Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Sesuatu yang wajar


__ADS_3

Aku sudah berada di ruang BP duduk bersebelahan dengan teh ineu dan berhadapan dengan pak ali yang hanya dibatasi oleh meja kotak berukuran kecil.


"ini ibu kamu?" tanya pak ali dengan ekspresi yang tidak percaya.


"bukan pak, ini teteh saya"


"ohh, ibu kamu kemana?"


"ikut bapa ke singapura" bahwasan nya pak Ali mengenal ayahku tapi tidak begitu dekat. Dia hanya tau siapa ayahku seperti yang orang lain tau.


"ngapain?"


"urusan kerjaan" jawabku singkat. Pak Ali hanya menganggukan kepalanya yang kemudian mulai menatap teh ineu yang seksi.


"jadi begini bu..."


"teteh aja pak, aku masih muda kok" potong teh ineu.


"oh iya, jadi begini teh. Anzar ini murid yang cukup cerdas ketika awal dia masuk kesekolah ini. Tapi tidak tau kenapa, sekarang dia sering bikin masalah. Anzar sering bolos, ketauan merokok di jam sekolah, terus kali ini sangat tidak bisa kami diamkan, dia berkelahi dengan kakak kelasnya sampai berdarah-darah" jelas pak Ali dengan tatapan liar berkali-kali melihat kebawah.


"Saya yakin, Anzar punya alasan kenapa dia berkelahi, bukan begitu Anzar? liriknya padaku.


"saya hanya memenuhi keinginan Tiar pak. Tiar mau saya berkelahi dengannya, karena saya ini orang yang selalu ingin membahagiakan orang lain, saya penuhilah keinginan Tiar"


"tapi tidak bisa seperti itu Anzar!" saut pak Ali dengan nada ditinggikan.


"saya akan diam jika tidak ada yang mengusik saya" balasku dengan tatapan tajam.


"sudah Anzar" tegur teh Ineu "jadi bagaimana pak? maksud bapak memanggil saya ke sekolah itu apa? lanjut teh Ineu.


"saya mau Anzar tidak nakal lagi seperti yang sudah-sudah. Jika Anzar membuat lagi kasus, apapun itu, dia akan dikeluarkan dari sekolah"


"mudah bagi bapak mengeluarkan saya. Bagaimana dengan anan bapak yang pemabuk?"


"ANZAR KETERLALUAN KAMU!!!" hendak dia ingin menamparku tapi aku tahan dengan tangan kiri.


"bapak yang keterlaluan! Sewenang-wenang dengan kewenangan! Harusnya bapak liat diri sendiri sebelum manilai orang lain!" Seruku berapi-api, sudah muak aku berhadapan dengan orang-orang seperti ini. "ayo teh, gak guna ada disini" lanjutku menarik tangan teh Ineu untuk keluar dari ruang BP.


"gila lu Zar! ha ha ha" seru teh Ineu sesampainya diparkiran.


"biar mikir dia, seenaknya sama gue"


"bener apa lu bilang?"


"yaiyalah, anjing kan?"


"iya, gak mikir"


"ayolah pulang!"


Aku berniat mengantarkan teh Ineu pulang kerumahnya. Motor kulajukan pelan menyusuri jalanan ramai kendaraan.

__ADS_1


"udah makan belum?" tanyaku.


"belum"


"yaudah, kita beli makan dulu yah"


"udah masak ih dirumah"


"bisa numpang makan dong?"


"ha ha ha ya iyalah. Ehh lu ga sekolah?"


"enggalah males"


"yaudah diem aja dirumah teteh"


"buatin kopi"


"iya dibuatin"


Kita pun sampai di rumah teh Ineu. Aku sudah berada ruang makan, menunggu teh ineu menyajikan masakannya. Tak lama, makanan sudah tersusun rapi diatas diatas meja.


"istri idaman ini mah"


"bisa aja lu kerpik kentang!"


"ha ha ha"


"ha ha ha siap!"


Aku pun melahap makanan yang disediakan dengan rakus. Aku sangat lapar. Pagi tadi aku tidak sarapan karena buru-buru menjemput Nadia. Sesekali aku melirik teh ineu yang tersenyum manis melihatku menyantap masakannya.


