
Kami berjalan melewati jalanan yang benar-benar sepi, yang kulihat hanyalah bangunan-bangunan yang mulai hancur dan tanaman yang merambat ke bangunan-bangunan itu, mobil yang masih terparkir dan berada ditengah jalan, bahkan mobil-mobil tersusun rapi dijalanan yang terlihat seperti biasanya.
Kami terus berjalan, dan setiap kali aku melihat sebuah mobil yang berada disamping atau didepanku, aku langsung melihat kacanya.
Siapa tau ada hal yang paling penting dimobill itu dan saat aku melihatnya kekaca salah satu mobil aku menemukan sesuatu.
Mobil itu berbentuk sedan dengan warna putih yang sudah mulai pudar, didalam mobil itu terlihat seperti sebuah pistol yang mirip dengan aslinya.
“kalian, duluan lah!!” seruku.
“okey kakk!!” Sahut Vinny.
Aku mencari cara agar aku bisa mengambil pistol itu, aku melihat disekitar mobil itu dengan seksama tapi sayang aku tak bisa menemukan apapun untuk menghancurkan kaca itu.
“Kalau gak cepat-cepat aku bisa ditinggalin nih” pikirku.
Kaca itu benar-benar keras dan Vinny tampaknya sudah berjalan jauh, aku pun mencoba membuka pintu itu tapi sayangnya pintu itu terkunci.
Dengan sedih dan kecewa aku terpaksa pergi meninggalkan pistol itu padahal tampaknya pistol itu benar-benar berguna.
Aku berjalan dibelakang Vinny, dan melihat senyuman Vinny yang manis, dia tampaknya asyik mengobrol dengan tio, sambil menggendong balita itu.
Aku tersenyum melihatnya, dia seperti kakak yang baik dan aku yakin saat dia dewasa nanti, Vinny akan menjadi ibu yang baik.
Kami terus berjalan dan aku melihat tiang-tiang lampu yang dililit oleh tanaman, kalau aku punya kamera aku akan memotonya dan mungkin aku bakalan memenangkan sebuah penghargaan bergengsi di The “International Photography Awards”.
__ADS_1
dan yang paling keren itu adalah singkatannya, singkatannya itu salah satu dari jurusan SMA, benar-benar keren.
Itu benar-benar bagus asalkan memiliki pencahayaan yang cukup dan pas ketika kita memoto nya.
Vinny tampaknya kelelahan, dia perlahan-lahan mulai melambatkan langkah kakinya.
“Vin!” panggilku.
“Kenapa kak?” tanya Vinny keheranan.
“sini kugendong balita itu” kataku.
Saking lelahnya Vinny tak bisa berkata-kata apa lagi, dia langsung memberikan balita itu padaku.
“makasih banyak yah kak” sahut Vinny.
“Vinn, coba aja lu bawa kamera, pasti bagus dijadikan foto tuh” sahut ku sambil menatap Vinny.
“iya sih kak, soalnya tempat-tempat kayak gini indah banget walau agak serem sih” balas Vinny.
Tempat ini benar-benar indah dan cukup menakutkan, aku benar-benar kagum pada anak itu, dia berusaha keras untuk bertahan hidup bersama adiknya.
Tapi hanya ada satu pertanyaan didalam pikiranku “kenapa mereka berdua bisa bertahan hidup disini?”
Maksudku gimana mereka bisa menemukan makanan, kecuali ada yang mengunjungi mereka berdua setiap jam, Minggu atau apapun itu.
__ADS_1
Aku jadi curiga dengan anak itu, tapi apa ada seseorang?, Kuharap bukan pria itu, kalau itu benar-benar si pria, bagaimana bisa dia kesini?.
Kami berdua terus berjalan, Vinny sedang asyik mengobrol dengan tio, dan aku menggendong balita itu.
“Kakak suka kak Danny yah?” tanya Tio penasaran.
Tiba-tiba wajah Vinny berubah menjadi merah, aku yang melihatnya agak cemburu.
“Ke...ke..kenapa kamu bi...bi..bilang gitu?” tanya vinny dengan gagap.
Dia benar-benar gagap, wajahnya mulai memerah.
“nanya aja kok gak, tapi ternyata benar kan?” tanya lagi.
Anak itu berhasil membuat Vinny menunduk dengan malu.
Kayaknya anak itu juga tau kalau aku menyukai Vinny, dia langsung melihat ke arahku, sambil tersenyum.
Tiba-tiba dia menyurih Vinny untuk mendekatinya, lalu anak itu membisikkan sesuatu pada gadis yang aku sukai itu, aku tidak tau apa yang dia bisikkan
“Tadi kak Danny bilang, dia benar-benar suka kakak” bisik tio pada Vinny.
Vinny langsung terdiam dan melihat kearahku sambil memerah.
Dan saat aku melihat wajah itu aku langsung menunduk, “kenapa tiba-tiba”pikirku dengan kaget.
__ADS_1
Dan saat itu aku dan Vinny mulai canggung , aku benar-benar tidak tau harus mengobrol apa dengannya. Dan tampaknya Vinny terus menerus mengobrol dengan anak itu ketimbang denganku, aku jadi agak sedih.
Kami akhirnya sampai ke ujung jalan dan menemukan sebuah hutan yang lebat, dan anak itu bilang kalau gua itu berada dibalik Hutan ini.