Apocaliptik

Apocaliptik
chapter 20


__ADS_3

Aku dan Vinny akhirnya sampai ke bagian dalam apartemen itu, dan apartemen itu memang berbentuk kotak dengan ditengah-tengah apartemen itu tampak seperti lapangan.


Aku berjalan mengikuti Vinny ke tengah-tengah lapangan itu, melihat disekeliling kami, ruangan apartemen itu kelihatannya banyak sekali.


Mungkin bisa menampung sekitar lebih dari 100 orang.


Kami berjalan menuju salah satu tangga, tangga itu terbuat dari keramik dan sebagian dari anak tangga itu sudah mulai retak, dilantai dasar begitu banyak sekali kamar-kamar yang berjejer, aku yakin Ini sebenarnya bukan apartemen tapi biarkan sajalah.


“Hati-hati Vin” kataku dengan khawatir.


“Iya kak” kata Vinny sambil berhati-hati menaiki beberapa anak tangga.


Aku menaiki tangga itu sambil melihat kesamping, bangunan ini benar-benar indah walaupun banyak yang sudah meninggalkannya, mungkin dulu bangunan ini digunakan untuk penyewaan bagi kaum yang tidak ingin memiliki rumah, atau mau beli rumah tapi mahal.


Aku terus saja berjalan dan akhirnya sampai ke lantai kedua, lantai ini tidak terlalu jauh dengan lantai pertama mungkin beda 1 atau 1,5 meter.


Kami berjalan melewati beberapa kamar yang terkunci dari dalam.


“Grusuk...grusuk..”


“sial, kayaknya semua pintu disini terkunci deh” kataku dengan agak kesal.


Suara tangisan itu perlahan-lahan mulai menghilang, kayaknya dia sedang tertidur atau kuharap dia baik-baik saja.


Kamu berdua melanjutkan perjalanan kami menuju lantai 3, lantai itu benar-benar membuatku mau muntah.


“Sampahnya banyak banget Vin” kataku sambil menutup hidungku.


“Sabar kak” balas Vinny, yang juga menutup hidungnya.


Lantai tiga benar-benar bau, karena banyak sampah yang berada didepan sebagian kamar.


“kak, coba kakak buka satu persatu” suruh Vinny.


Aku sebenarnya tidak mau tapi aku takut kalau aku melewatkan sesuatu yang penting, aku menatap Vinny dan langsung menghela nafasku.


Aku mencoba menarik nafas lalu mengeluarkannya beberapa kali dan menutup hidungku, tanpa pikir panjang aku langsung bergegas membuka setiap salah satu kamar yang ada namun sayang hasilnya benar-benar nihil.


Lanjut kelantai keempat, lantai ini tampak seperti lantai dua cuman bedanya disini seperti sudah jadi sarang Tanaman.


Aku mencoba membuka beberapa pintu tapi sayang pintu itu tidak bisa kubuka, bukan karena terkunci atau menahannya dari belakang pintu itu, melainkan pintu itu tertutupi oleh batang-batang pohon yang rimbun.

__ADS_1


“gak bisa Vin, benar-benar keras” kataku.


“Kalau begitu lanjut ke lantai berikutnya kak” kata Vinny sambil menggenggam tanganku.


Lantai kelima, lantai ini tampaknya seperti lantai yang biasa aja, benar-benar sunyi dan hening, hawanya begitu dingin sekali, seperti ada pertanda bahwa hantu akan menghampiri kami berdua.


Aku mencoba membuka pintu itu dan salah satu pintu itu akhirnya terbuka.


Aku mencoba masuk kedalam dan diikuti Vinny dari belakang, berbeda dari luar, didalam begitu hangat dan tampaknya yang tinggal disini adalah sebuah keluarga kecil yang berbahagia, dilihat dari fotonya.


Aku berjalan ke arah dapurnya, kukira saat aku membuka pintu itu, ruangannya benar-benar sempit, dan ternyata aku salah.


Vinny melihat kearah foto itu, foto yang didalamnya terdapat keluarga yang berbahagia.


“piring-piringnya masih utuh?” tanyaku sambil keheranan.


“Kenapa kak?” tanya Vinny sambil berjalan menghampiriku.


