Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Kastil Putih I | Kereta Kuda


__ADS_3

Empat roda kereta kuda berputar begitu dua kuda besar berjalan menariknya dengan tali-tali yang kuat. Getaran tak begitu terasa karena kereta kuda yang mahal ini—bannya dilapisi karet hitam yang tak umum dipasaran. Sekujur kereta kuda pun tak hanya memakai kayu jati yang kokoh, beberapa lapis emas dan mutiara terlihat berkilauan menghiasi penampilan. Mungkin bagi siapapun yang menaiki jenis kereta kuda mewah seperti ini akan berbangga hati dan merasa terhormat—tentu saja begitulah pendapat sebagian orang, tapi Tuan Gen tidaklah begitu, dia sama sekali tidak merasa bangga sedikitpun apalagi terhormat.


Jalan Utama Vabliyo—sebuah jalan besar berbatu kokoh yang menghubungkan antar kastil megah satu dengan lainnya. Awalnya di jalan ini banyak murid berlalu-lalang meramaikan trotoar bahu jalan, kini hanya sebatas serakan sampah yang tak terkira jumlahnya. Kotor dan sangat mengenaskan seperti tempat pembuangan.


Tuan Gen menatap kedua mata Tuan Rom dengan tatapan sinis. "Jadi apa alasanmu? Tidak mungkin tanpa alasan, kan?"


Tuan Rom seolah terdiam. Wajahnya tampak masam dengan mata yang memandang ke jendela luar dengan tatapan kosong. Angin segar terasa mengalir masuk melalui jendela hingga membuat siapapun merasa sejuk.


Mata itu perlahan beralih membalas tatapan Tuan Gen. "Aku ingin bekerjasama denganmu."


Tuan Gen mengernyitkan kening sembari sedikit tertawa. "Apa maksudmu? Kerjasama?"


"Aku sedang tidak bercanda Tuan Gen."


Raut wajah Tuan Rom terlihat berubah masam, tapi tentunya hal itu tidak mengubah pemikiran yang tergambar di otak Tuan Gen. Pria bernama Tuan Rom hanyalah pria egois yang selalu mementingkan kepentingan saja—begitulah gambarannya yang ada di otak Tuan Gen. Tak aneh bila Tuan Gen tertawa.


Tuan Gen mulai ikut serius. "Memangnya apa yang ku dapatkan bila aku bekerjasama denganmu?"

__ADS_1


"Kedamaian—itu yang kau dapatkan."


"Jangan bercanda?!" Tuan Gen sedikit berbalik kesal, "—apa kau mengejekku? Kau pasti lebih untung daripada hal itu! Uang hingga wanita, mungkin kau mudah mendapatkannya!"


Tuan Rom sedikit tersenyum. "Rupanya kau tahu? Tentu saja, aku adalah pembisnis."


"Persetan dengan pembisnis!"


Suara kecaman itu terdengar hingga ke telinga seorang kusir bertopeng—pria yang tadi menculik Tuan Gen dengan sopan. Pria itu memasukkan sebuah bilah pedang melalui celah kecil khusus jendela kereta kuda pada Tuan Gen sehingga Tuan Gen sedikit terdiam. "Sepertinya kau tidak diuntungkan di sini, Tuan Gen," ucap Tuan Rom dengan setengah senyuman pedasnya.


"Bagus." Tuan Rom mengangguk dengan senyuman. Pedang itu pun terangkat kembali tanpa meninggalkan luka sedikitpun.


Beberapa menit kemudian kereta kuda pun berhenti. Ternyata sudah sampai di kastil yang dituju—kastil putih yang amat megah dengan tembok tinggi yang menjadi bentengnya—kastil yang kini dikuasai oleh Tuan Rom. Jika dilihat dari dekat, bangunan ini lebih dari sekadar bangunan biasa, seperti istana kerajaan yang menjulang indah menampakkan keagungannya. Aura di halamannya pun tak lain adalah kenyamanan dan ketentraman—aura yang sungguh menggoda dibandingkan aura luar yang penuh dengan kehancuran. Taman kastilnya sungguh luas, seperti dapat dibangun lima puluh rumah di dalamnya. Bunga-bunga yang tumbuh hanya berwarna putih—mereka menyebutnya mawar putih—sejenis bunga indah yang tampak melambangkan kesucian hanya saja di dalamnya penuh duri kemunafikan. Indah namun buruk rupa, itu benar-benar menggambarkan sesosok penguasa kastil ini, Tuan Rom yang penuh kepalsuan. Tuan Gen tidak takut dengan permasalahan lain seperti tentang keberadaan akademi para wanita itu—air gakuinia—bebannya kini hanyalah akademinya sendiri dan sekelompok orang yang berada di dalam pihaknya sendiri—para lelaki munafik di akademi api gakuin.


•••


•••

__ADS_1


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita

__ADS_1


__ADS_2