
Kami berada disebuah jalan raya, melihat kearah kanan dan kiri kami.
“Wow Vin, kuharap ini invasi zombie” sahut ku dengan kagum.
Jalan raya itu benar-benar sepi dan retak, benar-benar jalan raya yang hancur. Tapi aku tidak memperdulikannya.
Kami berjalan menuju kota.
“Percayalah Vin, semua akan baik-baik aja” sahutku sambil berjalan melihat ke arah langit yang mulai gelap.
Kupikir sekarang sudah malam tapi kamu terus saja berjalan.
Tak selang berapa lama kami berdua mulai kelelahan.
Kakiku terasa berat dan tampaknya Vinny hanya merenungkan diri.
aku mengerti perjalanan ini benar-benar melelahkan baginya begitupun aku, aku tersenyum dan menatap kearah Vinny.
“mau istirahat dulu?, Lagian ini sudah malam” sahutku.
“Istirahat dimana kak?” tanya Vinny keheranan.
Aku langsung menunjuk ke arah pohon ditepi jalan, “disana?” tanya Vinny dengan kurang yakin.
Aku mengangguk dan menggenggam tangannya, kami berdua pun langsung pergi ke tepi jalan dan langsung beristirahat disana.
Vinny tampaknya kelelahan dia langsung tertidur pulas, aku merasa kesian karena gadis itu tertidur tanpa menggunakan alas sedikitpun.
Aku langsung melepaskan bajuku dan kujadikan alas Vinny untuk tertidur.
Jujur ini benar-benar dingin sama sekali. Aku mungkin akan pilek atau flu, atau bahkan keduanya tapi aku terus tetap bertahan.
Aku melihat kearah langit, menatap bintang-bintang yang bersinar terang.
Dan itu membuatku mengantuk, tanpa sadar aku tertidur.
Pagi hari yang cerah aku terbangun dan melihat Vinny yang masih tertidur pulas, aku membangunkan Vinny hingga Vinny terbangun.
“vin, Vin, bangun ayo kita pergi lagi” sahutku.
Vinny pun terbangun dan untungnya dia tidak melihatku, aku langsung bergegas mengambil bajuku dan langsung pergi kebelakang pohon itu.
“Loh kakak kemana?” tanya Vinny dengan heran sambil mengusap-usap matanya.
“kakak disini Vin” balasku sambil merapikan bajuku.
Aku dan Vinny melanjutkan perjalanan, kami mengobrol dan bercanda bareng.
“jadi kakak gak suka kucing?” tanya vinny Penasaran.
“Kakak suka tapi takut aja gitu” jawabku dengan agak malu.
__ADS_1
“loh, kok takut kak?” tanya Vinny dengan penasaran.
“itu..itu... Itu karena cakarnya Vin” sahutku dengan malu-malu.
Vinny tersenyum, “kakak lucu banget” sahut Vinny kepadaku dan itu benar-benar membuatku salah tingkah.
Aku jadi senyum-senyum sendiri nih jadinya.
“Kalau Vinny takut apa?” tanyaku dengan penasaran.
Vinny pun membisikkannya padaku kalau dia “kalau aku takut kehilangan kakak” bisiknya.
Vinny langsung berjalan dengan cepat dan berputar sambil tersenyum padaku dengan senyuman manisnya.
Aku sontak tersenyum, aku sekarang senyum-senyum sendiri karena mengingat hal itu.
Entah, aku benar-benar gak bisa membuat diriku menahan untuk tidak terlalu nampak tersenyum tapi aku tak bisa untuk kali ini, dia benar-benar membuatku tersenyum parah.
Aku ingin pingsan, karena dia mengatakan hal itu padaku.
Kami berdua berjalan dengan Vinny yang didepan dan aku dibelakang, setiap kali Vinny melihatku aku langsung menundukkan kepala karena masih mengingat akan hal itu.
Tanpa sadar aku melihatnya tersenyum sambil menundukkan kepalaku.
“eh iya kak?” tanya Vinny.
“Kenapa Vin?” sahutku.
“Aku?” sambil menunjuk diriku.
“iya kakak” jelas Vinny.
“Aku jurusan teknik komputer jaringan, kalau Vinny?” kataku sambil bertanya padanya.
“aku dari kelas brocasting kak” jawab Vinny.
“Ohhh" balasku.
“Kamu belajar apa aja disana?” tanya ku penasaran.
