Apocaliptik

Apocaliptik
chapter 7


__ADS_3

“jadi?, Ini kak” kata Vinny dengan ketidak yakinannya.


Aku berdiri dan melihat kearah sekolah itu, Dan wow aku yakin sekolah ini benar-benar sudah lama tak ditinggali.


Bangunan sekolah itu banyak yang retak, memiliki tiga lantai, disekelilingnya ada rerumputan yang membentang seperti lingkaran dan disisi lingkaran itu terdapat tanah berwarna kecokelatan.


Cahaya matahari tiba-tiba datang dan menyinari sekolah itu.


Sekolah itu seperti hampir rapuh, tapi tanaman lah yang membuatnya bertahan hingga saat ini.


Dibelakang kami terdapat sebuah terowongan yang baru saja kami lewati, Disamping kami hanya tanaman rambat dan reruntuhan yang masih belum kami jamah.


Diatas kami ditutupi oleh rimbunnya dedaunan kecuali diatas sekolah itu.


“Kak” Vinny memegang bajuku.


Aku tau dia ketakutan, bahkan tangannya bergetar seperti melihat sosok hantu. Dia benar-benar manis.


“Jangan takut Vin” kataku mencoba untuk menenangkannya.


Aku berdiri dihadapannya dan memegang kedua pipinya.


“percayalah padaku, kita akan baik-baik aja, aku selalu disisi mu Vin” sahutku seperti sosok pahlawan.


Dia tersenyum, dia melepaskan pegangannya tapi sayang tangannya masih saja bergetar.


“ayo kita masuk Vin, jangan takut” kataku sambil memegang tangannya.


Dia tersenyum “hmm, oke kak” balasnya.


Sial aku baru saja menggenggam tangannya, tangannya benar-benar halus dan mulus seperti boneka, tangannya kecil untuk ukuran gadis SMA.


Kami berjalan melewati tanah dan rerumputan, hingga sampai ke depan sekolah itu.


Dinding sekolah itu benar-benar abu-abu dan berlumut, sekolah itu miring nak menara Pisa. Tanaman merambat kemana-mana.


Vinny masih ketakutan tapi dia mencoba memberanikan dirinya dan menggenggam tanganku dengan erat.


“gapapa” sahutku.


Kami berjalan kedalam, memasuki ruangan yang sudah tak berpenghuni berpuluh-puluh tahun lamanya.


Suasana didalam berbe6dengan apa yang ada diluar, disini lebih dingin dan sepi, untungnya masih ada cahaya yang menyinari.


“kak, kakak yakin?” tanya Vinny dengan khawatir.


“Kaka yakin kok” balas ku.


Sebenarnya aku tidak yakin karena lantainya yang mulai rapuh dan hampir menyatu dengan tanah, langit-langit nya yang kemungkinan beberapa menit lagi akan roboh, langit-langit itu hanya ditopang oleh akar pohon.


“lihat Vin, kayaknya nih sekolah udah lama deh ditinggalin” kataku dengan yakin.


“Benarkah?” tanya Vinny yang masih saja menggenggam tanganku dan menutup wajahnya ke lengan bajuku.


“iya” jawabku sambil berjalan.


“kak itu suara apa?” tanya Vinny ketakutan.


“itu Hanya suara langkah kaki kita” jawabku.


Yang kudengar hanyalah angin dan suara langkah kakiku dan Vinny, Tak ada yang lain.

__ADS_1


Kami berjalan melewati lorong sekolah, dan menemukan sebuah tangga yang menuju lantai dua.


“vinny, disitu ada tangga” kataku.


Dia masih bersembunyi dan menggenggam lengan bajuku dengan erat.


Aku tersenyum dan mencoba untuk menaiki anak tangga.


Satu-persatu aku menaiki anak tangga yang hampir rapuh.


“Kriekk!!”


“kakak!!” Vinny kaget langsung menggenggam lengan bajuku dengan erat.


“apa?... Apa itu tadi kak?” Vinny bertanya padaku dengan ketakutan.


“jangan khawatir “ balasku mencoba untuk menenangkan dirinya.


Kami melewati anak tangga itu dengan santai dan pelan dan tiba-tiba “brughtt!!” anak tangga yang kupijak hancur tapi aku berhasil menyeimbangkan kakiku.


Kami berjalan dan sampailah ke lantai 2, lorong yang tenang dan lantai yang menjebak.


“vinny, bisa buka mata dulu gak?” aku bertanya pada gadis itu. Dan untungnya dia membuka matanya.


