
Aku tidak memperdulikan ramalan itu, sebenarnya....
Entahlah, tapi kalau ramalan itu benar-benar terjadi, itu akan benar-benar keren, apalagi tentang penyihir dan perempuan dan juga dua pahlawan gila yang berhasil menyelamatkan dunia?.
Aku dan Vinny saling menatap satu sama lain, ramalan yang aneh, jangan terlalu percaya pada ramalan bodoh yang muncul dipasir laut yang dalam.
Maksudku ayolah, siapa yang bodoh menuliskan sesuatu di pasir yang sudah jelas pasir itu berada didasar lautan.
Tapi masa sih itu sihir, kepalaku benar-benar pusing, secara logika tidak mungkin pasir yang berada didasar lautan bisa dituliskan tapi kalau itu sihir kemungkinan itu semua bisa terjadi.
Tapi siapa yang menuliskan hal itu?, Aku benar-benar pusing.
Vinny melihat kearahku dan langsung memegang pundakku dengan lembut, aku tau dia khawatir padaku tapi aku masih pusing dengan tulisan itu.
Tulisan itu selalu terngiang-ngiang dikepala ku.
“ah, sial” apa yang kupikirkan, aku harus segera mencari tentakel-tentakel itu untuk dijadikan bahan makanan.
Apa yang harus kumasak, aku memikirkan banyak sekali masakan.
Aku membawa beberapa, dan tentakel-tentakel itu selalu saja bergerak seperti cacing kepanasan.
Aku hampir saja tidak melihat apapun karena tentakel itu.
Aku berhenti dan entah kenapa Vinny nyaman sekali membawanya.
Vinny melihat kesamping dan dia tampaknya sedang kebingungan dnq saat dia melihat kebelakang dia langsung bergegas menemuiku.
Dia benar-benar gadis yang baik, dia bahkan seperti ingin menghampiri ku.
“Kakak kayaknya sedang kesusahan nih” pikir vinny.
Vinny berpikir dengan keras, bagaimana caranya agar bisa membantuku membawakan tentakel-tentakel itu.
Kami tidak bisa terus-terusan berada disini, aku masih sibuk berurusan dengan para tentakel-tentakel yang terlalu lengket padaku sedangkan Vinny sibuk mencari cara untuk membantuku.
Vinny pun akhirnya mendapatkan sebuah ide, dia hanya menarikku menuju permukaan.
Kami berdua terus berenang dan terus menerus berenang, tanpa takut, tanpa memikirkan apapun kami terus berenang ke permukaan air.
__ADS_1
Tapi aku masih saja memikirkan tentang ramalan itu, maksudku ramalan itu benar-benar gila, tapi aku harap aku jangan terlalu memikirkan ramalan itu.
Apakah aku harus ke dokter psikologi?, karena aku selalu memikirkan ramalan itu.
Dunia apa yang harus diselematkan?, Apakah dunia ini? Atau dunia lain?.
Ini semua gara-gara jam gila itu, aku benar-benar membenci jam itu, aku harap jam itu hancur berkeping-keping.
Aku jadi ingat tentang mendiang kakekku, dia selalu saja bercerita tentang dongeng-dongeng, mitologi, legenda, masa-masa itu benar-benar indah.
Dia bercerita tentang pahlawan, makhluk mistis, dan bahkan dia bercerita tentang tujuh makhluk kerdil yang berteman dengan gadis yang memakan sebuah apel lalu pingsan, yah setidaknya dia tidak menciptakan ilmu pengetahuan baru tentang bagaimana cara memakan apel yang baik dan benar.
Dan bukan hanya itu, dia bahkan bercerita tentang boneka kayu yang bisa hidup, dan hidungnya bisa memanjang ketika dia berbohong, aku pernah berpikir, kalau aku berbohong aku akan seperti dia.
Kami terus saja berenang entah kenapa lama sekali Samapi ke permukaan, tentakel-tentakel itu mulai menutupi hampir seluruh Wajahku.
Aku benar-benar berterimakasih pada gadis itu, dia benar-benar gadis yang luar biasa kalian tau, dia membantuku mengalahkan gurita gila itu, menusuk penglihatan gurita itu hingga matanya merah, menusuk tentakel gurita itu hingga kesakitan, menyelamatkan dirimu saat hampir dibunuh oleh gurita itu. Kekuatan gadis memang luar biasa aku mengakuinya.
Dan aku yakin dia gadis yang kuat suatu hari nanti, dan untuk perasaan, aku benar-benar mencintainya.
