Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
kopi malam


__ADS_3

Motor terus melaju kencang mewakili kemarahanku yang sedang menjadi-jadi. Aku tidak paham dengan Nadia, tapi ketahuilah, ini sakit Nadia!


"lu jadi ke rumah Nadia?" tanya Riko yang sudah turun dari motorku dan kali ini kita sudah sampai tepat didepan rumah Riko.


"ntar udah isya gue kesini" sautku malas menjawab pertanyaan tentang Nadia, sudah cukup tentang wanita, mereka selalu datang dan pergi seenaknya, wajah cantik dan senyum manisnya hanyalah topeng dari sifat iblisnya.


"emang sekarang lu mau kemana?" balas Riko kembali bertanya.


"banyak nanya lu, gue duluan Rik" jawabku sebisa mungkin menyembunyikan sakit yang sedang aku alami, kemudian aku pergi, melajukan motor dengan cepat menuju rumahku dengan harapan perasaan ini akan lebih baik jika aku sendiri.


sampai di rumah, aku segera turun dari motor, kemudian berjalan dengan lunglai ke teras rumah, sebentar aku membuka sepatuku lalu berjalan masuk kerumah dengan perasaan yang berantakan.


sampai dikamarku, aku membantingkan tubuh ini ke kasur, menutupi wajah ini dengan bantal, ingin sekali aku menangis tapi aku tahan, aku tidak boleh menangisi wanita sialan itu, memangnya dia siapa? seenaknya mempermainkan perasaanku.


aku tertidur, sejenak melupakan sakit yang terus menyerang, aku sangat lelah kali ini, aku sangat kecewa dengan Nadia, dia sangat kejam, dia persis seperti musuh-musuhku yang harus aku hancurkan.


"Anzarrr! bangun udah sore!" teriak ibuku sangat dekat ditelinga ini hingga membuatku terbangun dengan cepat.


"ahh ganggu muluuu" rajukku kembali menyembunyikan wajah ini dibalik bantal.


"udah mau maghrib Anzar!" ibuku kembali berteriak dibarengi dengan pukulannya yang telak mengenai bokongku.


"aduhh" rintihku mengusap-usap bokongku ini "iya ma, bangun nih" kataku yang tidak mau bokongku terus menjadi sasarannya.


"cepet mandi, terus sholat maghrib!" kata ibuku menarik tanganku dengan kuat hingga tubuh ini berhasil beranjak dari kasur. "sholat ashar juga dilewat kamu ini" omelnya.


"kan gak inget ma, Anzar ketiduran tadi" jawabku membela diri.


"alesan aja kamu! cepet mandi sana" kata ibuku yang tidak pernah mau kalah saat berdebat denganku.


"iya ma" jawabku singkat lalu menjalankan semua yang tadi diperintahkan oleh ibuku.


......


"ma, Anzar mau main yah" pamitku pada ibuku yang sedang duduk santai sembari menonton televisi.


"malam minggu mau ke rumah Nadia yah?" tanya ibuku sangat menyayat hati ini, aku tidak mau menambah sakit dengan menemuinya malam ini, meskipun dia mengundangku, tapi dia punya orang lain yang harus aku hargai posisinya.

__ADS_1


"mau ke rumah Riko ma, Anzar berangkat yah" jawabku sembari mencium punggung tangan ibuku "assalamualaikum" lanjutku bergegas keluar dari rumah sembari menenteng jaket parka nuansa army loreng abu-hitam.


"waalaikumsalam" jawab ibuku singkat.


aku sudah berada di teras rumah, memasangkan sepatu seneakerku dengan tekun, setelah itu aku mengenakan jaketku mengahalagi kaos berwarna abu-abu yang aku pakai berpasangan dengan celana jeans hitam yang aku sukai.


aku menaiki motorku dengan gagah, menjalankannya dengan pelan, menikmati udara malam yang dingin tanpa pelukan dari Nadia. Ya, Aku merindukannya, tapi dia bukan miliku.


tok tok tok


"Asslamualaikum" sapaku yang sudah ada didepan pintu rumah Riko yang tertutup.


"waalaikumsalam" jawab seorang laki-laki didalam sana yang kemudian membuka pintu "ehh Anzar, kirian siapa" lanjut pria bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal dia adalah ayah Riko, aku lekas bersalaman dan mencium punggung tangannya itu.


