikin resah yang kaya gitu mah" kataku seperti yang paling benar, dasar penjilat kelas kakap.


"iya, ntar warung gua ancur"


"yaudah, kebelakang dulu ya beh"


"iya sono" lekas aku melangkahkan kaki menuju tempat paling aman, paling nyaman, paling bisa membuatku tenang. tapi langkahku seketika terhenti karena teringat sesuatu.


"ehh beh, Rokoknya dulu" pak Deni langsung mengambil satu bungkus Rokok sampoerna mild dan memberikanya padaku.


"nih"


"makasih beh" lekas aku berjalan menuju Riko dan Reno yang sudah duduk di tempat ternyamanku ini. Aku lekas membuka bungkus rokok yang tadi lalu mengambilnya sebatang dan menyalakannya "ngudud dulu bos" kataku melempar rokok ke atas meja.


"kopinya mana pak?" tanya Riko sembari mengambil bungkus rokok yang kemudian melipkan sebatang rokok itu di mulutnya.


"sedang diproses" aku duduk di kursi kosong yang ada di sana sembari menikmati asap rokok yang sedang aku hisap. "ngerokok Ren, jangan canggung gitu lu, tenang aja" lanjutku ditujukan pada Reno.


"siap bos, mumpung gratis" katanya mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya.


"ha ha ha anjing lu, tadi aja kaya ***** kedinginan lu" kata Riko mengejek Reno yang berubah drastis.


"gue cuma akting tadi mah, becanda" saut Reno dengan gaya tengilnya.


"ha ha ha ngibul aja lu, ***" sambungku memperkuat ejekan Riko.


"ha ha ha siap bos, tidak saya ulangi" Reno masih dengan gaya tengil.


"kampret"-Riko


ada satu manusia yang sedang membuat kesalahan dan dia membawa orang lain dibelakangnya.

__ADS_1


aku sudah muak tentang mereka yang mengatas namakan keberanian lalu bertempur karena hal sepele, kali ini mereka hanya perlu menunggu untuk hari dimana mereka akan tau siapa Anzar yang sedang menjadi musuh mereka.


__ADS_2