
Aku menikmati semua yang ada, duduk dan melamun di temani dengan secangkir kopi bersama asap rokok yang terus mengepul dari mulutku.
"Heh bangsat" aku terkejut sehingga membuat rokok yang aku pegang terlepas.
"Aduh anjing panas bangsat!" gerutuku kesal karena terkena bara rokok yang jatuh ke pahaku. "Ngagetin aja, anak setan!" omelku pada Riko teman sekelasku.
"Ha ha ha gitu aja lebay lu" aku memutar bola mata malas meladeninya sembari terus menikmati rokok yang sedang ku pegang.
"Main PS yuk di rumah gue" Ajak Riko sembari mengambil rokok yang aku simpan di pinggir kopi good day yang tadi aku pesan.
"Lu Gak mau sekolah?" Aku juga sudah tahu, kalo riko ngajak main PS pasti dia sedang malas sekolah, sekedar basa-basi sambil memastikan saja.
"Males gue, rumah gue juga lagi gak ada orang, jadi bebas tenang aja"
"Yaudah ayo, gue juga lagi bosen, idup gini-gini aja" jawabku sembari langsung berdiri untuk pergi ke rumah Riko.
"Mati aja, susah amat" aku menarik topi yang dipakai oleh riko hingga menutupi mukanya.
"Anjing lu, ayo cepet lah" aku berjalan di ikuti oleh Riko ke tempat si keong di parkirkan.
"Motor lu mana Rik?"
"Gue gak bawa motor, tadi berangkat kesini nebeng sama si Gilang" aku menaiki motorku sembari terus bertanya pada Riko.
"Si Gilangnya kemana?"
"Tau dah, katanya ada urusan"
"Yaudah cepet naik"
"Oke siap bos" Riko mundur beberapa langkah menjauhi gue yang sudah siap menjalankan motor.
"Hiatttt" Dia menaiki si keong dengan cara melompat hingga membuatku hampir kehilangan keseimbangan.
"Tololll, kalo jatuh sakit bego" omelku pada Riko.
"Banyak bacot lu, cus berangkat!"
Ngengggggg
Riko Adrian, dia adalah sahabatku dari mulai kelas 1 SMP, hanya dia yang aku sebagai sahabat, kita saling melindungi ketika ada bahaya dan saling menertawakan bila ada diantara aku dan riko mengalami kesialan yang lucu untuk di tertawakan, berperawakan tinggi, kulit putih dan gaya mirip preman tengil.
"Beli makan dulu ke warteg, gue lapar" kata Riko.
"Bayar sendiri tapi"
"Ha ha ha gue gak punya duit"
"Emang bangsat lu" kita tertawa bersama, menikmati hilir mudik kendaran melaju sambil sesekali meneriaki orang yang kebut-kebutan.
__ADS_1
Aku berhenti di warteg menuruti permintaan Riko yang mungkin sudah menganggapku bapak nya sendiri.
"Buk, nasi, lauk nya paha ayam goreng , jangan lupa sambelnya, sekalian sama telornya deh, bungkus yah" Pesanan Riko tanpa merasa berdosa.
"Saya samain aja buk"
Kita duduk di bangku yang ada di warteg itu, aku mengeluarkan bungkus rokok dari saku celana lalu mengambil satu batang dan aku nyalakan, Riko pun melakukan hal yang sama denganku, bedanya dia mengambil rokok punyaku.
Satu menit berlalu, ketika aku dan Riko sedang bersantai dengan pikiran masing-masing, ada segerombolan orang memakai jaket merah corak hitam datang mendekat.
"Rik, ada geng topi" Geng TOPI (tongkrogan warung kopi) geng yang cukup tersohor di daerahku, mereka suka sekali malakin anak sekolah, jika tidak di beri mereka tidak segan untuk melukai.
"Pasti kena palak" jawab Riko.
"Siapin apa aja buat lawan mereka" Riko langsung mengambil garpu yang ada di atas etalase.
