Apocaliptik

Apocaliptik
chapter 3


__ADS_3

“hah” desahku sembari melihat langit yang benar-benar gelap tak bernyawa.


Aku tak bisa tidur, aku hanya melihat langit dan wajah imutnya yang sedang tertidur.


Tersenyum seolah-olah tak terjadi apa-apa, yang sebenarnya itu membuat ku menderita.


“Sial” remaja itu menyesali perbuatannya sembari melihat langit yang gelap.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku kepada remaja yang menyesali perbuatannya itu.


Aku terus berpikir. Berpikir keras walaupun tak ada jawaban.


Tiba-tiba Gadis itu terbangun dari tidurnya.


Duduk di sampingku sambil bersandar padaku.


“kak, kenapa kakak gak tidur?” Gadis itu bertanya sembari mengusap matanya yang sedang kelelahan.


Aku tersenyum “gapapa kok Vin” .


“kita bisa keluar gak yah?” gadis itu merasa khawatir.


“Jangan khawatir Vin” aku menyemangati dirinya, mencoba untuk tenang.


Suasananya begitu tenang, tak ada lagi suara hewan maupun air yang mengalir, benar-benar tenang, bahkan langit pun tidak memancarkan bintang-bintang bersinarnya lagi.


“Kak, aku... Aku takut” takut Vinny.


“jangan takut Vin, aku ada disini kok” sahut remaja itu.


Gadis itu tersenyum kembali.


“vin, aku boleh nanya gak?” tanyaku pada dirinya.


“nanya?, nanya apaan kak?” Jawab Vinny penasaran.


“vinny suka apa?” aku bertanya sembari melirik ke gadis yang sedang bersandar padaku.

__ADS_1


“heh..., Kalau Vinny sukanya nonton film, baca buku, gitu aja sih kak” jawab Vinny dengan nada yang lembut.


“film apa Vin?” tanyaku lagi.


“pokoknya film sih kak” sahutnya.


Aku tertawa kecil, bingung mau bicara apa lagi dengan dirinya.


Malam terasa dingin, wajah gadis itu pucat seperti es, aku langsung melepaskan bajuku dan menyelimuti dirinya.


Sekarang aku hanya menggunakan kaos hitam, syukurnya gak ada nyamuk disini, walaupun kegelapan menyelimuti kamu berdua, kami berusaha semaksimal mungkin untuk mencari jalan keluar, itulah jalan kami.


Gadis itu tertidur lelap dalam pangkuan ku, aku tersenyum gak tau harus berkata apa lagi, karena aku benar-benar bahagia bersamanya.


“Aku jadi penasaran, apakah mereka akan mencari Kami berdua atau enggak yah, aku jadi penasaran”.


Keheningan hanya itulah yang ada didalam pikiranku, hening tak ada suara, bahkan suara malam pun tak bisa kudengar sama sekali.


Yang ada hanyalah reruntuhan, lumut, dan kegelapan yang menyelimuti.


Dalam benakku hanya tertuju pada satu pertanyaan, “apa yang terjadi?”.


Pertanyaan itu selalu menghantui pikiranku.


Kuharap ini bukanlah kiamat zombie, tapi aku memang gak mungkin, karena zombie macam apa yang tidak keluar malam-malam begini, dan itulah pikirku.


Gadis itu tertidur dengan manis, dia memeluk pakaianku saking dinginnya.


Sebenarnya suara angin memang gak ada, tapi entah kenapa suasananya membuat dingin.


Entah kenapa aku jadi teringat ibuku. Aku sering kali tertidur di pangkuannya.


“Sial” sesalku.


Aku jadi kangen sama ibuku, sebenarnya aku adalah orang yang cengeng, tapi karena didikan ibuku aku berubah menjadi seperti ini.


“Makasih Bu, mungkin kalau ibu gak mendidik aku kayak gini, aku bakal nangis dan mungkin langsung stress” kataku sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Bukan hanya ibuku yang kuingat, tapi ayahku juga. Ayahku orang yang tegas. Waktu terus berjalan dalam kesunyian malam.


“Air?” tanyaku dengan heran.


Aku mencoba untuk membangunnya.


“vin...vinnyy” panggillku sembari mengelus kepalanya dengan lembut.


Gadis itu masih tertidur dengan lelapnya.


Aku berpikir, apakah aku akan meninggalkannya disini sendirian atau mungkin tidak.


“Vin, ayo bangun” sahutku sembari mencoba membangunkan dirinya yang telah terbawa arus mimpi.


“sial, dia tertidur pulas nih” kesalku.


Entah kenapa dibawahku seperti lembab, aku melihat kebawah dan langsung kaget.


“vinn, vinn.... bangun Vin!!” seru ku.


Tapi sayang gadis itu masih terbawa arus mimpinya. Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan awan.


“Sial, kita harus pergi ke sini Vin” kataku dengan panik.


Tapi gadis itu masih saja tertidur, aku khawatir dan langsung menyentuh dahi gadis itu.


“astaga, Vin!?” aku sontak kaget, tubuhnya benar-benar panas dan air mulai pasang.


Perasaan ku campur aduk antara bingung, kecewa, takut, panik dan khawatir.


Aku langsung menggendongnya, melihat kesana dan kemari, air mulai pasang dan tiba-tiba terdengar suara yang keras sekali.


“Brughtttg!!!!” seketika reruntuhan itu langsung terjatuh di hadapan jalan keluar kami.


Aku bingung sembari menggendongnya, mencoba berpikir Dnegan tenang.


Bibir gadis itu pucat, dahinya panas seperti sinar matahari dikala siang.

__ADS_1


__ADS_2