Apocaliptik

Apocaliptik
chapter 10


__ADS_3

Benar-benar gelap dan mengerikan tapi kami tetap masuk kedalam lautan itu dan berhasil menemukan sebuah bangunan yang hampir rata.


Kami tidak mengobrol satu sama lain.


Bangunan itu benar-benar indah sepertinya, bangunan itu masih kokoh walaupun dibawah air.


Bangunan itu kemungkinan terbuat dari bata yang benar-benar kokoh, tapi sayangnya bata-bata itu tidak bercahaya lagi.


Aku berenang dan melihat sebuah gedung yang mirip seperti aula.


Aula itu benar-benar besar Dan berwarna putih yang indah, terdiri dari empat tiang panjang yang Menopang atapnya.


Aku dan Vinny berdiri di aula itu, Vinny melihat kesamping kanan dan aku sebaliknya.


Lantainya berbentuk kotak dengan corak garis lingkaran berwarna hitam.


Bukan hanya aulanya saja aku melihat sebuah tangga yang masih kokoh dengan singgasananya.


Aku yakin ini sudah tenggelam beribu-ribu tahun. Tapi aku heran kenapa bangunan itu masih kokoh.


Vinny duduk di singgasana itu dan aku mengikutinya. “lihatlah sang raja yang bijaksana bersama ratunya yang cantik jelita” aku seperti mengkhayal, walaupun itu khayalan yang benar-benar indah.


Vinny berdiri dan berenang kembali dan dia menemukan sebuah altar.


Altar yang tidak megah seperti dulu, aku yakin dulu altar ini benar-benar megah. dibuat untuk menghukum mati bagi yang melawan kerajaan. Altar itu tidak terkikis ataupun hancur walaupun didalam air yang mengalir.


Kedua sisi altar itu terdapat sebuah patung yang sedang memegang tombak, ini benar-benar penemuan terbesar. Maksudku kota macam apa yang masih berdiri kokoh tanpa terkikis. Mungkin ada tapi sedikit.


Benar-benar aneh dan aku berpikir ini mungkin karena sihir. Tapi apakah didunia ini memiliki sihir?...


Atau mungkin dunia ini memiliki teknologi yang cukup tinggi?.... Saking tingginya membuat bangunan ini masih berdiri kokoh disini?


Tapi teknologi macam apa yang bisa membuat bangunan itu seperti ini? Ah atau jangan-jangan bahan meterial nya terdiri dari bahan yang sulit untuk dihancurkan?.


Sial, aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri, dan tampaknya Vinny terkagum-kagum pada patung itu.

__ADS_1


Patung yang besar, berwarna putih, dan memegang tombaknya yang cukup besar, lebih besar dari kelihatannya, bahkan aku sendiri tidak percaya kalau aku sudah terlalu dalam untuk berenang, pasirnya berwarna putih bersih dan diarea sini benar-benar tidak diselimuti kegelapan.


Vinny menghampiri ku dan menarik tanganku, tampaknya dia ingin menunjukkan sesuatu padaku, dan ternyata itu suatu hal yang benar-benar keren, bahkan aku sendiri kagum pada apa yang ditunjukkan Vinny.


Itu seperti sebuah patung, tapi patung itu benar-benar indah, tampaknya ini adalah halaman kerajaan, soalnya kalau dilihat ada jalan setapak yang sudah hampir mau hilang dan disamping kanan dan kiri jalan itu terdapat seperti tempat air mancur yang tak terlalu besar.


Kemungkinan air mancur itu digunakan untuk tempat minum para burung yang kehausan, dan didepan kami terdapat sebuah patung itu.


Patung itu kelihatan seperti perempuan yang tersenyum sambil mengangkat pedangnya, kelihatannya wanita itu seperti kami, dan rambutnya panjang.


“Dia seorang pahlawan?” tanyaku terheran-heran.


Kami terus berenang, melihat disekitar kami. Tapi entah kenapa kami seperti merasa diikuti oleh sesuatu, apakah itu ikan? Kayaknya bukan.


Vinny masih berenang melihat lihat disekitar bangunan itu. Dan aku menyiapkan tombakku, siapa tau itu yang mengikuti kami itu adalah ikan.