"Rikonya ada pak?" tanyaku pada ayah Riko.


"ada, ayo masuk dulu Zar" ajaknya mempersilahkan masuk padaku.


"enggak pak, disini aja, mau langsung" jawabku sembari duduk dikursi yang ada diteras rumah Riko.


"ya udah, bapak panggilin dulu si Rikonya" katanya sembari masuk kedalam rumah tanpa menutupkan pintu. Tak lama Riko datang dengan sweeter abu-abu dan celana jeans hitamnya ditambah dengan sepatu seneakers hitamnya.


"warung teh Ineu, gue kan udah bilang mau teh Ineu buat besok jadi wali gue" jawabku mengingatkan ucapanku tadi siang.


"kan besok minggu bego" sautnya cepat, menyadarkanku yang sudah termakan oleh kata-kata sendiri pada Ali.


"iya yah, pas gue ke BP gue bilang mau bawa orangtua besok, tapi pak Ali iya-iya aja" jawabku bingun dengan diriku sendiri.


"lu berdua sama begonya si ha ha ha" kata Riko mengejek kebodohanku.


"tai lu! kita ngopi aja disana lah" kataku yang sudah tidak bisa fokus karena pikiranku terus dipenuhi oleh Nadia.


"lu lupa juga?, tadi siang kita bentrok sama anak PM bego! kalo kita kesana, abis kita" sautnya dengan penuh penekanan.


"anjing! kok pikiran gue nge-blank gini ya?" tanyaku entah bertanya pada siapa.


"lu gak kerumah Nadia?" tanya Riko seperti iba dengan apa yang sedang aku alami.

__ADS_1


"buat apa?" sautku balik bertanya.


"minta penjelasan atau apa kek" jawabnya seakan-akan memberikan solusi padaku.


"dia bukan siapa-siapa gue Rik" jawabku malas membahas tentang wanita itu.


"terus tentang elu yang mau nerima undangan dari Gibran gimana?" tanyanya kembali dengan serius.


"gue gak tau" jawabku singkat.


"apa perlu kita buat geng baru? gue yakin, bakal banyak orang yang mau gabung" kata Riko sembari mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya.


"jangan bahas itu dulu Rik, gue pusing" Riko menyalakan rokoknya bersamaan dengan aku mengambil bungkus roko yang Riko simpan diatas meja lalu mengambil satu batang dan menyalakanya.


"lu mau kopi gak?" tanya Riko mengakihkan pembicaraan. gue mau Nadia Rik, seandainya lu denger suara hati gue.


"iya lah, lu bikin sono" sautku menampilkan sifat Anzar yang seperti biasanya.


"siap bos!" kata Riko sembari bangkit dari duduknya lalu berjalan kedalam rumah untuk membuat kopi.


gue tahu lu hawatir Rik, tentang bagaimana sekarang posisi kita, gue sadar kita dalam bahaya tapi gue malah larut dalam masalah wanita yang sangat membingungkan. Kita sedang diburu dan gue bingung tidak bisa berbuat apa-apa. Lu dalam bahaya Rik, dan semua itu karena gue, karena nama Anzar.


"bengong aja lu!" suara Riko mengejutkanku, dia sudah duduk disebelahku yang hanya dipisahkan oleh meja kecil yang diatasnya sudah ada dua gelas kopi good day dan satu bungkus rokok sampoerna mild milik Riko.


"kita terima undangan Gibran" dengan spontan aku mengatakan itu pada Riko.


"lu serius?" tanya Riko seperti tidak yakin dengan keputusanku.


"kita gak bisa sendirian Rik, kita butuh koloni" jawabku serius.


"tapi..."


"gak ada tapi-tapian, kita sedang diburu" kataku memotong ucapan Riko yang belum sempat dikeluarkan.


"terserah elu lah Zar, sing penting ngopi" kata Riko menyeruput kopinya itu.


"ha ha ha siap bos" sautku melakukan hal yang sama dengan Riko.

__ADS_1


Aku mungkin selalu salah memilih orang untuk aku cintai. Tapi aku beruntung, aku punya Riko yang siap mendominasi jalanan.


__ADS_2