Apocaliptik

Apocaliptik
chapter 8


__ADS_3

“Gluppp”


Kami tenggelam dalam arus air yang deras.


“Sial, dimana Vinny?” Aku melihat ke sekeliling ku, dan aku menemukan Vinny yang terbawa arus air yang deras.


Aku berenang melewati arus air yang deras ya minta ampun, aku berenang dan mencoba untuk meraih tangannya.


“Ayo Vin” kataku dalam hati.


Aku sadar kalau vinny sedang pingsan, aku melihat disekelilingku, dan akhirnya menemukan sebuah kotak.


Aku mengambil kotak itu dan memegangnya, tanganku yang lain mencoba menggenggam lengan Vinny dengan sekuat tenaga.


“Ayolah Danny” dalam hatiku aku menyemangati diriku sendiri.


Aku mencoba sekuat tenaga ku memegang kotak itu dan memegang lengan si gadis itu dengan arus air yang luar biasa.


“vin, sadarlah!!” kata hatiku. Aku sudah tidak tahan, aku ingin melepaskan keduanya tapi aku tidak bisa.


Aku harus kuat, aku mengganggap ini adalah latihan untuk lenganku tapi arus itu benar-benar deras.


Sambil menutup mataku, aku berharap “aku harap ini akan segera berhenti”


Dan untungnya harapanku benar-benar terjadi. Aku bersama Vinny akhirnya berhasil melewati arus itu dan kami berdua sedang berada di dasar laut.


“kuharap pria itu baik-baik aja” kataku.


Gadis itu akhirnya terbangun dari tidurnya.


“Apa yang terjadi kak?” tanya Vinny keheranan.


“jangan khawatir” kataku seolah-olah tak terjadi apapun.


Aku melihat disekelilingku, dan itu hanya hamparan lautan yang luas.


“mungkin inilah kutukan yang dikatakan pria itu kak” kata vinny dengan yakin.


“mungkin kau benar” jawabku.


Bayangkan dua remaja yang tersesat di hamparan lautan yang luas dan tak tau arah jalan pulang.


“ah sial!!” kataku.


Aku bergegas mengambil sesuatu di kantong celanaku dan sayangnya kertas itu hancur dan basah.


“gapapa kok kak, tapi bagaimana dengan jam itu?” tanya Vinny dengan heran.


Ah iya aku ingat akan jam itu, aku dan vinny terlempar kesini gara-gara jam sialan itu.


“tunggu, coba kita putar jarum jam itu lagi, apa kita bisa balik?” aku bertanya-tanya.


Aku langsung memutar jarum jam itu, tapi sayangnya itu tak berhasil, dan Vinny mencobanya tapi sayang itu juga tak berhasil dan kami pun mencobanya bersama-sama tapi hasilnya tetap nihil.


“Kak, maaf, aku kayak gak berguna gitu” sesal Vinny.


Aku hanya tersenyum, “ jangan berpikir kayak gitu Vin, jujur ini benar-benar seru banget sumpah” kataku dengan nada semangat.


“bisa berpetualang, dan bisa lebih akrab lagi sama Vinny” tambahku.

__ADS_1


Telinga Vinny memerah dan tampaknya seperti ada asap yang keluar dari kepalanya.


“kau demam?” tanyaku sambil menyentuh dahinya.


“kakakk!!!” seru vinny dengan wajah yang memerah seperti tomat yang segar.


Kami hampir saja terjatuh.


“aku hanya bercanda” balasku sambil tersenyum.


Dia memasang wajah yang lucu, maksudku cemberut.


Kami terapung-apung dihamparan lautan itu.


“Jangan pernah menatap ke bawah, okey?” kataku dengan yakin.


Aku takut kalau ada yang menarikku dari bawah sana, lautan yang bahkan aku sendiri tak tau berapa kedalamannya.


“okey kak” balas Vinny.


Dia gadis yang penurut, rambutnya agak panjang berwarna hitam, tingginya mungkin hampir sama denganku sekitar 154-156 cm.


Kami terus mengapung didasar lautan itu.


Karena bosan Akku dan Vinny tertidur sambil memegang kotak itu.


“Dukk!!”


Dentuman itu membangunkan kami berdua. Tampaknya kotak kami terkena sesuatu, dan aku benar-benar tidak menyangka akan hal itu, itu adalah minimarket yang cukup besar, dia mengapung dalam kesunyian dan keheningan lautan.


