
Keringat membasahi kulit putihnya. Rambutnya tak lagi rapi saking tak diperhatikan. Matanya tak lagi bebas—asal memandang sesuka hati. Tubuh pun tak lagi bergerak bebas kesana-kemari sebab penuh rasa hati-hati. Aura sudah terkurung mengepul dalam ruangan megah ini, ruangan milik Tuan Rom yang terletak dalam kastilnya. Lilin-lilin di meja bundar itu hanya menjadi penghias di antara dua orang yang sedang berdiri berhadapan, salah satu dari mereka menggenggam pedang dan satunya lagi hanya bersenjatakan tangan kosong. Tak ada suara apapun kecuali suara napas kencang dan hantaman air hujan dari luar.
Ziyo tersenyum memandang Tuan Gen yang ada di hadapannya seakan hewan buas yang baru saja menemukan mangsanya. Mata merahnya seakan bercahaya, gigi taringnya pun ia perlihatkan. Dia pikir Tuan Gen takut akan hal itu sehingga berpikir untuk mundur. Tidak demikian. Tuan Gen melakukan hal yang sama, dirinya sangat menyambut datangnya peperangan dengan pandangan penuh penindasan. Wajahnya tersenyum lebar, sesekali terdengar tawa dari mulutnya yang penuh dengan taring-taring runcing itu. Dia tak merasa keberatan sekalipun Ziyo di temani kawannya.
"Ayo cepat serang aku. Jangan buat aku menunggu." Ucap Tuan Gen.
Ziyo mulai membungkuk membentuk posisi menyerang. "Sesuai permintaanmu Tuan Gen. Tapi, sebelum itu aku ingin meminta sesuatu padamu."
Tuan Gen tertawa. "Meminta maksudmu? Apa yang kau minta?"
Raut wajah Ziyo tersenyum dengan mata beralih tajam. "Tolong matilah dihadapanku."
Sesaat setelah perkataan itu, Ziyo bergerak cepat mendekati Tuan Gen bagai hembusan angin. Ujung bajunya sempat tergibas udara saking cepatnya. Langkah kakinya sedikitpun tak bersuara seperti memang sudah gayanya. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan mengambil kecepatan seakan jatuh, sedangkan tangannya membentuk seperti sayap mengambil keseimbangan.
Pedang tajam dari tangannya ia tebaskan dengan kekuatan penuh, udara seakan terbelah dibuatnya. Namun, Tuan Gen dapat membaca gerakannya sejak awal, ia reflek bergerak menyamping untuk menghindari serangan sehingga tebasan itu hanya menepis sedikit rambut birunya saja. Beberapa helai terputus lalu berjatuhan menuju lantai.
"Huh.. hampir saja." Tuan Gen seakan mengejek. "Tidak semudah itu jika ingin menyentuhku. Bocah."
"Sialan kau! Pasti ku cincang!"
Ziyo kesal. Ia membalas kembali dengan menebas dengan penuh kekesalan dan teriakan, namun tebasan itu tak kunjung mengenai kulit Tuan Gen karena ia selalu saja menghindar. Wajahnya hanya tertawa seakan tak merasa terbebani, lebih tepatnya Tuan Gen seperti sedang menikmati keadaan. Berbanding terbalik dengan Ziyo, rautnya sangat serius seakan ada gumpalan amarah meledak-ledak di hadapannya.
Tuan Gen tertawa. "Ayolah kawan, jangan bercanda padaku."
"Sial!"
Ziyo mulai mencoba berlawanan arah dari serangan sebelumnya. Ia mengubah posisi pedangnya menjadi digenggaman tangan sebelahnya—tangan kiri. Tuan Gen terkejut sehingga nyaris saja terkecoh. Ternyata tangan kirinya lebih mahir dari yang dikira, tidak hanya sangat cepat, tetapi lincah. Tuan Gen nyaris dibuat terpojok sehingga terpaksa sementara mundur.
Tuan Gen tertawa. "Jadi begitu, sejak awal kau tidak serius bertarung."
Ziyo tersenyun dengan pandangan mata tajam. "Kalau iya kenapa? Kau tidak siap untuk mati?"
Tertawa lagi. "Tentu saja tidak. Terlalu mengejutkan bila aku mati sekarang."
Ziyo menyerang lagi. "Kalau begitu, biar ku buat tidak mengejutkan!!!"