“akhirnya” pikirku dengan raut wajah bahagia, aku pun berenang untuk mencari ikan itu dan meninggalkan Vinny seorang diri.


“Eh kak!?” Vinny tampaknya sedang kaget, dia melirik kekanan dan kirinya berulang kali.


Dia mencariku, dia berenang mengelilingi bangunan itu.


Vinny masih saja mencariku, dan dia menemukan sesuatu, didalam pasir itu Dia menemukan sebuah pedang, “pedang yang keren” pikirnya.


Dia mengusap-usap pedang itu hingga membuat tulisan di pedang itu bisa terbaca.


Dia mencoba untuk membacanya, tapi sayangnya bahasanya agak sulit dipahami.


“Bahasa apa nih?” Vinny keheranan, tulisannya mirip seperti ular yang berkelok-kelok dengan simbol-simbol yang aneh.


“bahasa dari dunia ini yah? Tapi aku paham apa yang dikatakan pria itu” pikir Vinny keheranan.


Vinny mulai kebingungan, dan tanpa berpikir panjang Vinny menyimpannya, “mending kusimpen deh, siapa tau penting” kata Vinny sambil menyimpan pedang yang bercahaya itu.


Aku masih saja mencari ikan yang mengikuti kami dari belakang, tapi aku tidak menemukan apapun kecuali pasir yang putih dan batu yang berwarna hitam, dan saat aku melihat kebawah, kepalaku terhantam sebuah kapal.

__ADS_1


Berbeda dengan bangunan itu, kapal itu terlihat mengerikan, berwarna hitam gelap, dan kayaknya ini bukan kapal biasa.


Vinny melanjutkan pencariannya untuk mencariku yang sedang menangkap ikan, dia benar-benar gadis yang kuat, aku benar-benar kagum padanya.


“Kakak Diaman yah?” vinny khawatir, tapi dia terus mencari ku disekitaran area situ.


Sedangkan aku, aku malah terpesona pada bangkai kapal itu, lihatlah arsitekturnya, mirip seperti kapal perang dunia kedua.


Kapal itu besar berwarna hitam dan seperti kapal perang, tapi entah kenapa aku mulai merasa ketakutan.


Bangkai kapal itu memang bagus kelihatannya, tapi bangkai kapal itu terbelah menjadi dua, dan aku melihat disisi bagusnya saja dan disisi lain, aku tidak berani mengatakannya tapi baiklah.


Disisi yang lain bangkai kapal itu sudah remuk, Padahal arsitektur kapal ini mungkin benar-benar bagus dan paling kuat pada masanya.


Entah kenapa perasaan ku mulai tidak enak, aku langsung bergegas untuk menemukan Vinny secepatnya.


“Kuharap dia baik-baik saja?” kataku dalam hati dengan perasaan penuh khawatir.


Vinny terus berenang dan menemukan sebuah tengkorak, Vinny ketakutan tapi dia mencoba memberanikan diri.


“tengkorak?” tanya Vinny keheranan.


Vinny cemberut dikira Vinny itu adalah ikan, perutnya mulai berbunyi seperti sebuah jam weker.


Aku terus berenang dan akhirnya menemukan Vinny, dan aku tau dia sedang lapar begitu juga aku, tapi aku yakin kamu bisa menahannya.


Aku terus berenang dan menggenggam erat tangannya.


Vinny melihat ke arahku dengan kebingungan.


Aku mencoba mengkodenya tapi aku tidak bisa membuat sebuah kode, maksudku apa yang harus aku kodekan, disini gak ada bahaya sama sekali.


Mungkin itu hanya perasaan ku saja mungkin bangkai kapal itu tidak ada, hanya imajinasi ku saja karena aku sedang lapar mungkin.


Aku langsung minta maaf kepadanya, karena aku tanpa pikir panjang menggenggam tangannya Vinny.

__ADS_1


Kami pun terus berenang dan menemukan sebuah tentakel yang mirip seperti tentakel gurita yang cukup besar, tampaknya itu hanyalah sebuah patung yang berbentuk tentakel.


Tapi itu benar-benar mirip dan agak lengket juga, tapi kami tak memperdulikannya, benar-benar tak memperdulikannya.


__ADS_2