Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Lebih jauh mengenal Nadiaku


__ADS_3

Aku duduk diam dengan perasaan yang sangat senang, apalagi yang harus aku lakukan bersama Nadia? semua terasa sangat indah, hanya dengan dia ada dekatku.


Aku mengambil bungkus rokok dari celanaku, mengambilnya satu batang dan menaruh bungkus rokok itu diatas meja yang ada disana, perlahan aku menyalakan rokok yang sudah aku selipkan dimulutku, kemudian menghisap asapnya masuk berkunjung keparu-paru yang aku miliki.


"Heh! bengong aja lu" kata seorang laki-laki tidak lain dia adalah Gibran yang kemudian duduk dikursi disampingku yang hanya terhalang oleh meja kecil.


"ehh ada abang gue nih" sautku sok akrab dengan abangnya Nadia ini.


"ha ha ha bisa aja lu" jawabnya sembari mengambil satu batang rokok dari bungkusnya yang aku taruh dimeja tadi, tanpa izin, kemudian dia menyalakan rokok itu.


"gue gak nyangka, ternyata lu abangnya Nadia" kataku tanpa menoleh ke arah Gibran.


"gue juga gak nyangka, elu kenal sama adek gue" sautnya juga tanpa menoleh kearahku, ia hanya menikmati setiap hisapan asap rokok dengan tenang.


"soal undangan lu..."


"jangan dipikirin, gue gak maksa lu buat gabung, lu juga jangan gak enakan sama gue cuma karena lu deket sama Nadia" potongnya cepat.


"bukan itu Bran..."


"Zar, gue tau elu itu, dari temen-temen gue, nama elu sama Riko mulai naik setelah insiden TOPI, dilanjut duel elu sama Tiar, dan baru-baru ini gue juga denger kabar, elu berdua sama Riko berani lawan PM dengan jumlah yang cukup banyak, gue emang butuh orang kayak lu ada BZ, tapi gue gak mau ngebebanin elu, lu cukup jagain adek gue aja" potongnya kembali panjang lebar menjelaskan.


"Bran, gue mau gabung sama BZ!" Gibran diam tidak menjawab perkataanku "gue sama Riko diburu, dan gue gak mungkin lawan satu geng sendirian, gue gak mau buat temen gue dalam bahaya gara-gara gue, gue seneng kalo lu nerima gue sama Riko" kataku membeberkan semua kehawatiran pada Gibran.


"lu yakin dengan ucapan lu itu?" tanya Gibran memastikan.


"gue yakin, gue mau nundukin musuh-musuh gue disatu nama!" jawabku berapi-api.


"hm... gue pengen liat langsung gimana ganasnya Anzar" katanya dengan santai. "nanti malam kita serang PM!" lanjutnya.


"nyerang gitu aja?" tanyaku bingung, apa karena gue bwru gabung ke BZ, terus Gibran langsung inisiatif menyerang PM? segila itukah BZ?


"gue ada masalah sama PM, dua orang anak BZ katanya tadi dipalakin sama PM, terus digebukin sampe mukanya bonyok-bonyok, untung aja mereka masih bisa kabur" jawabnya dingin dengan penuh kemarahan didalamnya, aku hanya diam dengan gairah yang mulai naik untuk menghancurkan PM "lu bakal jadi kejutan buat mereka" lanjut Gibran.


"kopi datang!" suara yang aku rindukan, suara indah yang selalu bisa membuatku tenang. Nadia datang dengan membawa dua gelas kopi yang tadi aku minta. Tunggu dulu, dua gelas? oh iya, mungkin Gibran juga memintanya pada Nadia.

__ADS_1


"lama banget si!" kataku menggapai kopi yang dibawa Nadia.


"masih mending dibikinin!" sautnya "yah gak ada tempat duduk buat Nadia" lanjutnya dengan ekspresi kecewa.


"ya udah didalem aja sana!" balas Gibran.


"iya deh, ayo kak!" kata Nadia padaku.


"iya ayo" jawabku sembari bangkit dan membawa segelas kopi yang tadi aku tarus diatas meja "lu gak kedalem?" tanyaku pada Gibran yang masih duduk.


"sana duluan aja"


"ya udah gue kedalem yah" Gibran hanya mengangguk, aku berjalan berniat untuk masuk kedalam rumah Nadia.


