
Anak itu berjalan duluan dan dia benar-benar berani, dia berjalan tanpa merasakan takut sedikitpun, tapi berbeda dengan Vinny.
Vinny tampaknya ketakutan, dia benar-benar takut untuk masuk kedalam hutan itu, memang hutan itu ditumbuhi pepohonan yang besar nan lembat, dan kami tidak tau apa yang ada didalam hutan itu, hutan itu seperti diselimuti kegelapan, walaupun batang dan daunnya seperti pohon biasa.
“Kau takut?” Tanyaku dengan penasaran.
“Gak kok gak” jawab Vinny walaupun aku tau sebenarnya dia sedang ketakutan, benar-benar takut untuk masuk kesana.
“Jangan takut, ada aku kok” sahutku.
Vinny tersenyum dan anak itu tampaknya kesal melihat Kami berdua “cepatlah kak!!” seru anak itu.
Aku menggenggam tangan Vinny sambil menggendong balita itu, dan seketika balita itu terbangun tapi untungnya balita itu tidak menangis sama sekali.
Aku dan vinny terus berjalan melewati hutan yang gelap gulita, benar-benar hutan yang menyeramkan, jika aku dan Vinny saja mungkin kami sudah tersesat dan tak akan pernah kembali dari hutan ini.
Jujur aku merasa risih disini, entah kenapa perasaanku seperti tidak nyaman saat beradaptasi dengan lingkungan hutan ini, berbeda dengan Vinny yang sedang memegang lenganku yang benar-benar ketakutan.
Balita itu seketika tidur kembali, balita yang benar-benar kalem.
Kami terus berjalan tak ada tanda-tanda hewan buas atau hewan apapun, Auman juga tidak ada.
Benar-benar hutan yang tenang tapi aku tidak percaya lagi dengan ketenangan karena aku sudah menghadapi lautan yang tenang dan ternyata disitu ada gurita gila raksasa.
Mungkin disini ada babi hutan, serigala besar atau mungkin saja monyet atau lebih buruk lagi suku kanibal.
Aku pernah menonton film yang bertemakan suku kanibal itu benar-benar mengerikan dan aku bahkan tidak berani menontonnya sampai habis.
__ADS_1
Anak itu tampaknya benar-benar bersemangat, kami terus berjalan dan saat istirahat kami menemukan pohon yang tampaknya memiliki beberapa buah.
“gimana caranya ?” tanyaku dengan heran.
“Pake ini mungkin bisa?” saran Vinny sambil memberikan sebuah pisau padaku.
Jujur aku gak yakin dengan pisau itu,walaupun kelihatan tajam dan masih kelihatan baru, tapi apa ini bisa Membelah batang pohon yang besar itu.
Jujur sebenarnya aku tidak yakin tapi aku harus mencobanya, kata seseorang mencoba bukanlah hal yang buruk.
Aku mencoba membelah batang pohon ini, tapi sayang batang pohon itu benar-benar susah untuk dibelah, bahkan pisau itu tertancap dengan kuat dibatang kuat itu.
“maafkan aku semuanya” sahutku.
Kami pun hanya beristirahat tanpa memakan apapun. Menahan rasa haus dan lapar.
Mayat itu bau.
Baunya masih belum menyengat dan manusia itu kelihatan seperti pria itu.
“pria tua!!!” teriak ku dan Vinny diikuti teriakan tio “om!!”
“loh kalian kenal?” tanyaku dengan kaget.
“eh seriusan?” tambah Vinny.
“Kalian juga?” Tio Bali tanya dengan kaget.
__ADS_1
Tio pun menceritakan semuanya Kepada kami.
“jadi kak, waktu itu saat aku berusaha keras untuk bertahan hidup, kami hampir mati dan disitulah pria itu datang dan menjenguk kami, katanya diluar sana tak aman jadi dia yang keluar lalu membawa makanan kekami” cerita anak itu.
Dugaanku benar ternyata pria itu sering mengunjungi tempat anak itu.
“Kalau gitu, ayo kita kubur pria itu, dia juga berjasa bagi kita” sahutku.
Aku langsung memberikan balita itu kepada Vinny, dan aku langsung menggali tanah itu diikuti oleh Tio.
Kami menggali dan pas merasa cukup kami langsung mengubur mayat pria itu.
“dia om yang baik, dia selalu memberikan kami makanan dan membuat kami bertahan hingga sekarang, aku benar-benar bahagia bertemu dengan om, yah walaupun beberapa Minggu om gak datengin kami” kata Tio.
aku tersadar mungkin itu karena pria itu merawat kami berdua.
“yah dia pria yang baik, dia juga telah menyelamatkan Vinny, dan akhirnya aku tidak sendirian disini, dia juga membuatkan kami makanan dan dia pria yang baik” balasku.
Vinny tampaknya ingin menangis, dia benar-benar kuat bahkan melihat hal itu, matanya memerah, dia ingin menangis.
“Jangan ditahan” kataku sambil mengambil balita itu dan menepuk pundak Vinny.
Vinny pun akhirnya menangis dihadapan kuburan pria itu. Kami berdua menunggu hingga Vinny akhirnya berhenti menangis.
“Ayo Vin, kita berangkat” sahutku.
“nanti kak” balas Vinny.
__ADS_1
Aku mengerti kenapa dia ngomong begitu, aku paham aku dan Tio pun berdiri di salah satu pohon dan melihat Vinny yang sedang berdiri menatap kuburan pria itu.