Apocaliptik

Apocaliptik
chapter 18


__ADS_3

Ternyata kami berdua berada di sebuah rawa-rawa. Saling menatap satu sama lain dan saling mengangguk aku langsung turun kebawah dan mencoba menangkap Vinny, Vinny pun dengan pelan turun dan aku memegangnya.


“Ahhh, bagus deh” sahutku.


Kakiku dan kaki Vinny terkena lumpur, mungkin itu agak kotor tapi aku yakin aku dan Vinny bisa membersihkannya.


Rawa-rawa itu ditutupi pohon beringin yang besar dan dirawa-rawa ini terdapat eceng gondok, Semanggi dan rerumputan.


“Ayo vinn, semangat” sahutku sembari menyemangati dirinya.


Vinny tampaknya agak susah berjalan dia tertinggal dibelakangku.


“Semangat Vinny” sahutku dan saat aku berjalan tiba-tiba aku terjatuh.


Wajahku mengenai lumpur dan saat aku berdiri dan melihat kearah Vinny.


Vinny tersenyum dia ingin menertawakanku.


“Karma tuh kak” sahut vinny sambil tersenyum.


“Ha..ha.. ha”


Aku hanya tertawa dan membersihkan wajahku yang tadi terkena lumpur.


Vinny akhirnya sampai kepadaku dan tanpa berpikir panjang Vinny langsung membersihkan wajahku dengan tangannya yang lembut.


“Kakak kayak anak kecil yah” kata Vinny sambil membersihkan wajahku.


Wajahnya terlalu dekat, saat dia menyentuh wajahku itu benar-benar membuatku gugup, jantungku berdebar kencang seakan-akan mau meledak.


Wajahku hampir bersih dan kami berjalan melewati rawa-rawa itu dengan pelan dan hati-hati.


Benar-benar lambat, aku pun terdiam di rawa-rawa itu, aku ingin duduk tapi tidak bisa, rawa-rawa itu panjang sekali.


Lumpur itu membuatku susah berjalan, begitupun Vinny, Kami berdua hampir saja terjatuh karena lumpur yang menyebalkan itu.

__ADS_1


Bahkan sepatuku terlepas dengan sendirinya, aku tidak tau Dimana sepatu itu karena air itu benar-benar gelap.


Yah setidaknya Vinny baik-baik saja, walaupun aku tau vinny tampaknya benar-benar kesusahan.


Dia hampir saja terjatuh, jujur aku ingin melihatnya terjatuh sekarang dan ingin menertawakannya tapi sayangnya dia gadis yang cukup berhati-hati.


Dia melihat kearahku dan dia tampaknya tau kalau ku sedang menunggu dia untuk terjatuh.


Aku lupa tentang baju SMA ku, ah ibuku pasti akan memarahiku.


“vinn!!” panggiku.


“Kenapa kak?” balas Vinny yang mencoba untuk mengangkat kakinya.


“dimana kamu meletakkan baju sekolah kita?” tanyaku pada Vinny.


Vinny baru sadar dia langsung menelan ludahnya.


“aku... Aku gak tau kak, aku ingat kalau kita kesini pakai baju itu” sahut Vinny.


“bagus, sekarang aku dimarahi ibuku” sahutku sambil menghela nafasku.


Tampaknya kami bakal dimarahin sama orang tua kamu nih, jujur itu sebenarnya tidak apa-apa karena memang kami yang salah tapi ibuku kalau marah bisa membuat perang dunia ketiga.


“kau tau Vin, ibuku kalau marah dia seperti ingin membuat perang dunia ketiga” sahutku.


Vinny tersenyum “ kalau ibuku, dia seperti harimau aja kak".


“Aku jadi kangen sama ibuku kak" tambah Vinny sambil tersenyum tipis.


“Aku juga” balasku dengan lesu.


Kami benar-benar rindu dengan orang disekitar kami, orang tua kamu, teman-teman kami, sahabat kami, semuanya.


“tapi Vin, ini juga seru loh, kita bisa berpetualang dan melawan gurita raksasa dan lain sebagainya” kataku yang sedang mencoba menyemangati Vinny.

__ADS_1


Vinny yang merenung seketika mengangkat kepalanya lagi dan menatapku dengan senyuman.


“Jangan lupa tentang kapten Jack dan para krunya kak” sahut Vinny sambil berjalan kearahku.


“Kau benar, tapi jangan lupa juga tentang pria itu” sahutku.


“oh iya, pria itu, kuharap dia baik-baik saja disana”balas Vinny.


Dan tentu aku kesal saat Vinny menyebutkan kata pria itu didepanku, oke aku akan jujur sebenarnya aku cemburu saat dia mengatakan itu.


Tapi tampaknya Vinny tak mengerti dengan situasi sekarang.


Kami berjalan berdua, bersama.


“oh iya kak, pedang itu kemana?” tanya Vinny keheranan.


“ah bagus” pikirku, dia bertanya tentang pedang itu, pedang yang tiba-tiba menghilang, bahkan aku sendiri tidak tau kemana dan dimana pedang itu sekarang.


Vinny masih menunggu jawaban dariku” pedang itu akan segera datang kok” sahutku.


Vinny tampaknya tidak mempercayai akan hal itu, malah dia sepertinya kebingungan dengan jawabanku.


Vinny melihat ke arah langit-langit yang benar-benar gelap karena tertutup oleh pohon beringin yang besar itu.


“kak, kalau gak salah pohon beringin ini ada penunggunya kan?” tanya Vinny sambil melihat keselilingnya.


“yah menurut kata orang dewasa dulu seperti itu sih” sahutku dengan cukup yakin, jujur aku sebenarnya tidak tau.


“Jangan bilang kalau...” aku belum menyelesaikan kalimatku tiba-tiba hawanya mulai terasa dingin.


Aku menarik nafasku dalam-dalam dan Vinny benar-benar berani, dia melihat kesamping kanan dan kirinya.


“kita harus bergegas” kataku sambil menggenggam tangan vinny.


Aku berlari sambil menggenggam tangan Vinny, jujur itu terasa berat sekali karena kaki kami berdua yang berada di atas lumpur dan aku terjatuh dua kali tapi aku tidak memperdulikannya.

__ADS_1


Aku benar-benar bingung kenapa Vinny tidak terjatuh saat aku menggenggamnya.


Dan akhirnya tak berselang lama kemudian aku dan Vinny berhasil keluar dari rawa-rawa itu dan ternyata kami menemukan sebuah jalan yang menuju kekota.


__ADS_2