Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Kang mie ayam


__ADS_3

Siang, sebentar lagi akan menjadi sore. Aku sudah berada didepan gerbang sekolah, tanpa berniat untuk turun dari motorku. Menyaksikan siswa-siswa yang berhambur untuk pulang. Tidak sedikit orang yang menyapaku hingga pipiku terasa pegal karena terus mencetak senyumnya. Yang kutunggu kemudian datang, Nadiaku. Dia datang dengan riang dan terus menampilkan senyum manis yang diperuntukkan padaku.


"sudah beres sekolahnya?" tanyaku, membalas senyum Nadia.


"sudah. Kak Anzar gak sekolah yah?"


"enggak"


"nakal!"


"udah, ayo naik!" Tanpa bicara lagi, kemudian Nadia naik ke motorku, duduk dibelakang dengan tangan yang belum melingkar ditubuhku. "gak dipeluk?" tanyaku.


"ihh, masih didepan sekolah!"


"ha ha ha"


Motor melaju pelan, roda terus berputar meninggalkan sekolah tercinta. Seiring sore datang, dingin mulai tercipta. Tanpa meminta izin, tangan Nadia mulai melingkar ditubuhku. Dipeluknya tubuh ini sampai menjadikan dingin bukan lagi penghalang untuk terus berjalan.


"pengen jajan" rengek Nadia.


"gak mau langsung pulang?"


"pengen main dulu"


"sun dulu dong!" godaku, sembari mendekatkan pipiku pada Nadia.


"gak mau!"


"ha ha ha"


Aku berpikir untuk menuruti permintaan Nadia, Kulajukan motor tanpa mau memberi tahu dimana motor ini akan berhenti. Nadia juga tidak bertanya. Aku tidak tahu, dia bersembunyi dibalik punggungku, mungkin dia tidur.


Sampai aku merasa perlu untuk menghentikan laju motor. Aku sudah sampai ditempat yang sedari tadi aku pikirkan. Sebuah taman dipinggir waduk yang cukup luas. Tidak banyak orang, mungkin karena bukan hari libur.


"Nad" panggilku, Nadia tidak bersuara, bergerak juga tidak "Nadia!" Nadia terkejut dengan hal itu sampai hampir saja dia terjatuh dari motorku. "kamu tidur?" tanyaku.


"iya, hehe"


"kalo ngantuk bilang! kan bisa pulang"


"gak mau" rengeknya. "ini udah sampai?" tanya Nadia yang baru menyadari.


"iya, katanya pengen jajan?"

__ADS_1


"iya pengennn" rengeknya lagi. Gadis yang sangat manja. Kemudian dia turun dari motorku dan aku pun melakukan hal yang sama.


"beli mie ayam yuk!" serunya, sembari menarik tanganku. Aku tidak berontak, aku ingin menuruti kemauan nya saja. Nadia membawaku ke warung mie ayam yang lebih mirip kedai "kang, mie ayam dua mangkok yah" lanjutnya memesan.


"kak Anzar kenapa gak sekolah?" tanya Nadia lagi, seolah dia tidak bisa berhenti berbicara.


"males"


"males aja kak Anzar mah"


"aku gak suka sekolah"


"terus sukanya apa?"


"kamu"


"ihhh" pipi Nadia merona dan tangannya mencubit pelan pahaku. Aku hanya tersenyum karena ucapanku yang tidak terpikirkan juga sebelumnya.


Dua mangkuk mie ayam pun sudah dihidangkan diatas meja kotak didepanku. Tanpa banyak bicara, aku dan Nadia melahap mie ayam yang sudah disajikan sampa habis.


Selesai menghabiskan makanan.


"ke sana yuk" ajak Nadia.


"hmm" jawabku yang masih menenggak air minum.


"woyyy! bayar dulu!" teriak kang mie ayam. Aku menoleh dengan perasaan malu dan ekspresi nyengir seperti kuda.


"ehh iya lupa kang!" balasku. "kamu si!" omelku pada Nadia. Nadia tidak menjawab, dua membuang mukanya yang samar terlihat senyum tertahan dibibirnya.


"Maen kabur aja lu!" omel kang mie ayam.


"lupa kang" jawabku masih malu-malu "berapa?"


"40 rebu"


"nih kang, makasih yah" aku lekas pergi menarik tangan Nadia dengan sedikit tenaga.


"dimarahin kang mie ayam yah?" ledeknya.


"diem lu!"


"ha ha ha" Kemudian aku dan Nadia duduk dikursi terbuat dari potongan bambu yang terletak ditaman. Aku dan Nadia hening. Tanpa bicara, hanya duduk bersebelahan.

__ADS_1


"kak Anzar" panggil Nadia lembut.


"apa?"


"Nadia gak mau yah, kalo kak Anzar deket sama cewek lain"


"kalo lagi ngantri gimana?"


"ihh bukan itu maksudnya!"


"iya Nadia" Sautku lembut sembari mengusap pucuk kepalanya. Kemudian tersenyum, manis sekali. Lalu dia memalingkan wajahnya dariku.


"Nadia gak nyangka, bisa jadi pacar kak Anzar" katanya tanpa menoleh ke arahku. "Awalnya, Nadia pengen punya yang rajin, aktif di eskul juga seragamnya selalu rapi" Kemudian dia menoleh kearahku, lalu tersenyum. "tapi, Nadia bersyukur punya kak Anzar" aku membalas senyumnya, obrolan cukup serius waktu itu.


"Aku bersyukur jadi diriku sendiri, bebas"


"iya, tapi harus tetep sekolah! kalo gini aja, kak Anzar mau jadi apa nantinya?"


"suami kamu"


"ihh kak Anzar!" omelnya menggemaskan sembari mencubit pahaku. Menyembunyikan perasaan senangnya dariku.


"sakit ih!"


"gombal mulu!"


"aku serius Nadia!"


"beneran?"


"yaudah kalo gak mau, mau cari yang lain aja"


"ihh jangan! Nadia mau!"


"sekarang?"


"ya nanti lah"


"gak sekarang aja?" kataku dengan tatapan liar.


"gak!" jawabnya dengan mata melotot.


"aku yakin kok, aku bisa jadi suami yang baik"

__ADS_1


"ih geli dengernya!"


"ha ha ha"


__ADS_2