Apocaliptik

Apocaliptik
chapter 22


__ADS_3

“Tunggu dulu Vin” tegasku.


“Apa yang ditunggu kak?” Tanya Vinny kebingungan.


“Kita gak mungkin kan hanya membawa diri saja” kataku sambil menatap matanya.


Vinny pun tersadar, dia tentu gak mungkin membawa dirinya sendiri tanpa bawa apapun.


Yah setidaknya bawa salah satu yang berguna untuk diperjalanan nanti.


“Adek, adek bawa Sesuatu berguna yang berguna yah” kataku dengan nada yang lembut.


Aku pun bergegas menuju kamar orang tua dari adek itu, membuka lacinya dan lemari pakaiannya, aku tau ini benar-benar tidak sopan tapi mau gimana lagi ini benar-benar terpaksa.


Lemari itu hanya berisi pakaian laki-laki dan perempuan yang tergantung, dan lacinya, yang kutemukan hanyalah make up wanita, dan banyak sampah bagiku.


Tampaknya disini benar sampah-sampah, kuharap mereka menemukan sesuatu yang berharga.


Vinny berada di dapur dan membuka sebuah laci yang berada di atas kompor, dia menemukan beberapa makanan, tapi sayangnya makanan itu sudah tak layak untuk dimakan.


Vinny melihat-lihat disekitar dapur itu dan tampaknya dia sudah tau apa yang dia bawa.


Yang dia bawa adalah Sebuah pisau dengan motif yang menarik, gagang pisau itu bermotif seperti naga yang mengeluarkan apinya.


Sedangkan Tio membawa sebuah boneka bayi yang menakutkan itu, dan bukan hanya itu saja, dia membawa foto keluarganya, mungkin untuk kenang-kenangan.

__ADS_1


Adiknya tertidur pulas dan Vinny pun langsung menggendongnya seperti anaknya sendiri.


“Kau tampak seperti ibu dia yah” sahutku sambil tersenyum tipis.


“dan kakak adalah suaminya” kata Vinny sambil tersenyum menatapku.


Aku langsung terdiam, aku.. aku tidak bisa berkata-kata apa lagi, sial dia benar-benar tahu kelemahan ku.


“Apa yang kalian omongin?” tanya anak itu dengan penasaran. Dia benar-benar anak yang polos.


Kuharap anak itu akan terus seperti itu, tapi terlalu polos itu juga tidak baik kata temanku.


“Kami tidak ngomong apapun kok” kata Vinny sambil tersenyum pada anak itu.


“kemana kita pergi nak?” tanyaku sambil melihat kearahnya.


Tampaknya aku salah bicara, dia langsung ketakutan saat aku berbicara.


“kak, diam dong” sahut Vinny.


“ah iya... Iya maaf” kataku. Aku benar-benar bingung, kenapa dia ketakutan saat aku berbicara, apa aku salah ngomong atau apa?.


“tio, kakak mau nanya nih, sekarang kita harus kemana?” tanya Vinny sambil tersenyum manis padanya.


Aku benar-benar iri, aku juga ingin melihat senyuman manisnya itu.

__ADS_1


“Lewat sini kak, ayo ikuti Tio” sahut Tio sambil menggenggam tangan Vinny dengan erat.


Jujur aku tidak cemburu tapi gimana yah tanganku benar-benar ingin memukul sesuatu saat ini. Perasaanku mulai kesal, padahal dia hanya anak kecil tapi aku benar-benar cemburu kayaknya.


Vinny tampaknya melihat wajah ku yang agak sedih, dan dia langsung tersenyum kearahku, dan dia menggenggam tanganku lalu mengatakan sesuatu yang paling tak bisa kulupakan, kuharap aku terus mendengar dia mengatakan hal itu lagi dan lagi.


Dia mengatakan “ayolah sayang” sahutnya sambil tersenyum kearahku.


Tampaknya sekarang kepalaku mengeluarkan asap, dengan gagap aku menggenggam tangannya yang halus dan lembut itu.


Hatiku semakin kacau, jantungku terus saja berdebar setelah dia mengatakan hal itu.


“kakak demam yah?” tanya anak itu sambil melihat kearahku.


“hah, gak kok, gak demam” kataku sambil menahan rasa bahagia ku.


“kakak yakin?” tanya vinny.


Vinny melepaskan genggamannya dan langsung menyentuh dahiku. Sontak kepalaku langsung tambah panas karena hal itu, aku benar-benar tak sanggup lagi, mungkin aku akan pingsan kalau aku menginginkannya.


“Vinny udah yah” sahutku Sambil menahan rasa canggung ku terhadapnya.


“Hmm... Oke kak” balas vinny


Kayaknya Vinny cemberut gitu, dan kami berempat pergi menuju ke gua itu dengan bekal yang kami bawa, kuharap salah satu dari kami membawa makanan.

__ADS_1


__ADS_2