"Cuma ada garpu" kata Riko memperlihatkan garpu yang sedang dipegang nya padaku.
"Anggap aja itu samurai" jawabku malas meladeni tingkah konyolnya.
"Anjing lu"
Mereka mulai mendekat dan salah satu dari mereka berdiri cukup dekat dengaku.
"Anak sekolah pada bolos yahh" kata pria berperawakan tinggi kurus dan kulit kucel mirip gembel.
"Wah songong juga lu yah" Gaya tengil nya yang membuatku ingin sekali mencabik-cabik muka jelek itu.
Aku bersiap untuk melepaskan kopel dari pinggang sebagai senjata jika ada sebuah kerusuhan.
"Siniin duit lu" pria itu mendekati Riko dan aku, akan sulit jika terjadi bentrok, mereka berjumlah 6 orang dan aku tidak tahu apa yang mereka bawa.
"Emang gue bapak lu? Minta sono sama emak lu"
"Anjing!"
Buaghh
Riko mendahului menendang pria itu dengan cukup keras lalu kita sedikit mundur untuk memberi jarak, terlihat dari 6 orang geng topi ada yang membawa pisau.
"Ada yang bawa piso Zar, kita bisa mati"
"Kalo takut, lu lari aja!"
Tanpa basa-basi anak-anak geng topi itu datang mendekat dengan menyerukan nama geng nya.
"Tokrongan kopi siap tempur!" Teriak mereka.
"Maju anjing!" Aku menarik kopel yang mengikat pinggangku dan memutar-mutarnya ke arah mereka.
__ADS_1
Riko juga melakukan hal yang sama, dia memutar kopel nya dengan bringas, sangat berniat untuk memukul mereka.
"Awas kena gue anjing" teriakku pada Riko.
"Lu nya geser bego!"
Aku maju dengan terus memutar-mutar kopel, mereka cukup kewalahan menghadapi aku dan Riko tapi untuk harga diri, aku tahu mereka tidak akan mundur.
"Makan anjing!" Riko melemparkan piring ke arah lawan hingga membuat posisi lawan terpecah belah dan aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Sini anjing!"
Buaghhh
Buaghhh
Dua kepala terkena hantaman kopel yang sengaja aku pukulkan pada mereka, kepala itu mengeluarkan darah segar terkena oleh ujung kopel yang terbuat dari besi, dua orang itu mundur di tarik oleh teman nya ke belakang.
"Ingetin nama gue, Anzar maulana!"
Aku semakin membabi buta, bergerak dengan cepat mendekati mereka, mengayunkan kopel ke setiap arah, kali ini aku sangat semangat untuk menghancurkan mereka bersama reputasinya.
Aku melihat Riko sudah tidak bisa mengontrol diri, dia maju mendekati lawan sembari mengibaskan kopel nya ke setiap arah.
Buaghhh
Riko terkena tendangan yang membuatnya jatuh, melihat hal itu aku langsung mendekatinya, memutar kopel ke arah lawan untuk melindungi Riko.
"Bangun tolol" omelku pada Riko.
"Maju Zarrrr!" Teriak Riko yang sudah semakin panas.
Buaghh
Buaghh
Buaghh
Lawan kami mundur beberapa langkah, tiga pukulan telak terkena pada salah satu dari mereka, kita terus maju mencoba untuk mengenai mereka. Warga tidak ada yang berani untuk menghentikan pertarungan ini, mereka malah lari dan ada juga yang menjadi penonton.
"Sini banci!" Teriak Riko mengejar mereka.
"Rik ayo kabur rik!" Aku membalikan arah, menuju motor yang aku parkir di depan warteg dan cepat-cepat menaiki nya.
"Makanan nya Zar"
"Anjinggg! Udah nanti di tempat lain aja"
Riko dengan cepat naik ke motorku, aku melajukan motor menuju rumah Riko dengan cepat, berharap geng topi tidak mengejar.
__ADS_1