
“Mungkin” balas pria itu.
“Ini jadi semakin rumit” aku menghela nafasku.
“daripada memikirkan itu, mending kalian cari jalan keluar dari sini, karena disini berbahaya bagi kalian” kata pria itu khawatir.
“Apa yang terjadi dengan dunia ini?” tanyaku pada pria itu dengan penasaran.
“Akan ku ceritakan semuanya” kata pria itu.
Pria itu tersenyum, menarik nafasnya lalu mengeluarkannya.
“Jadi pada waktu itu, seseorang profesor berhasil menciptakan alat yang bisa memutar balikkan waktu. Aku waktu itu bekerja sebagai dokternya, Dia selalu mengatakan tentang jam dan waktu dan juga kerajaan yang dipenuhi makhluk makhluk seperti elf dan lain sebagainya, kupikir dia gila jadi kubawa dia ke rumah sakit jiwa” cerita pria itu sambil tersenyum.
“apa hubungannya?” tanyaku yang masih penasaran.
“tapi tak lama kemudian dia menghilang, aku lupa mengambil alat itu, dan dua Minggu berikutnya, kami menemukan sebuah gua yang gua itu Mirip sekali dengan Professor itu, Dan tiba-tiba setelah kamu menemukan patung itu, gempa mulai bermunculan hingga membuat kaum kami binasa” tambah pria itu.
“Kami menyebutnya sang penyihir kegelapan” tambah pria itu lagi.
“siapa nama penyihir kegelapan itu?” tanyaku dengan heran.
“Entahlah, sekarang dia telah menghilang “ sahut pria itu.
Hujan mulai mereda, kegelapan masih menyelimuti hawa kami berdua.
“kau ingin menjadi lebih kuat?” tanya pria itu sembari melihatku tersenyum tipis.
“apa maksud anda tuan?” tanyaku dengan heran.
“jangan curiga gitu dong” balas pria itu.
“Saya tidak curiga tuan, saya hanya bertanya” tegas ku dengan agak kesal terhadapnya.
“Benarkah?” tanya pria itu sambil tersenyum.
Dia pria aneh, aku yakin dia merencanakan sesuatu untuk mengambil jam ini.
Lihatlah giginya, putih mulus padahal aku yakin sudah tidak ada lagi pasta gigi yang masih bisa digunakan.
“Kutanya sekali lagi, apakah kau ingin menjadi kuat?” tanya pria itu padaku dengan tatapan yang serius seperti seorang guru yang sedang mengajar.
“Bagaimana caranya?"
“Itu gampang, dan kau tidak akan menyesal” timpal pria itu sembari memegang tanganku dan membawaku pergi meninggalkan Vinny sendirian dirumah pria itu untuk beristirahat.
Dia membawaku ke suatu tempat, tempat yang agak jauh dari rumahnya, aku pikir dia akan membawaku sebuah restoran yang tak layak huni tapi ternyata dia membawaku ke Padang rumput yang luas.
__ADS_1
“Dunia ini sudah hancur nak, tapi dewa membantu kami” sahur pria itu.
“Dewa dan Dewi?” tanyaku keheranan.
“Dewa fertilità , dewa kesuburan didunia ini” kata pria itu.
Jujur setelah aku mendengar namanya kupikir dia lebih cocok jadi Dewi.
“Jadi kenapa kau membawaku kesini?” tanya ku dengan heran.
“Kau liat diujung sana” kata pria itu sambil menunjuk kedepan.
Aku melihat sebuah pegunungan yang masih hidup, tanpa ada coklat ataupun abu-abu.
“gunung itu adalah tempat teraman untuk kalian berdua” jelas pria itu.
“itu mudah” dengan sombongnya aku menatap pria itu.
“Mudah bagimu untuk bicara, menggapai gunung itu hampir sama saat kau menginginkan dia kembali yang tak mungkin terjadi” sahut pria itu.
Baru kali ini aku setuju dengannya, “kalau begitu kenapa kau tidak ikut dengan kami?” ajakku.
Dia mengerutkan dahinya, “aku tidak bisa, aku sekarang penjaga didunia ini, takut-takut nya kalau dia kembali ke dunia ini dan menghancurkannya seperti dulu” balasnya.
