Apocaliptik

Apocaliptik
chapter 4


__ADS_3

Suara rintikan hujan terus berdengung di kepalaku, aku tidak bisa tenang, tapi aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian.


“Hei, kalian yang dibawah sana!!!” Teriak seseorang.


Dari suaranya sudah keliatan bahwa dia adalah seorang laki-laki, aku melihat ke atas dan ada sosok laki-laki misterius yang memakai seragam dokter.


Dia melemparkan kami sebuah tali.


“Cepatlah sebelum Banjir datang!” Serunya sembari melihat kearah kami.


“Apakah kamu punya tali lagi!?” Tanyaku dengan suara yang keras agar pria itu mendengar suara ku.


Dia melemparkan talinya lagi, dan aku mengingat tangan gadis itu ke pergelangan tanganku agar tidak jatuh.


Aku mengambil tali itu dan menarik talinya sekuat tenaga ku.


Pria itu langsung mengangkat ku dan seketika apa yang dikatakan dokter itu benar-benar terjadi, suara hujan itu semakin lama semakin deras hingga membuat banjir yang begitu dalam, untungnya kami sudah dipertengahan jalan.


Kami akhirnya berada di puncak pria itu berada dan aku segera berterima kasih padanya dan meminta tolong padanya.


“pak, sebelum nya saya berterimakasih, tapi apa bapak bisa bantu saya?” Kataku sembari memohon pada pria itu.


“ayo ikuti aku” kata pria itu sembari berjalan.


Dan aku mengikutinya sembari menggendong gadis yang kusukai itu.


Kami Berjalan dan akhirnya sampai ketempat tinggal pria itu, aku kaget karena tempat itu tak layak disebut tempat tinggal.


Semuanya terbuat dari reruntuhan bangunan yang ada, dan bahkan aku melihat beberapa pecahan kaca disana.


“Hati-hati lah kaca” kata pria itu.


Suasananya masih gelap, bahkan aku gak yakin kalau ini bumi, aku yakin semakin lama aku berjalan mungkin aku akan hanyut dalam kegelapan dan tak akan pernah kembali.


“Silahkan, letakkan dia di atas kasur itu” sahut pria itu sembari berjalan kebelakang.


Pria itu menumbuk sesuatu. Selesai menumbuk pria itu langsung mengoleskannya ke dahi Vinny.

__ADS_1


“biarkan dia beristirahat” kata pria itu sembari pergi meletakkan benda itu.


Selesai. Pria itu membawaku ke luar.


Diluar suasananya terasa gelap, suara tangisan awan yang masih bisa terdengar, dan aku tidak melihat apapun selain kegelapan.


“jadi kenapa kalian bisa ada di taman Eden?” tanya pria itu dengan Penasaran.


“taman Eden?” aku terheran-heran.


“kau tidak tau apa itu taman Eden?” tanya pria itu dengan heran.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


Pria itu mendesah, “yah kami menyebutnya seperti itu, taman yang sebentar hilang dibawa arus air, dan sekejap akan datang kembali” sahut pria itu.


Pria itu kembali menanyakan hal yang sama” jadi, kenapa kalian ada ditaman Eden?.


“kami hanya mencari makanan, dan entah kenapa kami bisa ada di taman itu” jelas ku.


“tunggu, kalian bukan berasal dari daerah sini?” tanya pria itu dengan heran.


“jangan takut, aku orang baik kok” sahut pria itu sembari tersenyum.


Aku tidak yakin, senyuman itu seperti palsu, ayahku pernah bilang jangan percaya pada siapapun.


“Maaf aku tidak bisa” tegasku yang berharap agar pria itu bisa mengerti.


“tapi aku sudah menolong gadismu” balas pria itu tersenyum licik.


“sial” kesalku.


“kalau begitu setelah dia sembuh, kami akan pergi dari sini” kesal ku.


“Tapi aku tidak mengizinkan kalian pergi” balasnya lagi.


Aku mencoba untuk menenangkan diriku, menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya.

__ADS_1


“Jadi apa maumu?” tanyaku dengan curiga.


“Aku hanya ingin tau kalian berdua berasal dari mana? Itu aja sih” balas pria itu.


“oke, kami bukan dari sini, bahkan dunia ini” jawabku dengan kesal.


“Oh, tunggu apa!?” kaget pria itu.


“kami terlempar kedunia ini” tambahku.


“Menarik, bagaimana bisa?” tanya pria itu dengan penasaran.


“itu semua karena jam itu” jawabku.


“jam apa? Boleh aku melihatnya?” tanya pria itu dengan heran.


Aku langsung bergegas mengambil jam itu dan langsung memperlihatkannya.


“ini tuan” sembari menunjukkan jam itu.


“Tunggu, aku seperti melihat jam ini, tunggu sebentar “ pria itu bergegas kedalam, dan mengambil sesuatu.


Dia membawakan ku sebuah koran yang sudah agak buram karena sudah ditelan usia.


“coba baca bagian atasnya?” sahut pria itu sembari menunjuk bagian atas koran itu.


“professor x telah menciptakan jam waktu!!” itulah bagian yang kubaca.


“mungkin jam inilah yang dimaksud?” kata pria itu dengan yakin.


“tapi bagaimana mungkin jam itu ada didunia kami?” tanyaku dengan heran.


“tunggu sebentar” sahut lelaki itu


“kenapa?” tanyaku dengan heran.


“aku jadi penasaran.” Sahut pria itu sembari melihat ku.

__ADS_1


“Mungkin Professor x menjelajah waktu menggunakan jam itu dan terlempar ke zaman ku, dan terperangkap didalam sana?” pikirku.


__ADS_2