“kami belajar menggunakan kamera,mengemas berbagai jenis program televisi dan radio mulai dari program berita, dokumenter, drama, hingga program non drama. Hal yang dipelajari mulai dari proses pra produksi, produksi, dan pasca produksi kak” jelas Vinny.
“Wow” aku gak tau harus ngomong apa selain kata itu.
“kalau kakak sendiri belajar apa?” tanya Vinny penasaran.
“kalau jurusan kakak belajar cara instalasi PC, instalasi LAN, memperbaiki PC dan mempelajari program-program PC gitu” jawabku.
Aku yakin dia pasti bertanya-tanya tentang jurusan ku lagi tapi sebelum dia menanyakan hal lain kami akhirnya sampai kekota itu.
“Lihatlah vinn!!” seruku sambil melihat kota itu.
__ADS_1
“Kota ini benar-benar terbengkalai, dan cukup cepat juga kita sampai kesini” tambahku.
Kota itu benar-benar kota yang cukup hancur, bangunan-bangunan nya sudah mulai dihinggapi oleh beberapa tanaman liar, kacanya pecah, dan warnanya mulai memudar, bahkan jalanan dan tiang lampu dihinggapi tanaman, tanaman yang subur.
Aku dan Vinny terus berjalan hingga mendengar sesuatu, sebuah tangisan.
“kakak mendengarnya?” tanya Vinny sambil mendengarkan sesuatu.
Aku heran apa yang dia dengarkan, mungkin itu hanya suara hewan walaupun aku juga tidak yakin sebenarnya.
Pendengarannya begitu tajam dan itu benar-benar membuatku kagum padanya.
“Suara apa Vin?” tanyaku keheranan.
“Itu kak!!” seru Vinny.
“Apa??” aku bertanya padanya. Jujur aku tidak mendengarkan apapun saat ini.
Vinny mulai berlari sambil mendengarkan suara itu, dia sepertinya sedang mencari sumbernya
“vinn, hati-hati!!” kataku sambil mengikuti dirinya yang berlari.
“Huekk!!..huekk!!”
Aku akhirnya mendengarnya suara itu mulai dekat tapi Vinny masih saja mencari sumber suara itu.
“Apakah digedung ini?.. bukan” kata Vinny sambil berdiri didepan gedung-gedung.
Jujur ini mulai seram, karena tanpa ada seorang pun yang berhasil selamat dan hewan pun juga benar-benar langka banget, bahkan aku sendiri hanya baru kali ini melihat hewan didunia ini, dan sekarang suara tangisan balita?.
Suara tangisan itu seperti suara tangisan balita yang mungkin umurnya sekitar 2-3 tahun, dan suaranya mirip seperti Suara anak perempuan.
Apa dia sendirian disini, tapi itu tak mungkin karena kalau balita hidup disini sendirian seharusnya dia sudah mati. Apa jangan-jangan bersama keluarganya?, Wow itu benar-benar keluarga yang keren, pikirku.
Vinny terus menerus mencari sumber suara itu. Aku yang gak tau harus ngapain, aku hanya mengikutinya saja.
Lama kelamaan suara itu semakin lama semakin keras, dan kayaknya sebentar lagi Vinny menemukan sumber suara itu.
Dan akhirnya Vinny berhasil menemukan sumber suara itu, sumber itu berasal dari sebuah gedung putih yang besar dan bentuknya seperti kotak, dan gedung itu tampaknya sebuah apartemen.
Apartemen yang besar, berwarna putih yang mulai memudar, apartemen itu masih kokoh berdiri dengan tanaman rambat yang menjalar di setiap dinding-dindingnya. Tampaknya seperti sudah lama ditinggalkan tapi masih berdiri kokoh, aku yakin para produser film horor benar-benar menyukai apartemen ini untuk membuat filmnya.
Aku melihat keatas apartemen itu dan tampaknya atasnya masih baik-baik saja, walaupun ditumbuhi pohon-pohon yang besar.
Kaca-kaca jendela apartemen itu sebagian telah hancur, mobil-mobil mewah dengan merk terkenal terparkir dengan bagus dan masih bisa digunakan tampaknya.
“Kemana semua orang?” tanyaku terheran-heran.
Masa mereka meninggalkan kota ini tanpa mobilnya yang keren dan bagus bahkan harganya berjuta-juta lebih.
“ayo kak!!” sahut Vinny sambil menggenggam tanganku dan membawaku ke dalam apartemen itu.
__ADS_1