__ADS_1
Tebasan udara itu ia lakukan lagi. Kali ini Tuan Gen tidak menghindar, ia malah berniat menahan tebasan itu dengan tangannya. Seketika ujung pedang itu menancap dalam genggaman Tuan Gen, menancap di telapak tangannya. Darah mengucur perlahan-lahan melalui lengannya. Tuan Gen tidak menjerit sakit atau berkeringat ketakutan, ia malah menjulurkan lidahnya lalu menjilati darahnya sendiri yang terus mengalir tanpa henti itu. Darah itu rupanya ia minum tanpa ragu, bahkan Ziyo saja terkejut dibuatnya, matanya terbelalak tak percaya bahwa Tuan Gen seperti itu.
Setelah meminum darah, kedua bola matanya semakin menerang bagai api lilin, taringnya memanjang membentuk pisau kecil, wajahnya memutih seperti mayat hidup, begitupun dengan rambut berwarna birunya, seketika memanjang dan lebat, beberapa bagian seakan meruncing sehingga tampak seperti menjadi duri. Pemandangan yang sangat mengerikan! Kedua mata Ziyo terbelalak merubah rautnya menjadi takut. Ini pemandangan yang tak pernah ada sebelumnya.
"Kenapa?" Ucap Tuan Gen sembari tersenyum. "Kau takut pada wujudku, Ziyo? Kenapa kau tidak langsung mengangkat pedang ini kemudian kembali menebasku lebih keras lagi? Kau ingin membunuhku, kan?"
Ziyo segera mengangkat pedangnya lalu mundur beberapa langkah ke belakang. "Siapa kau sebenarnya?!"
"Siapa? Aku?" Tuan Gen sesaat tertawa.
"Apa yang lucu?!"
"Bocah, ekspresi ketakutanmu sangat terlihat. Kalau segitunya ingin selamat, kau boleh mundur sekarang juga."
Ketakutan Ziyo seketika terbakar api kebencian. "Persetan denganmu! Akan ku tumpas!"
Kali ini gerakan Tuan Gen seakan berubah tiga kali lipat dari sebelumnya. Pada akhirnya tak ada satupun tebasan Ziyo yang berhasil mengenainya. Tebasan-tebasan itu malah mengenai meja ketika Tuan Gen tepat di dekat meja. Meja itu terbelah menjadi dua sehingga membuat lilin-lilin warna-warni di atasnya mulai berjatuhan bersama tumpukan dokumen. Api-api kecil itu mulai membakar kain taplak meja yang menjadi penghias lalu diperparah dengan keberadaan tumpukan dokumen kertas yang mudah terbakar. Api lilin yang mungil malah berubah menjadi si jago merah, sedikit demi sedikit mulai melahap keberadaan meja itu lalu menciptakan kepulan asap besar membuat udara menjadi pengap, tapi keadaan itu diabaikan keduanya, mereka fokus dengan keberadaan lawannya yang terus berdiri mengeluarkan aura angkuh—aura yang saling ingin menindas.
"Pengecut kau! Bisanya hanya menghindar!" Teriak Ziyo.
"Oh tidak. Kau pedang tapi aku tangan kosong. Siapa yang pengecut?"
Ziyo bergerak menyerang kembali secepat penyerangan pertama. Kali ini Tuan Gen meresponnya dengan reflek mengambil vas bunga di sampingnya lalu ia melemparnya sekeras mungkin tepat ke wajah Ziyo. Ziyo reflek menebas vas itu namun tak bisa menahan genangan air yang ada di dalamnya. Air itu seketika menghujani seluruh wajah Ziyo membuat pandangannya terganggu sementara.