Dan aku benar-benar paham kenapa banyak yang suka padanya, dia cantik, manis, imut, lucu, perhatian, pemberani, dan dia bisa jadi cewek mandiri dan bucin, dia benar-benar luar biasa dalam segala aspek.
Kalau aku menikahinya aku benar-benar bahagia, bahkan saking bahagianya aku tidak bisa berkata-kata lagi.
“apaaa!??” kata Vinny “gak.... gak mungkin”
“Kenapa Vinny seperti itu? Aku jadi penasaran” Tanyaku keheranan -heranan.
“Ke..kenapa Vin?” Tanyaku dengan gagap karena terhalang oleh tentakel-tentakel itu.
Tentakel-tentakel yang benar-benar menyebalkan.
“Kak, minimarket nya kak, minimarket nya” sahut Vinny dengan agak panik.
Aku mencoba untuk melihat lebih jelas lagi, tapi tidak bisa dan aku terpaksa membuang tentakel-tentakel yang kubawa itu.
Dan sungguh aku tak mempercayainya, mini market itu pergi menjauh, benar-benar terlalu jauh untuk mengejar.
Aku dan Vinny saling menatap satu sama lain dan menghela nafas.
__ADS_1
“Jadi gimana nih kak?” Vinny bertanya padaku.
Jujur aku juga bingung, aku benar-benar bingung sekarang, apa yang harus kulakukan, berenang hingga menemukan sebuah kapal, atau pulau? Atau apa?....
Memangnya didunia seperti ini, ada pulau?, Ada kapal?...
Kepalaku hampir meledak karena ini saja, jujur aku ingin cepat-cepat berada dirumah, dan meminum segelas susu hangat dan makan roti sambil nonton TV, itu pasti menyenangkan.
Ah aku ingin menonton kartun, ada kartun yang seru di TV ku, judulnya kalaau gak salah sih si maniak kerja dan si guru les anak-anak. Mereka berdua kartun yang lucu, maksudku si maniak kerja yang digajih sedikit tetap berkerja giat untuk membuat sebuah burger yang benar-benar enak, dan si guru les yang anak-anak yang mempunyai monyet berwarna biru.
Asal kalian tau guru les itu benar-benar mendidik, dia berbicara pada kita dan kita harus menjawabnya, dan dia berulang kali menanyakan hal yang sama pada kita dan setelah kita bicara lebih keras maka guru les itu melanjutkan perjalanannya.
Dia benar-benar guru les terpercaya, ah maaf aku membahas sebuah kartun, aku benar-benar stress karena hal ini, makanya aku membahas sebuah kartun kesukaan ku.
“Kak, kakak... Kakak jangan melamun!!” seru Vinny sambil berteriak kepadaku.
Aku langsung tersadar dan meminta maaf padanya. Aku benar-benar stress kayaknya, maksudku untuk saat ini tepatnya.
Bahkan saking stresnya membuatku tidak fokus sama sekali apa yang dikatakan Vinny tadi, dan aku hanya mengangguk saja.
“kakak sekarang gimana?” tanya vinny lagi sambil menatapku dengan tatapan tajam.
“Ah, tatapan itu” tatapan Vinny ketika tajam membuatku harus berpikir keras bagaimana caranya agar kami bisa keluar dari lautan ini.
“eh iya kak, tentakel-tentakel kakak mana?” tanya Vinny keheranan.
Aku sebenarnya ingin jujur padanya tapi aku gak ingin membuat gadis manis ini sedih hanya karena tentakel gurita yang sudah kubuang.
“tentakel... eh iya tentakel-tentakel ku kemana Vin?” aku balik tanya padanya dengan pura-pura kaget.
“loh kakak gak tau tentakel-tentakel kakak kemana?” Vinny kaget sambil menatapku dengan tatapan yang sudah kutebak.
“iyah kakak gak tau, pantesan tadi kakak bisa liat, ternyata tentakel-tentakel nya udah hilang, kira kakak tadi tentakel-tentakel nya gak mengenai wajah kakak lagi” sahutku dengan ekspresi dan nada yang meyakinkan biar dia percaya.
“yaudah deh kalau gitu, kakak ambil punyaku aja yah, kita makan bareng-bareng” sahut Vinny.
Gadis itu terlalu baik, dan aku menolaknya, karena ini semua salahku karena sudah membuang tentakel-tentakel itu.
“kakak yakin?” tanya vinny khawatir
__ADS_1
“aku benar-benar yakin” Balasku dengan cukup yakin.
Gadis itu mengangguk dan bertanya padaku. “ gimana kak sekarang?”