"didalem gak boleh ngerokok!" kata Nadia menghalangi jalanku. "buang dulu rokoknya!" lanjutnya mengambil rokok yang masih menyala dari tanganku dan melemparkannya ke sembarang tempat.


"yahh sayang itu" sautku menyayangkan rokok yang masih panjang, dibuang oleh Nadia begitu saja.


"sayangnya buat Nadia aja!" sontak suara Gibran seperti orang yang mau muntah terdengar jelas olehku.


"apa sih bang? iri yah? makanya cari pacar!" omel Nadia pada Gibran "ayo kak" lanjut Nadia menarik tanganku.


"ibu kamu mana?" tanyaku memulai percakapan.


"didapur, lagi nyuci piring" jawab Nadia cepat.


"kamu gak bantuin?"


"tempatnya sempit, jadi sama ibu aja"


"alesan aja lu"


"beneran tauuu!"


aku meminum kopiku, menyeruputnya dengan perlahan, menikmati setiap tetes manis dikopi itu.

__ADS_1


"kak Anzar mau pulang kapan?" tanya Nadia kembali.


"mau nginep disini boleh gak? nanti tidurnya bareng kamu" Nadia membelalak dengan mata bulatnya terkejut mendengar ucapanku.


"ihhh gak mau" sautnya kesal "kak Anzar mah pikirannya mesum aja ih" lanjutnya dengan suara pelan. Aku mendekatkan wajahku memburu wajah Nadia yang pipinya mulai memerah, kini wajahku sudah sangat dekat dengan wajah Nadia, Nadua terlihat sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan, dia memejamkan matanya dan terlihat jelas dia sedang tegang saat ini.


"kenapa merem?" kataku sedikit menjauhkan wajahku darinya, sedikit-sedikit dia membuka kedua matanya.


"enggak" jawabnya memalingkan pandangannya dariku.


"pengen yahhh?" tanyaku memggoda Nadia yang sedang salah tingkah.


"ihhh kak Anzar gak boleh gitu lagi ah" saut Nadia dengan marah yang dibuat-buat, membuat senyumku mengembang. Aku tidak tahan untuk mencubit pipinya itu. "sakit" suaranya halus, menampakan wajah cemberut yang membuatku gemas. Aku melepaskan pipi lembut yang sedang bersemu itu.


"ekhem" suara Gibran dari luar, lekas masuk kedalam rumah. "ibu dimana Nad?" tanya Gibran.


"didapur kak" setelah mendengar itu Gibran berjalan cepat ke dapur tanpa berkata apa-apa lagi, tak lama Gibran datang lagi.


"abang pulang dulu yah Nad" kata Gibran hah? bukannya ini rumah Gibran? tapi kok dia bilang mau pulang batibku yang bingung dengan ucapannya.


"iya kak, hati-hati" jawab Nadia lembut.


"iya" jawabnya cepat "gue duluan Zar" lanjut Gibran menyodorkan tangannya padaku untuk bersalaman.


"siap bang" jawabku ramah.


Gibran mulai meninggal rumah ini dengan tandan motornya sudah menyala, dan suaranya terdengar mulai menjauh, menimbulkan pertanyaan besar bagiku.


"Nad, Gibran pulang kemana? kan ini rumahnya" tanyaku yang bingung dengan kejadian barusan.


"hm... kak Gibran tinggal sama ayah, ibu sama sama ayah udah pisah pas Nadia kelas 1 SMP, Nadia ikut ke ibu, sedangkan bang Gibran ikut sama ayah, tapi kita masih berhubungan baik sampe sekarang juga" jawab Nadia dengan senyum menyembunyikan kesedihannya. Aku sangat terkejut dengan cerita Nadia, dibalik keceriannya ternyata dia menyimpan sakit yang sangat.


"maaf Nad, gue gak maksud..."


"enggak kak Anzar! Nadia gak apa-apa, kan ada kak Anzar" potong Nadia dengan senyum manisnya itu.

__ADS_1


"dih bisa aja ni bocah" sautku mencubit pipi Nadia, ia hanya tersenyum sembari menyenderkan kepalanya kepundakku. Saat itu aku hanya berharap ibu Nadia tidak melihat ini.


Manusia memang sangat hebat, dia tersenyum, dia terlihat bahagia dan baik-baik saja, tanpa ada yang tahu, ternyata dia sedang merasakan sakit dan beban yang sangat berat.


__ADS_2