“apa dia benar-benar mengerikan?” tanyaku dengan heran.
Aku jadi ingin melihat sosok itu pikirku, maksudku hei siapa yang tidak mau melihat sosok yang dianggap benar-benar bisa merusak segalanya.
“Apakah disini tidak ada hewan buas atau tanaman pemakan manusia?”, tanyaku dengan heran.
“tidak ada, hanya aku dan selalu aku, tidak ada siapapun tapi siapa tau kalian akan menemukannya” jawabnya sambil tersenyum padaku.
“kau harus menjaga jam itu, berhati-hati lah pada kekuatannya” kata pria itu sambil melihat ke arah langit yang gelap.
“Kau yakin disini sendiri tanpa teman?” tanyaku yang merasa khawatir padanya.
“jangan khawatir, aku baik-baik saja, kalau aku mati... setidaknya aku mati bersama orang-orang yang ku sayangi disini” balasnya.
Entah kenapa aku pikir ini seperti salam perpisahan antara guru dan muridnya atau ayah dan anaknya, sial ayolah Danny jangan menangisi akan hal itu...
“aku tau kau ingin menangis nak” balasnya sambil tersenyum ejek padaku.
Sial dia tau, aku langsung mencoba untuk menenangkan diri dan berlagak sok keren padanya. “ayolah siapa yang nangis sih” kataku.
“Ayolah nak, jangan terlalu gengsi” ejeknya.
Aku ingin memukulnya tapi aku sadar bahwa itu sama sekali tak ber- adab.
__ADS_1
Kamu melihat kearah langit yang gelap, dan penuh keheningan. Tapi syukurnya angin berhembus kencang.
“apa kau yakin mereka semua mati?” tanyaku dengan heran.
“Entahlah” balasnya.
Aku tau, dia sebenarnya sedih karena hanya dia sendiri ditempat ini, tapi aku paham kenapa dia ingin tinggal disini, maksudku kalau aku jadi dia aku mungkin melakukan hal yang sama.
Pria itu tersenyum “ omong-omong gadis itu cantik juga yah, apakah dia pacarmu?” tanya pria itu yang seperti sedang menggodaku.
Aku benar-benar kesal padanya, membuat ku ingin meninjunya sekarang, tapi aku mencoba untuk terus bersabar.
“dia bukan pacarku, tapi” aku tersenyum tipis dan entah kenapa dia paham maksudku.
“Kau tau, cewek itu suka dengan cowok humoris, pemberani, tapi tetaplah jadi dirimu sendiri nak” kata pria itu sambil tersenyum.
Aku mendengarkannya, menurutku itu saran yang bagus.
“jadi, kapan kalian akan pergi?” tanya pria itu.
Aku tau tatapan itu, itu bukan tatapan mengusir tapi tatapan untuk jangan pergi kalau bisa.
“entahlah, tapi kemungkinan sih pas dia sembuh” sahutku.
Maaf tapi, ayolah aku ingin pergi dari sini secepatnya.
“kau tampaknya menyukai gadis itu yah” senyum pria itu.
Aku merona, tidak bisa menahan fakta itu. Entah kenapa dia selalu benar untuk saat ini, dan menurut ku dia memang orang yang baik walaupun dari tampangnya seperti layaknya preman.
“Sudah kuduga, ayolah aku yakin kau pasti bisa, lagian dia terlalu manis untuk seorang gadis seusianya” sahut pria itu tersenyum.
“iya” jawabku.
Tampaknya pria itu benar-benar paham dengan ekspresi ku, kayaknya ekspresi ku ini terlalu pasaran.
“Kau bingung cara mendekatinya yah?, Dan kau takut kalau dia sudah punya seseorang?” tanya pria itu dengan nada yang lembut.
“bagaimana kau tau?” tanyaku dengan heran.
“Insting seorang pria” ujarnya sambil tersenyum.
Aku tidak paham apa yang pria itu katakan, aku hanya berpura-pura paham padanya.
Tiba-tiba kami terdiam, merenung menatap langit, “mau pergi sekarang?” ajak pria itu.
Kami pun pergi meninggalkan taman, tapi sebelum pergi pria itu berdoa pada dewa dan pergi bersamaku menuju rumahnya.
__ADS_1