
“kayaknya sih kak” balas Vinny dengan kurang meyakinkan.
Gua itu sangat besar, dan tampaknya benar-benar luas, gua itu ditutupi pasir berwarna kuning keemasan, dan Didalam terbuat dari batu marmer yang kuat.
Kami melompat hingga ke pintu gua itu dan berjalan masuk kedalamnya. Benar-benar panas dan mengerikan, bahkan membuatku berkeringat sama sekali saat berada didalamnya.
Aku tidak yakin dengan Vinny tapi entah kenapa kayaknya dia gak kepanasan sama sekali bersama dengan balita itu.
“Kau gak kepanasan?” Tanyaku dengan heran.
“Enggak kak” jawab gadis itu.
“Hah? Lo serius?” kagetku dengan ekspresi tak percaya.
“iya kakak ganteng “ bales Vinny.
Sial itu benar-benar membuat pipiku merona, kami terus berjalan menuju kedalam gua itu.
Aku melihat disekelilingku, tampaknya para monster itu tidak berani ke gua ini, padahal kami sudah tidak menginjak batu batu itu.
Gua ini benar-benar membuatku takjub dan tampaknya vinny masih kepikiran akan anak itu, dia masih saja murung.
Aku mencoba menenangkan dia tapi aku tak bisa mendekatinya, gadis itu seperti membuat sebuah penghalang agar aku tidak bisa kesana.
__ADS_1
Aku, maksudku kami. melanjutkan perjalanan kami hingga akhirnya kami berada diujung gua itu.
Didepan kami, terdapat sebuah kursi yang terbuat dari batu gua itu, benar-benar kursi yang keren, dan dibelakangnya tak ada jalan, hanya dinding dengan tulisan aksara-aksara aneh, dan disamping kanan dan kirinya terdapat sebuah patung,
Patung itu benar-benar membuatku mengerikan.
“kak, lebih baik kita harus hati-hati deh” sahut Vinny dengan khawatir sambil melihat patung itu.
“Kenapa emangnya Vin?” tanyaku dengan heran.
“tatapannya serem kak, coba Kaka perhatiin” sahut vinny dengan khawatir dan memegang balita itu dengan erat.
Aku tanpa berpikir panjang langsung melihat tatapannya dan aku salah bukan tatapannya yang mengerikan tapi senyumannya.
“Gapapa kok Vin” sahutku dengan yakin.
Dan aku tak memperdulikannya, aku langsung bergegas menuju kursi itu dan duduk dan seketika saat aku melihat patung itu senyumannya menghilang seperti dia sedang marah dan tiba-tiba aku langsung tersadar.
“Vinny mundur!!” Teriakku, dan seketika Vinny mundur dan untungnya dia dan balita itu baik-baik saja.
“Whushhh!!” patung itu mengayunkan senjatanya yang terlihat seperti kapak.
Aku langsung bergegas menjauh dari kursi itu, aku hendak menghampiri Vinny tapi, tiba-tiba didepanku patung itu ada dan mengayunkannya dan untungnya aku bisa menghindar.
__ADS_1
“Sial” kataku.
Patung itu tampaknya bangkit dan dia mencoba untuk menyerangku untungnya Vinny dan balita itu bersembunyi dibalik batu.
Kedua patung itu benar-benar ganas sekali, hawa pembunuhnya benar-benar menyeramkan.
“ayolah guys, aku baru aja ngalahin gurita, kapten gila dan melewati monster cacing seberat lebih dari 100 ton!!” seru ku dengan agak sedikit kecewa.
Tampaknya patung itu tidak memahami ku, mereka berdua seperti penjaga gua ini.
Aku yakin ini ulah penyihir gila itu.
Patung itu terus saja ingin mengayunkan kapaknya padaku. Aku hampir saja terkena senjata itu.
Vinny melihatku, dia ingin menolong tapi dia masih ketakutan.
Aku mengerti aku tidak bisa menyalahkan dirinya karena dia seorang gadis, dan dia juga sudah menolongku yaitu untuk menjaga balita itu.
Aku benar-benar tidak bisa berpikir sekarang, aku bersembunyi dibalik kursi itu saat ini.
“Kedua patung itu masih saja mencari” kataku.
Vinny melihat kedepan.
__ADS_1
“dimana kakak?” tanya Vinny keheranan.
“Kuharap dia baik-baik saja” sahut Vinny dengan nada kecil.