
Aku terus berpikir terhadap ucapan anak itu, apa yang dia katakan itu benar, Vinny tampaknya disukai banyak orang, gadis itu benar-benar baik, cantik, manis dan imut.
Malam terus berlalu hingga matahari menampakkan cahayanya tapi tetap saja didalam hutan itu masih terasa gelap walaupun tak gelap gulita.
Aku dan Tio sama sekali tidak tidur, kamu hanya mengobrol.
Aku membangunkan Vinny hingga membuat Vinny terbangun.
“Kenapa kak?” Tanya vinny sambil mengusap matanya yang indah karena ngantuk.
“Yuk kita bangun, sekarang udah pagi kayaknya, ayo kita bergegas” sahutku.
Vinny pun mencoba untuk berdiri walaupun dirinya masih mengantuk. Vinny menggendong balita itu dan melihat keselilingnya.
“kenapa Vin?” tanyaku dengan khawatir.
“Gapapa kok” jawab vinny.
Kami pun berjalan melewati hutan itu tapi tak selang berapa kilometer dari tempat kami beristirahat, kami menemukan Sungai, sungai-sungai itu benar-benar indah, airnya mengalir dengan tenang dan air di sungai itu benar-benar jernih tanpa ada sampah sedikitpun.
“dunia ini mungkin gak terlalu buruk” pikirku.
__ADS_1
Kami meminum air itu, setelah meminumnya kami langsung pergi lagi.
Berjalan menyusuri hutan yang masih sama membosankan, aku jadi teringat kata kakekku, dia bilang “hutan adalah paru-paru dunia”.
Lalu aku bertanya, “kenapa kakek bilang gitu?” tanyaku.
“karena banyak pohon menjadi salah satu penghasil oksigen terbesar di dunia” sahut kakekku waktu masih hidup.
Kakek itu terus tersenyum. Dan dia mengatakan sesuatu padaku.
“menurut kakek, kenapa hutan disebut paru-paru dunia karena hutan itu bisa bernafas” katanya.
Aku bingung dan aku bertanya pada kakekku.
“Ketika angin berhembus hutan akan menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya ketika hutan sudah berdiri tegak” sahut kakekku.
“lihatlah hutan itu, dia melakukan pekerjaannya dengan baik walaupun sering dirusaki oleh orang yang dia bantu” sahut kakekku.
“maksud kakek?” tanyaku heran.
“hutan adalah penghasil oksigen untuk kita bernafas tanpa dikasih uang atau benda berharga yang kita punya, dan dia tidak marah saat kita menebangnya, padahal hutan adalah penghasil oksigen tapi kita menebangnya” sahut kakek.
__ADS_1
Aku pikir kakek benar dan aku harus menjaga hutan-hutan agar tidak ditebang.
Kami terus berjalan seperti seorang petualang, kalau aku punya ransel dan punya seekor monyet mungkin aku akan bilang “Mau kemana kita?”.
Kami terus berjalan dan pada akhirnya kami menemukan sebuah jalan keluar dan ternyata saat kami keluar dari hutan itu, kami berada di jurang yang cukup mengerikan. Di bawah kamu ada Padang pasir yang cukup luas dan didepan kami, kami menemukan gua itu.
“inilah guanya kak” sahut Tio sambil menunjuk kearah gua itu.
Dilihat dari atas, gua itu benar-benar kecil sekali.
“oh iya asal kakak tau” sahut Tio sambil mengambil sebuah batu lalu melemparkannya ke bawah.
“Buarrrr!!!” tiba-tiba datang cacing besar raksasa yang menangkap batu itu.
Dia melompat dan bentuknya benar-benar panjang, aku sendiri bahkan masih belum melihat bagian ekornya.
Bentuk cacing itu berwarna hitam pekat, matanya tiga merah menyala, dia memiliki sisik seperti ikan, dan giginya benar-benar tajam seperti gigi hiu. Benar-benar aneh.
“Jadi gimana nih?” tanyaku dan tampaknya Vinny benar-benar ketakutan sama sekali.
Dia benar-benar takut dan tampaknya dia gak mau kebawah sana.
__ADS_1
“Ada rencana?” tanyaku sambil menatap Tio.
Walaupun Tio seorang anak kecil tapi aku yakin dia pasti memiliki rencana, mungkin.