“Vinny ikuti kakak yah” ajakku sambil berjalan kearah kelas yang ada diujung kiriku, takut hal buruk terjadi, aku berjalan dengan hati-hati begitu juga Vinny.


Kami berjalan dan sampai ke ruang kelas itu, aku mencoba membuka pintu itu tapi sayangnya pintu itu terkunci dari dalam.


“sial ini terkunci” kesalku.


“Vin, mundurlah, aku akan mencoba untuk menendangnya” kataku.


Dan aku mencoba menendang pintu itu berapa kali hingga akhirnya berhasil.


“Vin, jangan liat kesini” perintah ku.


Untuknya Vinny menuruti perintah ku itu, aku tidak bisa membayangkan dia melihat suatu hal yang mengerikan ini.


“sudah berapa lama?” aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.


Aku melihat ke sekeliling ku dan mayat itu.


“Jackpot!!” seru ku.


Aku berhasil menemukan sebuah kertas, tampaknya kertas ini adalah denah untuk pergi ke gua yang dikatakan pria itu padaku.


“Makasih pria tua, dan untukmu....” sahutku.


Aku benar-benar bingung kenapa mayat itu ada disini.


Aku keluar dan bertemu dengan gadis itu.


“lihatlah Vin? Apa yang kudapatkan” sahutku pada Vinny dengan senyuman yang penuh semangat.


“apa kak?” tanya Vinny kebingungan.


“lihatlah, ini adalah peta kita untuk pergi dari sini” jawabku dengan yakin.


“Kakak yakin? Yang bener kak?” keget Vinny seolah-olah tak percaya akan hal itu semua.


Aku tersenyum dan mengatakan kalau peta ini benar-benar peta jalan keluar ku dan Vinny.

__ADS_1


Vinny tersenyum dan langsung memelukku.


“ah.. maaf kak” vinny langsung melepaskan pelukan itu dan tampaknya dia sedang malu, wajahnya memerah seperti tomat.


Aku dan Vinny membuka peta itu dan melihatnya.


“jadi setelah melewati sekolah itu, kita harus pergi ke sebuah gunung?” tanyaku dengan heran.


“Kenapa kak?” tanya Vinny sambil menatap ku.


“ini Vin, aku bingung, gunung yang dimaksud, gunung yang mana?” balasku terheran-heran.


“Kalau dilihat dari peta kita harus lurus aja kak” balas Vinny dengan yakin.


“tapi jalan kita diblokir sama pepohonan ini Vin” balasku.


Kami pun bingung, apakah ini peta nya salah atau aku dan Vinny yang salah.


“hah” desahku.


“Brughh!!”.


“Kakak? Sakit perut?” Tanya Vinny sambil menatap wajahku.


“Bukan , bukan aku” balasku secara cepat.


“Brughtt!!”.


“lah terus, itu suara apa kak?” tanya vinny mulai panik.


Suara itu terus berbunyi dalam kepalaku, dan tiba-tiba air mulai pasang.


“kakak, aku yakin ini bukan pertanda yang baik” kata Vinny sambil melihat kearahku.


“sial” kesalku.


Tiba-tiba air itu terus mengalir, terus mengalir dan sekolah-sekolah itu mulai membuat keretakan.


“Bagaimana ini kak?” tanya Vinny keheranan.


Aku juga bingung apa yang harus kulakukan.


Tiba-tiba Langit-langit itu mulai berjatuhan dan hampir mengenaiku.


Aku berhasil diselamatkan oleh gadis itu.


“kak, ayo kita keluar kak” sahut Vinny sambil menggenggam tanganku dan membawaku pergi. Tapi sayang langit-langit yang runtuh itu sudah memblokir jalan keluar kami.


Aku bingung dan mencoba untuk berpikir.


“sial, kalau kita terus begini kita bakalan mati” sahutku dengan serius.


“mati!?” seru Vinny kaget.


“Tenanglah Vin” kataku sambil mencova menenangkan dirinya.


Vinny Melihat disekitarnya dan dia menemukan sebuah lubang yang mungkin sudah terkikis dan muat untuk kami berdua.


“kakak, lihat, disitu ada lubang yang agak sedang” kata Vinny sambil menunjuk ke arah sini.


Kami pun mencoba melarikan diri dengan cara melewati lubang itu.

__ADS_1


Kami berhasil selamat tapi seketika didepan kami langsung diguyur stunami


__ADS_2