Aku melihat ke arah minimarket itu dan menemukan sebuah lubang yang memungkinkan untukku dan Vinny masuk kedalamnya.


Aku dan Vinny berhasil masuk kedalam minimarket itu, minimarket itu masih kelihatan gagah walaupun banyak lumut yang hinggap dimana-mana.


“Kak, kakak yakin kita diam disini?” tanya Vinny khawatir.


“jangan khawatir” balasku.


Dari dalam kelihatan bahwa makanan dan minuman masih terpaku pada rak-rak itu.


Lantainya berwarna putih kehijauan karena lumut yang hinggap, dinding-dindingnya berwarna putih dengan corak kehitam-hitaman, makanan dan minumannya kelihatan seperti berjamur dan basi.


Bau-bau nya menyengat bahkan membuat kami ingin muntah. Bau susu basi, dan minuman lain tercampur menjadi satu dibangunan ini.


“Aku tau kau ingin muntah Vin” ejekku.


“kakak kali yang mau muntah” balas Vinny dengan agak kesal.


“dih mana ada” balasku sambil tertawa.


Kami berjalan melewati Rak-rak itu satu persatu sambil menahan Indra penciuman kami.


Minuman, makanan bahkan mainan yang sering dijual di minimarket tak layak lagi kami gunakan.


Diantara itu semua yang paling bau adalah rak yang menjual minuman, Minuman-minuman itu terdiri dari berbagai macam-macam merek dan jenis.


“kak, kakak yakin tahan?” ejek Vinny sambil menutupi hidungnya.


“yakin kok” balasku dengan yakin.

__ADS_1


“vinny siap-siap yah” kataku sambil mengambil ancang-ancang dan membuka kulkas yang berisikan susu dan produk minuman yang lain.


Setelah aku membuka pintu kulkas itu, baunya benar-benar menyengat, Saking menyengatnya membuat kami hampir pingsan.


Aku menarik nafasku dan mencari sesuatu yang berguna.


“vinny cari di bagian makanan, siapa tau disitu ada sesuatu” suruh ku.


Vinny bergegas ke bagian makanan.


“sial, bau ini...” aku sebenarnya tidak tahan dengan bau itu, tapi aku mencoba sekuat tenagaku. Dan hasilnya benar-benar nihil.


“jadi, ini bagian makanan?” pikir Vinny sambil melihat ke sekelilingnya..


Beberapa makanan terpajang dalam rak itu, berbagai merek dan jenis, bungkusnya berdebu dan saat disentuh makanan itu langsung hancur.


“kayaknya disini gak ada makanan deh” pikir Vinny, Vinny lanjut mencari sesuatu yang berguna.


Saat Vinny melihat ke sekeliling nya dia menemukan sesuatu.


“Tunggu, ini kan?”


Vinny bergegas mendatangi ku dan memberikan sesuatu padaku.


“Apa ini Vin?” tanyaku dengan heran.


“ini senter kak, siapa tau ini penting” jawab Vinny sambil memberikan senter itu padaku.


“makasih Vin” kataku.


Senter itu tampaknya masih baru dan belum digunakan sama sekali dan untungnya baterai nya sudah ada didalam.


“click!!”, tak kusangka senternya masih bisa menyala walaupun gak seterang yang kuexpetesikan.


“kayaknya kita harus nyari makanan di laut ini deh Vin” sahutku dengan serius.


“gimana caranya kak?” tanya vinny keheranan.


“itu ada sapu, bisa kamu ambilkan gak Vin?” tanyaku sambil menunjuk ke arah sapu itu.


Vinny mengambil sapu itu dan memberikannya padaku.


“ini kak!!”


“kalau gak salah aku melihat sebuah tali deh, bisa kamu berikan padaku?” aku meminta tolong padanya.


Dia langsung bergegas dan mencari sebuah tali dan setelah selesai mendapatkannya, dia memberikan nya padaku.


“apa disekitar sini tak ada benda tajam?” tanyaku keheranan.


“Kayaknya ada deh kak, bentar aku cari tau dulu yah kak” kata Vinny sambil bergegas mencari benda yang aku katakan tadi.


Dan tak selang berapa waktu dia menemukan, menemukan sebuah benda yang hampir mirip pisau.


“Pisau ini masih berbungkus, kayaknya nih minimarket ada jualan pisau juga nih” pikirku dengan heran.


Aku mengikat pisau itu ke tongkat tadi, aku mengencangkan ikatannya membuatnya seperti sebuah tombak


.

__ADS_1


__ADS_2