
"Anzar, Riko, bangun sholat shubuh!" Malam tadi tidak begitu panjang, aku dan Riko hanya menikmati malam dengan kopi dan asap rokok lalu berpindah tempat dari rumah Riko ke rumahku.
"5 menit lagi mahh" jawabku merengek lalu menyembunyikan kepala dibalik bantal.
"10 menit deh biar agak lama" sambung Riko melakukan hal sama denganku.
"mau mama siram pake air yang udah ada es batunya?" teriak ibuku mengancam aku dan Riko.
"enggak bu, Riko bangun, Anzar aja yang disiram" jawab Riko yang sudah bangkit dari tidurnya.
"wah penghianat lu" sautku menimpa tubuh Riko dengan bantal dan menahannya.
"udah-udah, ayo cepet wudhu" kata ibuku yang sudah kesal.
"iya maaa" aku dan Riko menyudahi perkelahian dan bergegas untuk berwudhu, setelah itu kita kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat.
"gue jadi imam" kata Riko dengan tengilnya.
"gue lah, gue lebih tua!" sautku tak mau kalah.
"yang tua harusnya ngalah!" jawab Riko yang juga tidak mau kalah.
"heh, bocah harus hormat sama orangtua!" kataku sembari menarik Riko ke belakang untuk menjadi makmum. "diem lu gak usah ngomong lagi!" ancamku.
"ya udah mulai, pake al-ikhlas aja biar cepet!" sautnya merajuk.
"iya, bawel lu!" jawabku singkat bersama dengan pikiran jail yang melintas diotak ini. Sholat pun dimulai, dengan sengaja aku memakai surah yang memliki ayat yang banyak agar memakan lebih banyak waktu dan membuat Riko kesal. Sholat pun selesai dengan perasaan kemenangan.
"bego lu, gue bilang al-ikhlas malah Al-alaq" omel Riko dengan muka kesal.
__ADS_1
"biar lebih banyak pahalanya" jawabku santai layaknya seorang ustadz.
"gue ngantuk ***!" lanjut omelnya sembari kembali berbaring dikasur dan melanjutkan tidurnya, akupun melakukan hal yang sama seperti Riko, dan kita terlelap tanpa ingat apapun.
"Anzarrr bangun! udah jam 11 masih tidur aja" teriak ibuku yang sudah jelas dia sedang didalam kamarku, aku terbangun dengan kepala pusing dan mata yang silau melihat cahaya matahari.
"apa sih ma? biasanya juga sampe jam 12" sautku yang masih terbaring di kasur yang sudah tidak ada Riko entah kemana dia.
"si Riko aja udah bangun dari jam 8, kamu tidur aja terus!" omel ibuku yang tidak biasanya. "ada Nadia tuh nyariin kamu" lanjut ibuku membuatku terkejut sekakigus bingung Nadia? ngapain dia kesini?
aku langsung bangkit dari tidurku hanya dengan celana boxer hitam dan kaos oblong putih, lalu berlari kemar mandi untuk sekedar membasuh muka dan menggosok gigi, kemudian berjalan perlahan menemui Nadia.
"lu mau ngapain kesini?" tanyaku ketus, mewakili sakit hati yang kemarin tercipta karenanya.
"ketemu sama kak Anzar" jawabnya polos, aku lekas duduk di kursi yang berbeda dengan yang diduduki oleh Nadia. Aku heran dengannya, dia malah tersenyum-senyum setelah menyakitiku.
"kak Anzar kenapa malem gak dateng ke rumah Nadia?" tanyanya dengan suara halus yang kali ini tidak membuatku tertarik.
"tadi Nadia telpon gak dijawab-jawab" lanjutnya, dari mana dia mendapatkan nomer ponselku? perasaan aku belum pernah memberikan nomorku padanya.
"dapet darimana lu nomer gue?" tanyaku masih dengan nada jutek ala Anzar.
"dari kak Riko, Nadia nanyain ke kak Feni tetangganya Nadia sekaligus temen sekelas kak Anzar, tapi dia gak punya nomor kak Anzar, terus Nadia inget kak Anzar sering bareng sama kak Riko, ya udah nanyain nomer kak Riko aja ke kak Feni, terus nanyain nomer kakak deh ke kak Riko" jawabnya dengan sangat detail.
"ohhh" jawabku malas.
"terus Nadia tahu apa alesan kak Anzar pas malem gak datang ke rumah Nadia. Kak Anzar cemburu yahh sama kak Gibran?" tanyanya menggodaku iya gue cemburu Nad, terus lu ngapain kesini? mau nambah sakit hati gue? marah batinku. "Kak Gibran itu kakak kandung Nadia ih" katanya memukul pahaku apa? kakak kandung? seketika rasa sakit hati yang kemarin, terobati hingga tak ada bekas. "kak Riko udah nyeritain semuanya, kak Anzar cemburu yahh?" goda Nadia kembali memukul pahaku, membuatku tersudut.
"apaan sih lu?" jawabku salang tingkah.
__ADS_1
"jujur aja kak Anzarrr" lanjut Nadia menyudutkanku.
"iya, gue cemburu, gue suka sama lu" kendaliku hilang, aku terbawa suasana untuk memulai semuanya, dalam pikiranku, semoga ibuku tidak mendengar ini.
"kak Anzar..."
"gue gak mau tau, lu harus jadi pacar gue" lanjutku yang sudah gila dan dibuat semakin gila oleh Nadia.
"ya udah kalo kak Anzar maksa" jawab Nadia dengan senyum malu-malu, membuat senyumku tercetak sempurna, bersama dengan rasa bahagia yang saat ini sedang menghampiriku
"bisa aja jawab lu" kataku menggoda Nadia.
"udah kak Anzar sana mandi ah" sautnya masih dengan lagak malu-malu. Aku bangkit berdiri dari posisi duduk yang sebelumnya, lalu mendekatkan mulutku ke ketelinga Nadia.
"iya sayang, aku mandi" bisikku dengan lembut gila lu zar!
"ihhhh kak Anzarrr" Rintihnya menahan senang malu-malu yang dia sembunyikan.
"ha ha ha mau ikut gak?" tanyaku dengan karakter Anzar yang normal pada Nadia.
"kemana?" Nadia balik bertanya dengan polosnya.
"ya mandi lahh" jawabku menggodanya.
"ihh kak Anzar mesummm" sautnya dengan mata melotot yang membuatnya semakin menggemaskan.
"ha ha ha ya udah, tungguin yah" refleks tanganku mencubit pipi Nadia. ya Tuhan, terimakasih telah mendatangkan Nadia, aku tarik semua perkataan burukku tentang Nadia. Dia adalah Nadia yang selalu membuatku bahagia.
"iya kak" jawabnya dengan menampilkan senyum manisnya.
__ADS_1
Ini semua terjadi begitu saja, tidak pernah aku rancang perencaan untuk bertemu denganmu sebelumnya. Tidak pernah aku mengira aku akan mencintaimu. Semua terjadi begitu cepat, rasaku tumbuh tanpa aba-aba. Entah apa yang aku cari darimu, aku hanya menerima takdir untukku mencintaimu, Nadia.