
Seminggu kemudian, gadis itu akhirnya sembuh.
“Kau yakin?” Tanyaku dengan khawatir.
“Iya kak” sahut gadis itu sambil tersenyum manis padaku.
Gadis itu pergi menemui pria itu yang sedang memasak didapur.
“Makasih banyak pak” kata gadis itu sambil tersenyum menatap pria dengan manis.
Aku yakin pria itu sedang merona, lihatlah pipinya yang hampir memerah.
“Ah iya sama-sama, tapi sebelum kalian pergi..., Makanlah dulu” kata pria itu sambil menyiapkan makanan untuk kami.
Dengan senang hati kami memakannya. Aku berpikir kalau hati pria itu sedang menangis.
Karena kami akan Pergi meninggalkan dirinya sendirian.
“sruputtt!!” itu adalah suapan terakhir. Aku melihat mata pria itu dan aku yakin matanya memerah.
Aku tau pria itu hanya sendiri disini, tak ada keluarga atau teman. Bahkan seseorang yang dikatakan spesial tak ada.
Dia hanya tersenyum, walaupun aku tau dalam hati dan pikirannya masih sedih atau apapun itu.
“apa kau pikir aku akan menangis?” tanya pria itu sambil tersenyum padaku.
Kenapa mereka berdua selalu tersenyum padaku. Apakah ada hal yang lucu.
“Aku tidak menangis, hanya saja...” pria itu belum menyelesaikan kalimatnya.
Tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras, dari dalam hutan.
“Sebuah aungan.” Pria itu ketakutan.
“bukankah kau bilang tak ada makhluk lain?” tanyaku padanya dengan tatapan kesal.
“aku yakin akan hal itu, aku mungkin harus pergi juga kayaknya “ kata pria itu seperti ketakutan akan hal sesuatu.
“Kemana?” tanyaku dengan heran.
“ke suatu tempat, dan lebih baik kalian juga harus pergi...”balas pria itu sambil tersenyum.
“kami gak tau” sahutku dengan ragu-ragu.
Aku tampak seperti pria bodoh yang tak tau arah.
“Pergilah ke selatan, kalian akan menemukan sebuah sekolah, aku yakin sekolah itu bisa menolong kalian, oh iya berhati-hati lah, karena dunia ini sudah dikutuk” tegas pria itu sambil berjalan ke arah timur menuju kegelapan yang lebih menyeramkan.
“sekolah?” pikirku keheranan.
“kakak!!” gadis itu memanggilku, dia berdiri di depan reruntuhan yang membentuk seperti lorong kecil.
“kenapa Vin?” tanyaku dengan heran.
“jalan ini... Jalan ini kayaknya menuju selatan deh kak” sahut Vinny dengan agak ragu-ragu.
__ADS_1
Aku tau gadis itu ingin membantuku, dan aku hargai itu tapi kuharap dia tidak mengatakan itu dengan penuh keraguan.
“kau mendengarkan kamu bicara?” tanyaku sambil menatapnya dengan penuh senyuman.
“Ah i..iya kak” gugup Vinny.
Aku memang pendiam dan sinis tapi percayalah itu bukan diriku yang sebenarnya.
“kau yakin Vin?” tanyaku sambil melihat kedalam lorong itu.
Lorong itu benar-benar kecil dan gelap, benar-benar mengerikan, mungkin orang dewasa seperti pria itu gak bakal bisa masuk kedalamnya, dan ini bukan lorong biasa tapi lorong yang dibuat oleh reruntuhan bangunan itu.
Sebenarnya aku bukan takut pada kegelapan nya, tapi yang ku takutkan itu adalah Bagaimana kalau reruntuhan itu menimpaku dan gadis itu.
Gadis itu menatapku dengan tatapan seolah-olah dia mengatakan kalau “inilah jalan yang tepat kak”.
Dan seperti kebanyakan pria lainnya, aku mempercayainya. Kami berjalan melewati lorong itu.
Kami merangkak seperti layaknya tentara yang sedang latihan militer.
“Hai kak, apa pria itu baik-baik aja?” tanya Vinny khawatir.
Jujur aku agak kesal saat dia bertanya tentang pria itu, tapi aku juga paham kenapa dia menanyakan itu padaku.
“Aku yakin dia baik-baik saja” jawabku.
Walaupun aku juga tidak yakin dengan pria itu.