“ah, ini piring-piring ini masih utuh, dan dari baunya benar-benar bau busuk, kayaknya mereka sudah lama meninggalkan tempat ini” kataku dengan yakin.


Tampaknya bukan hewan laut saja yang hampir menghilang, tapi hewan yang didarat juga kayaknya sama-sama menghilang. Bahkan bukan hanya hewan saja tapi manusia juga hampir menghilang.


Vinny melihat kekamar mandinya dan kamar mandinya juga kelihatan baik, hanya saja warnanya hampir kelihatan pudar.


“Vin, kayaknya mereka gak meninggalkan tempat ini deh” kataku dengan yakin.


“Kenapa kakak yakin?” tanya Vinny keheranan.


Tampaknya vinny memang tak percaya padaku, tapi aku langsung bergegas menggenggam tangannya dan menyuruhnya membuka sebuah lemari pakaian.


“Kakak yakin?” tanyanya sambil menatapku.


“Bukalah” balasku.


Dan saat Vinny membukanya pakaian itu masih tersusun rapi hanya saja warna dan pakaian itu sudah mulai hampir seperti ditelan usia.


“bagaimana mungkin ini bisa terjadi kak” Vinny mulai kebingungan seolah-olah baru kali ini dia melihat hal itu dalam hidupnya, dan aku juga baru kali ini melihatnya dalam hidupku.


“menurut kakak kenapa ini bisa terjadi?” tanya Vinny keheranan.


“soalnya gak mungkin kan mereka pergi tanpa membawa pakaiannya kan? “ sahut Vinny keheranan.

__ADS_1


“Mungkin” kataku


.


“Tapi kayaknya mereka menghilangnya disini deh Vin” tambahku.


“Maksud kakak?” tanya vinny sambil menatapku dengan bingung.


“maksud kakak adalah, kayaknya mereka menghilangnya dari kamar ini deh, soalnya piring-piring itu masih stay dimeja makan” kataku.


“Tapi bisa saja karena kecepatan, mereka akhirnya melarikan diri dari tempat ini segera” sahut vinny dengan yakin.


“tapi masa mereka melarikan diri meninggalkan mobilnya, bukankah melarikan diri menggunakan mobil itu paling cepat dibandingkan berjalan?” tanyaku dengan heran.


Vinny mulai kebingungan dan tiba Vinny mendengar suara tangisan itu lagi, tangisan itu semakin keras.


Vinny menggenggam tanganku dan langsung pergi ke lantai berikutnya dan saat itulah aku dan Vinny berhasil menemukan sumber suaranya.


Aku dan Vinny membukakan pintu itu dan terlihat tidak terjadi apapun disana.


Aku dan Vinny terus berjalan kedalam ruangan itu dan melihat keselilingnya.


Jujur kami berdua ketakutan karena ini mirip seperti film horor, terlihat sepi dan saat kami melihat ke arah kamar, kami langsung bergerak seperti polisi dan ternyata itu adalah sebuah Boneka bayi.


“sejak kapan boneka bayi ini ada disini “ kataku.


aku tersenyum dan sedikit takut sat melihat boneka itu, karena Boneka itu benar-benar buruk sekali, tapi aku langsung menunjukkannya ke arah vinny sambil tersenyum.


"lihatlah, jangan terlalu takut, ini hanyalah boneka bayi yang malang" sahutku


"tapi boneka bayi itu gak mungkin menangis kan?" tanya vinny keheranan.


aku sontak kaget dan Benar-benar takut.


"lalu... lalu, siapa yang menangis itu Vin?" tanyaku dengan agak takut.


Vinny ingin menjawabnya tapi tiba-tiba terdengar suara dari belakang kami. suaranya seperti anak-anak berusia 5-6 tahun, dan suara itu tampaknya seperti suara anak laki-laki dan entah kenapa aku seperti mendengar suara balita yang membuat ku semakin takut


“halo” tiba-tiba suara terdengar dari belakang kami berdua, kami melihat kearah belakang dan tiba-tiba seorang anak kecil yang sedang menggendong adiknya tersenyum Kearah kami.


Aku sontak terkejut dengan hal itu, benar-benar membuatku kaget, aku bahkan pingsan karenanya.

__ADS_1


__ADS_2