Acara makan-makan pun usai. Teh Ineu mulai membereskan piring-piring kotor serta menyimpan kembali makanan yang masih ada. Aku lebih memilih pergi duduk di sebuah sofa yang menghadap tepat kedepan televisi. Maka aku nyalakan TV itu kemudian aku nyalakan juga rokokku.Tak lama teh Ineu datang mengahampiriku sembari membawa segelas kopi.


"nih ngopi" katanya sembari menyimpan kopi itu disebuah meja kotak kecil yang berada disamping sofa yang sedang aku duduki. "gue mau ganti baju dulu ah" lanjutnya sembari berjalan ke kamarnya.


"makasih teh, kopinya"


"iya" jawabnya tanpa menoleh.


Terdiam aku dengan segelas kopi dan acara TV yang membosankan. Sampai teh Ineu datang lagi dengan memakai celana jeans pendek sepaha dan kaos oblong kebesaran yang mencapai lututnya. Dia selalu terlihat cantik, juga ceria. Kemudian dia duduk disebelahku.


"nonton apalu?" tanyanya.


"iklan"


"ha ha ha gila lu!"


"lu juga! udah keliatan masih nanya"


"ha ha ha santai dong bang..."

__ADS_1


"udah diem, liat tuh iklan!"


"buat apa?"


"menghargai yang buat iklannya"


"emang harus?"


"banyak nanya lu!"


"ha ha ha"


Setelah itu aku terhening, begitu juga teh Ineu. Hanya ada suara TV yang terdengar. Teh ineu mulai menyenderkan kepalanya dipundakku, membuatku merasa iba padanya. Kasihan sekali dia di usianya yang masih muda, harus melewati ujian yang sangat berat.


"Zar" panggilnya lembut.


"hmm" jawabku tanpa menoleh.


"kalo cinta beda usia boleh gak sih?"


"ya bolehlah, kan cinta gak mandang usia"


"gue suka sama elu Zar" Seketika aku menoleh dengan muka melongo.


"becanda aja lu!" jawabku yang tidak percaya dengan ucapannya barusan. Teh Ineu mulai duduk tegap melihatku dengan tatapan tajam dan penuh harapan.


"Gue serius Anzar!" aku hanya bisa diam, apa aku sedang bermimpi? "gue sadar, gue ini janda. Dan elu masih sekolah. Tapi, sikap lu ke gue membuat semuanya berubah. Gue jadi punya semangat untuk terus menempa diri, untuk terus terbangun dari tidur pulas. Lu juga harus tau, setiap kali gue di warung. Gue selalu nungguin kedatangan elu Zar" jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku terkejut dengan semua ini, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.


"tapi teh, Anzar udah punya pacar. Lagi pula, Anzar nganggap teteh sudah seperti kakak sendiri, Anzar tidak punya maksud apa-apa" Teh Ineu tersenyum parau menatapku dengan sayu.


"gue tau kok lu bakal jawab kaya gitu. Tapi, biarin gue lega ngungkapin semuanya. Dan hari ini, gue mau elu sama gue" Dia menyenderkan kepalanya lagi dipundakku, membuatku semakin iba padanya. Tapi aku hanya bisa diam, masih terkejut dengan kejadian barusan. "kalo seandainya gue bukan janda. Gue yakin, lu mau sama gue" katanya tanpa menoleh. Ya, mungkin saja. Apalagi sebelum aku mengenal Nadia, aku sudah mengenal teh Ineu terlebih dahulu. Tapi aku hanya bisa diam, aku takut melukai perasaan teh Ineu jika berbicara. "lu jangan benci yah sama gue" lanjutnya.


"enggak teh, suatu hal yang wajar jika seseorang jatuh cinta. Maafin Anzar ya, teh."


"jangan canggung gitu dong lu" katanya mendongkakan kepalanya untuk melihatku.


"tapi serius, lu cantik teh" kataku spontan.


"nah ini yang buat gue baper ha ha ha"


"ko lu ketawa?"


"gue gak ngerti aja, kok gue bisa suka sama buaya yah?"


"maksud lu gue?


"siapa lagi?"


"gila lu! cium nih ketek! ha ha ha" seruku menyungsepkan wajahnya pada ketekku.


"bau Anzar!"

__ADS_1


"ha ha ha"


__ADS_2