Bayangkan aja, pria yang kesepian dan kurus kering pergi sendiri untuk menemukan Auman yang bahkan bisa menggetarkan seluruh dataran ini.
“Kalau kakak ngomong gitu, Vinny yakin kok” jawabnya.
“Vinny, kakak boleh nanya gak?” tanyaku.
“mau nanya apa kak?” tanya Vinny yang tetap fokus pada jalannya.
Sebenarnya aku takut untuk menanyakan hal ini, tapi aku penasaran dengan jawabannya.
“vinny, udah....” sial aku benar-benar gugup aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku.
“Udah?.... Udah apa kak?” tanya Vinny keheranan.
“Udah... Udah...” sial kenapa aku susah untuk menanyakan hal itu padanya.
Vinny terdiam “iya kak, udah apa?” Vinny bertanya padaku.
“udah sembuh... Ya... Udah sembuh, Vinny dah sembuh total kan?” tanyaku.
Sebenarnya bukan itu yang aku tanyakan padanya tapi karena takut,aku terpaksa menanyakan hal lain padanya.
“Kakak gak liat aku yah” murung Vinny.
“ah sial” kataku pelan, aku tidak bermaksud membuat gadis itu murung, tapi mau gimana lagi.
“Maaf Vin” kataku dengan nada lembut.
__ADS_1
Gadis itu hanya tertawa, “Hehehehe, aku hanya bercanda kak” sahut Vinny, tawanya benar-benar indah.
“kau ini...” sahutku sambil tersenyum.
“Hmm, kak, sekarang Vinny mau tanya nih, boleh gak?” tanya Vinny.
Aku gugup, takut aku salah jawab, tapi aku memperbolehkannya.
“aku mau nanya, gimana sih cara deketin cowok?” tanya Vinny.
Aku sontak kaget dengan pertanyaan itu, pikiranku mulai campur aduk, aku tau aku bukan siapa-siapa nya dia tapi tetep aja itu
menyakitkan untuk hatiku yang mungil ini.
“vinny mau deketin cowok yang Vinny suka?” tanyaku dengan heran.
Kuharap jawabannya tidak sesuai ekspektasi ku, ternyata aku salah.
“iya kak, tapi aku baru-baru ini menyukainya jadi masih belum kurang mengenal, gitu” jawab Vinny dengan santainya.
“emangnya dia cowok seperti apa?” tanyaku dengan penasaran.
Entah kenapa aku jadi berpikir buruk tentang pria itu.
Dia tersenyum. Walaupun aku tidak melihat wajahnya, aku yakin dia pasti tersenyum.
“dia baik, walaupun dia pendek dns kurus tapi dia punya hati yang baik gitu loh kak” jelas Vinny.
“terus dia mau nungguin aku pas lagi sakit, itulah yang semakin aku menyukai dirinya” tambah Vinny.
Entah kenapa pikiranku mulai tertuju pria itu, dan ingin meninju perutnya yang hanya seperti tulang belulang.
“kau Tampaknya benar-benar menyukai dia yah” sahutku dengan sinis.
“ Emangnya kakak tau, siapa yang aku suka?” tanya Vinny yang sedang menahan tawanya.
Aku hanya terdiam, dia benar aku tidak tau dan kata orang-orang tidak boleh berprasangka buruk, tapi entah kenapa dadaku merasa sakit, dan pikiranku mulai ingin menyerang pria itu.
“Siapa namanya?”, tanyaku dengan heran.
Dia tersenyum dan bilang kalau itu rahasia sambil tertawa kecil.
Jujur itu benar-benar membuatku tambah penasaran. Siapa orang yang tidak Penasaran, orang yang disukainya itu menyukai orang lain.
“Ayolah vinn” kataku sambil tertawa biar dikiranya gak maacam- macam.
“ngapain harus beritahu kakak?, Kakak kepo” ejek Vinny sambil tertawa kecil.
Dia benar, aku terlalu kepo jadi cowok tapi aku kan cuman nanya.
“Canda kak” katanya sambil tertawa.
Walaupun dia mengatakan hal itu tetap saja yang tadi membuat ku sakit hati.
“Jadi kamu tidak menyukai seseorang?” tanyaku dengan heran.
__ADS_1
“Entahlah” sahut Vinny yang dimana itu membuat ku tambah penasaran.
Kami terus berjalan saling mengobrol dan akhirnya sampai ke jalan keluar, saat kami sampai kami menemukan sebuah sekolah yang hancur.