"Sial! Apa yang—" Ziyo berusaha menghapus air dan pasir di wajahnya. Matanya sedikit perih sehingga pandangannya terganggu. Tuan Gen tidak tinggalkan kesempatan itu, ia pun mulai bergerak gesit. Kakinya menginjak sebuah kursi di hadapannya kemudian melompat tinggi ke arah Ziyo. Kepalan tangan penuh kebencian tanpa rasa ragu ia hantam sekencang mungkin ke arah leher di atas dada Ziyo. Sontak pukulan keras itu membuat Ziyo terbanting hingga tertahan pojokan dinding. Rasa sakit membuatnya terbatuk-batuk tidak tertahankan, darah keluar bagai cairan yang baru saja tumpah, tapi ternyata itu belum cukup baginya. Ziyo masih berdiri dan matanya masih menatap Tuan Gen seakan tak ada sedikitpun rasa ingin menyerah. Tuan Gen langsung menghujaninya lagi dengan ratusan pukulan tepat di hidung dan perutnya, perlahan Ziyo mulai pusing dan tak bisa balik melawan. Tuan Gen belum juga merasa cukup, bahkan dirinya semakin kesal. Tak lupa ia segera memukul dan menendang sendi lengannya serta kakinya, dibuatnya semakin lemas untuk terus bertahan, bahkan saking lemasnya pedang yang ia genggam sempat terjatuh karena tak sanggup menahan beratnya.
"Ayolah! Kemana kesombonganmu itu?! Hah!!" Teriak Tuan Gen sembari memukul. Meskipun mulut, hidung, bahkan telinga Ziyo mulai mengeluarkan darah, Tuan Gen tak kunjung berhenti. Kesal tak ada perlawanan, Tuan Gen pun langsung mengakhirinya dengan memukul leher bagian belakangnya. Ziyo kemudian terjatuh tak sadarkan diri dengan cucuran darah di lantai. Tuan Gen tersenyum bahagia, ia lalu menjilati lantai penuh darah itu lalu meminumnya.
"Ah, darah segar." Ucap Tuan Gen sembari menjilat-jilat lantai lalu lengannya yang terluka. Nafsunya pada darah membuat kedua bola mata merahnya mulai melirik pada Ziyo yang tak sadarkan diri. Jantungnya berdetak kencang begitu dirinya melihat leher Ziyo. Ah! Tidak tahan—pikir Tuan Gen. Ia akhirnya bergerak merangkak ke arah di mana tubuh Ziyo tergeletak. Aroma manis seakan tercium melalui hidungnya. Mulutnya kini sudah semakin dekat tak berjarak dengan leher Ziyo.
"Maafkan aku Ziyo. Aku minta sedikit saja."
Mulutnya ia buka sangat lebar. Taring bagai pisau tajam itu keluar lalu ia tancapkan ke bagian tubuh Ziyo—letaknya di antara leher bagian samping dan pundaknya. Darah mengalir keluar tak terkira jumlahnya, namun tak hilang secara cuma-cuma, Tuan Gen menghisap seluruhnya tanpa ada satu tetespun mengotori lantai ruangan.
Di saat asik berpesta minum sendirian, tiba-tiba gedung kastil bergetar kencang seakan ada ledakan. Getaran itu datang berkali-kali bersama suara dentuman kencang di luar sana.
__ADS_1
"Ada apa ini? Apa ada perang juga di luar?"
Tuan Gen segera mengakhiri pesta minumnya. Ia segera bangkit lalu mengambil sebuah pedang yang ada di samping tubuh Ziyo. Beberapa saat begitu langkah kaki Tuan Gen bergerak mendekati pintu keluar yang terkunci itu, seketika ada seseorang berteriak dari luar.
"Tuan Rom!! Tuan Rom!! Buka pintunya!!" Teriak seseorang sembari memukul-mukul pintu.
Tak ada satupun yang menjawab teriakannya. Orang itu pun tak segan-segan mendobrak pintu itu hingga terbuka lebar. Ternyata orang itu adalah Aio, lelaki kekanak-kanakan yang sebelumnya kesal pada Tuan Gen. Aio terlihat ketakutan, raut wajahnya penuh dengan keringat.
"Tuan Gen!! D—Di mana—Di mana Tuan Rom?!" Teriak Aio.
Pandangan Aio seketika terpaku begitu melihat tubuh Ziyo tergeletak bersimbah darah di belakang Tuan Gen. Aio melihat sebuah pedang yang digenggam Tuan Gen, pedang itu dipenuhi warna merah darah.
Kedua mata Aio terbelalak tak percaya. "K—Kau—pembunuh!!!"
"Sial!"
Tuan Gen tak mengira ternyata akan jadi seperti ini. Ia pun segera bersiap untuk bertarung kembali meskipun banyak sekali gangguan di luar sana—dentuman seperti ledakan bom.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
__ADS_1
Info tentang kepenulisan Arafura :
Twitter/instagram : @alaksinita