Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Melarikan Diri


__ADS_3

Motor melaju dengan cepat, tegang, takut aku rasakan. Aku menengok kebelakang tidak ada polisi yang mengejar, melainkan Riko yang mengikutiku. Setelah kurasa aman, aku memberi kode dengan melambaikan tangan pada Riko untuk menepi. Motorpun disebuah warung kopi dipinggir jalan.


"disini dulu Rik!" kataku sembari turun dari motor. Riko pun hal yang sama denganku, duduk dibangku yang ada di warung itu."pak, kopi good day dua!" lanjutku berbicara pada bapak pemilik warung sembari mengeluarkan bungkus rokok dari saku celanaku.


"polisi gak bakal kesini kan?" tanya Riko dengan raut ketegangan. Aku menyalakan rokok yang tadi aku keluarkan dan menyimpan bungkusnya diatas meja yang ada didepanku.


"Tenang aja. Yang penting keliatan santai, biar gak ada yang curiga" sautku sembari mengeluarkan asap putih dari mulut ini. Riko hanya diam, selanjutnya dia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. "Rik, gue kan ada perlu sama teh Ineu" lanjutku.


"terus lu mau balik lagi kesana?" tanya Riko.


"ya gimana lagi?" kataku balik bertanya.


"gue ada nomer HP nya, tinggal telpon aja" aku terkejut dengan hal itu, untuk apa Riko menyimpan nomor teh Ineu? Pertanyaan itu aku urungkan, biarlah itu urusannya.


"ya udah sini pinjem HP lu" Riko mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu memberikannya padaku. "nama kontaknya apa?" lanjutku.


"teh ineu" kemudian aku mencari kontaknya, lalu lekas menelponnya.


"*hallo teteh sayang"


"apaan semprul!"


"ini bang Anzar, sayang"


"iya kenapa?"


"besok bisa ke sekolah Abang gak?"


"mau ngapain?"


"orangtua Anzar dipanggil teh, teh ineu nanti pura-pura jadi emak Anzar bisa gak? bisalah pasti!"


"ih gak mau lah gak bisa!"


"ayo dong sayang!"


"pake sayang-sayang lagi abang ah"


"ntar dikasih duit deh"


"berapa?"


"dua rebu"


"tambahin dong bang!"


"nanti abang nginep deh dirumah kamu"


"ih semprul, nikahin dulu dong bang!"

__ADS_1


"iya, tapi besok kesekolah yah"


"mau dijemput"


"nanti Riko yang jemput"


"mau sama abang"


"sama Riko aja"


"ah abanggg!"


"apa sayang"


"mau sama abang"


"yaudah nanti abang jemput deh, kasih alamatnya aja"


"jam berapa?"


"jam 8"


"nanti anterin ke warung tapi"


"siap sayang!"


"semprul!"


"iya, teteh tunguin"


"yaudah, selamat tidur sayang"


"iya abangku*"


anjir ngaceng dong! gerutu batinku. Tak lama ponsel berbunyi menandakan ada pesan masuk. Aku segera membukanya, kudapati pesan itu berisi alamat rumah teh Ineu. Setelah mengetahuinya, aku memberikan ponsel yang aku pinjam ini pada pemiliknya, Riko.


"nih Rik" Riko mengambil ponselnya dari tanganku. "besok lu bisa jemput teh Ineu gak?" tanyaku, karena aku malas bolak balik menjemput Nadia kemudian teh Ineu.


"kagak" jawabnya ketus.


"ayolah, sekalian berangkat sekolah" rayuku sembari lekas meminum kopi.


"gue mau bawa cewek gue"


Sruutttt


tawaku sembari menyemburkan kopi yang sudah masuk ke mulut.


"uhuk uhuk" aku terbatuk akibat tawa yang tertahan oleh kopi, membuat kopi itu keluar melalui lubang hidung. Mataku mulai memerah karena itu.

__ADS_1


"napa lu? bego!" omel Riko sembari memijit leher belakangku.


"anjing lu!" rintihku.


"salah gue apa?" tanya Riko heran.


"kalo ngehayal itu jangan tinggi-tinggi, Rik" ejekku pada Riko.


"maksud lu apa bangasatt?!" tanya Riko yang masih belum sadar.


"emang lu laku? gaya-gayaan lu bawa cewek" ejekku kembali.


"anjing! ngeledek aja bisanya lu!" saut Riko heboh menarik kepalaku yang dia tempatkan diketeknya yang bau.


"anjing! ampun Rik, ampunnn!" Rintihku berusaha melepaskan diri dari dekapan Riko. Riko melepaskanku dengan kasar sembari tertawanya yang menjadi-jadi.


"mau lagi gak?" tanya Riko meledekku.


"Najis!" jawabku jijik. "roko gue mana Rik?" tanyaku baru sadar roko yang sedang aku pegang tadi hilang.


"gak tau lah!" jawab Riko sembari meminum kopinya.


"itu Rik!" kataku dengan heboh menunjuk ke arah benda pusaka Riko.


"anjing!" Riko terkejut sembari memukul-mukul bara api yang semakin membesar dicelananya. "bantuin Zar!" mendengar itu aku mencari sesuatu yang bisa memadamkan bara api yang terus menyala.


byurrrr


satu gelas kopi aku tumpahkan ke area kenjantanan Riko, hingga bara itu pada seketika.


"AHHHH!"


"apinya padam Rik" kataku setengah terkejut "untung aja gue sigap ha ha ha" lanjut tawaku membeledak.


"gak pake kopi juga bego!" omel Riko.


"daripada sosis lu hangus! ha ha ha"


"anjing! baru kali ini gue liat sosis dikasih kopi"


"HA HA HA" tawaku semakin menjadi, terbahak-bahak hingga perutku sakit.


"anjing emang lu Zar" gerutu Riko.


"kenapa? lengket yah? ha ha ha" Aku tidak berhenti tertawa mengingat kejadian itu.


"untung aja kopinya udah gak panas" kata Riko.


"HA HA HA Kalo panas lu pasti kejang-kejang Rik!"

__ADS_1


"bisik lu!" gerutunya sembari membawa satu botol air meniral, kemudian dia menyiramkan air itu pada tempat yang tadi aku siram kopi. "biar gak lengket tititnya" lanjut Riko.


"HA HA HA emang bego lu!"


__ADS_2