
Kami terlempar jauh kedalam lorong waktu.
“Sial, Vinny pegang tanganku!!” seru ku sembari memegang tangannya dan akhirnya kami terlempar seketika aku langsung memeluknya dan kami berdua terjatuh ke tanah.
“Brughh!!!”
“ka..kau baik-baik aja kan Vin?” Tanyaku dengan heran.
Vinny jatuh diatasku dan dia langsung berdiri dengan wajah yang sedikit memerah.
“Ah iya kak, tapi ini dimana ya kak?, Kok tempatnya agak seram gitu?” tanya Vinny dengan heran dan takut, dia menatapku dengan tatapan yang sedih.
“Hei vin, aku yakin kita bisa pergi dari tempat ini” kataku sembari menyemangati dia yang sedang bersedih.
Aku melihat di sekelilingku, tempat ini benar-benar mengerikan.
“hai Vin, kau pernah liat film tentang kiamat kan, yang dia berhasil naik helikopter dan akhirnya naik ke kapal itu?” tanya dengan heran.
“ah iya kak, aku pernah nonton film itu, kenapa yah kak?” heran Vinny.
“Kayaknya tempat ini sudah seperti di film itu deh, soalnya coba kamu liat”sahutku sembari menunjuk kedepan.
Vinny melihatnya dan dia benar-benar kaget, dunia itu sudah hancur y yang tersisa hanyalah puing-puing, jembatan hancur, jalanan yang sudah tidak rata lagi.
“Sreett!!” seketika jalanan itu mulai miring dan kami hampir terjatuh.
“Apa...apa yang terjadi?” tanyaku kaget.
Aku langsung bergegas mencari tiang jalan dan langsung menggenggam erat tiang jalanan itu dan memegang tangan Vinny dengan sekuat yang aku bisa.
“Kak, lepasin aja gapapa kok” pasrah Vinny sembari menatapku.
“Maaf Vin, aku gak bisa” balasku.
Walaupun diriku lemah tapi aku akan membuat Vinny baik-baik saja itulah prinsip hatiku.
Dan saat aku melihat ke arah samping kananku aku menemukan sebuah keran pemadam.
“vin, kamu percaya aku kan, kalau percaya tolong kamu pegang keran itu” sahutku sembari menahan sakit yang ada di pergelangan tanganku.
“tapi gimana caranya kak?” tanya Vinny keheranan.
“vinny tolong gerakkan badan kamu terus tangkap keran itu, aku yakin kamu pasti bisa” kataku sembari memberikan dia semangat.
Vinny pun mencobanya dan menggoyangkan badannya.
“Whushh...”
“Whushhh...”
“ayo Vin, kamu pasti bisa!!” seru ku.
__ADS_1
“siap kak!!” balas Vinny dan akhirnya Vinny Berhasil meraih keran pemadam itu.
“Bagus Vinn!!” seru ku.
“Sreet!!” seketika tiang itu terjatuh bersama dengan diriku, untungnya Vinny baik-baik aja.
Aku terjatuh dan tersenyum kearahnya, tapi Vinny malah menjatuhkan dirinya dan langsung memegang tanganku.
“aku gak mau kakak pergi, kalau kakak pergi aku juga” sahut Vinny sembari memegang tanganku dan menatapku dengan senyuman manisnya.
Alunan musik terdengar, menambah suasana canggung diantara kami berdua, tapi entah kenapa tangannya begitu hangat, bahkan aku sendiri pun tidak ingin melepaskan genggamannya.
Tangannya sehangat sutra, dan akhirnya kami terjatuh ketanah.
“brughhh”
mereka terjatuh kedalam puing-puing yang mirip dengan sekolah.
Untuknya dia terjatuh diatasku, kamu langsung berdiri.
“hmm.. makasih kak” katanya sembari tersenyum.
Aku masih gugup saat melihat senyumannya.
“ayo kita jalan Vinn” ajak ku sembari membantunya berdiri.
“kita mau jalan kemana kak?” heran Vinny.
Kami berdua berjalan melewati reruntuhan, matahari sudah tidak menampakkan cahayanya.
Berjalan dalam kegelapan mencari jalan keluar, menahan lapar dan haus.
“Kruyukk!!” perutku berbunyi.
“Aaa, Vinny mau makan sesuatu gak?” tanyaku dengan heran.
“Mau sih kak, tapi disini kan gak ada makanan, bahkan sungai aja gak nampak” jelas Vinny.
“Hmm, ayo kita cari dulu, siapa tau ada” sahut ku dengan yakin.
“Kakak yakin?” tanya Vinny keheranan.
“Yakin dong, tapi kita harus cari mata air dulu Vin, soalnya kalau gak minum takut dehidrasi” jawabku.
Vinny mengangguk dan langsung mencari air.
Aku berjalan ke arah puing-puing didekatku, aku masuk kedalam puing-puing itu dan menemukan sesuatu yang tak terduga.
“Vin, coba liat sini” ajak ku.
“dimana kak?” tanya Vinny sembari melihat disekelilingnya yang hanya puing-puing bangunan yang sudah mulai berlumut.
__ADS_1
“Coba ikuti suara kakak cepet!!” seru ku.
Vinny mengikuti arah suaraku dan langsung menghampiri ku.
Seseorang menyentuhku dari belakang “Astaghfirullah!!” kagetku.
“eh kenapa kak?” tanya Vinny dengan kaget.
“Kirain siapa gitu, ternyata kamu” jawabku dengan lega.
“coba lihat Vin, disitu ada pohon, kayaknya sedang berbuah” sahutku sembari menunjuk ke arah pohon itu.
“pohon, didalam reruntuhan?” Vinny keheranan.
Kami berdua berjalan ke pohon itu, hingga akhirnya kami berhasil mencapainya.
“kakak bisa manjat?” tanya Vinny sembari menatapku dengan tidak yakin.
“kita coba dulu, belum coba kan belum tau” sahutku.
Aku memasang kuda-kuda ku dan langsung memanjat pohon itu.
“semangat kakak!!” seru Vinny yang sedang menyemangati ku dari bawah.
Aku akhirnya berhasil memanjat pohon itu, dan langsung mengambil buahnya.
Setelah kupikir merasa cukup, aku langsung turun ke bawah dan memakan buah itu bersamanya.
“Maafkan aku Vin, coba aja waktu itu aku gak suruh kamu untuk memutar jarum jamnya mungkin kita gak bakal kayak gini sekarang” sesalku sembari melihat ke arah buah itu.
“jangan ngomong gitu kak, jujur aku senang bisa berpetualang disini bersama kakak” sahutnya sembari tersenyum.
“Kamu manis banget yah” sahutku.
“astaga maaf atas kelancangan ku Vin” kataku sembari memohon maaf padanya.
Tapi entah kenapa aku melihat dia berbeda, wajahnya seperti memerah, dan tatapannya bukan tatapan yang sering kulihat.
“ah i..iya kak” jawab Vinny sembari memalingkan wajahnya.
“kamu demam?” tanyaku sembari memegang dahinya.
“kakak, bisa berhenti gak” sahut Vinny.
“ah maaf” sahutku.
“Hmm, kita bermalam disini dulu yah” sahutku.
“Iya kak, tapi tidur dimana?” tanya vinny sambil tersenyum.
“Kamu didekat pohon, aku disini, jaga-jaga kalau terjadi sesuatu” jelas ku
__ADS_1
Vinny mengganguk dan akhirnya kami tidur di situ.