
Roy Fredell, pria yang tenang layaknya genangan air. Salah satu bawahan Tuan Rinsei Gen yang selalu membawa pedang di pinggangnya. Rambut berwarna ungu dan berantakan seakan tak peduli dengan penampilan. Matanya tajam seperti pembunuh bayaran berdarah dingin—kebanyakan berpikir seperti itu bila sekilas memandangnya. Namun, tidak mungkin Roy akan berkhianat. Biar wajahnya yang seperti tak peduli apapun, dia bukanlah pria rendahan seperti itu.
Pernah suatu ketika Roy sangat kesal begitu keadaan akademi menjadi kacau. Tentunya awal mulanya ketika pernikahan itu terjadi.
Roy sejak awal memang sudah merasakan aura tidak enak. Wajah dinginnya itu menyembunyikan hati sensitifnya. Dia dapat merasakan aura lebih cepat dibandingkan yang lain—karena rasa aneh ini Roy terang-terangan berani menolak pernikahan namun malah dicap sebagai pengkhianat oleh guru dan dijatuhi hukuman. Sungguh malang. Pria yang setia justru diperlakukan sebagai pengkhianat bila tak ada satupun yang datang memercayainya. Paling tidak segalanya kembali lagi begitu akademi benar-benar runtuh.
Akan tetapi, Roy berakhir memendam rasa kesal, dendam, dan merasa miris dengan keadaan akademi yang sudah sangat kacau.
Yusuke Yen pun begitu, pria mata satu yang berdiri di samping Roy dengan membusungkan dada, dia sungguh tidak menerimanya.
"Aku adalah inspektur kebugaran bagi salah satu gadis." Begitu yang pernah diucapkannya.
Gadis yang dilatihnya dan sekaligus dilindunginya tentu saja telah ikut terkena serangan ketika ada kekacauan besar, setidaknya telah ditarik-tarik, disiksa, dilecehkan—semua itu terjadi ketika Yen tidak berada di dekatnya, ketika Yen sedang sibuk dengan kekacauan yang sedang menghalanginya.
Tentu saja, bukan berarti Yen orang yang tak peduli. Dia sempat berlari mengejar gadis itu lebih dari apapun—hanya untuk memastikan keberadaan gadis itu. Lima orang pria berwajah kotor, bukan wajah fisiknya, tapi lebih buruk dari itu—seperti bahagia penuh kegilaan karena sudah membuat seorang gadis tak berdaya. Gadis itu dibuat melepaskan semua helai pakaian di tubuhnya hingga hanya terlihat kulit putih mulus yang seharusnya tidak boleh terlihat.
Kesal, Yen seketika melawan lima pria itu dengan kekuatannya, tetapi malah mendapat luka di mata yang seketika membuatnya cedera lalu tersungkur jatuh.
"Dia sudah dibawa." begitu katanya. Gadis itu menghilang begitu fokus Yen teralihkan. Parahnya lagi Yen sama sekali tidak tahu keberadaan gadis itu. Sungguh ironis!
Tuan Rinsei Gen membuka selembaran kertas kuning yang telah dicap. “Dengan begitu, Margavalla—kelompok kita sudah disepakati oleh ketua osis," ungkap Tuan Rinsei Gen namun tak kunjung membuat suasana berubah.
Mata demi mata hanya tertuju pada lantai yang gelap. Kulit demi kulit hanya merasakan dinginnya suasana malam. Semua membisu tak berkomentar kecuali dari mulut lelaki yang berbadan besar di samping Yen. Matanya memang tidak sedingin Roy tapi siapapun yang berani melihatnya akan menganggapnya lelaki perkasa.
"Aku masih heran dan keberatan. Sebenarnya apa yang anda rencanakan?" ungkap pria berbadan besar mengernyitkan kening merasa bingung.
Namanya Sam Maximilan, dia adalah bagian dari siswa biasa yang sangat tidak terkenal. Tubuhnya memang besar dan kuat tetapi dia bodoh jika sudah dihadapkan dengan urusan wanita.
Seharusnya dia sudah terkenal, tapi nyatanya gagal—setidaknya dia sendiri pernah menyesali perbuatannya beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Dia sudah pernah diperalat seperti babu namun hebatnya dia tidak menyadarinya—karena majikannya, wanita sialan itu, menyamar sebagai pacar sehingga waktu demi waktu produktif yang dimilikinya hangus.
Monster, wanita yang licik memang bisa menjadi monster, bersembunyi dalam keindahan rupawan, benar-benar seperti ular berbisa! Tentu saja, kini Sam sadar, dia bukan bodoh, sudah terlihat dari gelagatnya yang banyak bertanya serta berbeda pandangan dengan yang lain—dia berubah menjadi pria kritis.
Jon sangat mengenali Sam, mereka berdua memang sudah dekat sebelum masa kehancuran akademi. Berbeda dengan Sam, tidak hanya rambutnya saja yang berwarna pirang, Jon justru adalah pria pemain wanita karena kelebihan dari wajahnya—memang sungguh tampan.
Tidak hanya itu, Jon sangat pintar dalam memikat hati untuk menghasilkan sebuah keputusan, bukan hanya keputusan biasa, bukan hanya urusan cinta, tetapi urusan antara pertaruhan nyawa pun bisa.
Pria licik. Kadang kepintarannya dikaitkan dengan kata licik. Ya, memang dia itu lebih pantas disebut cerdik. Mungkin saja Sam mulai belajar darinya—meski Jon sesungguhnya tidaklah banyak bertanya kecuali suatu hal yang mengancam, Jon sangat serius akan hal itu.
Tuan Rinsei Gen berdiri dari kursinya. "Hancurnya akademi bukan berarti tidak ada jalan untuk bersatu kembali, wahai Sam," Tuan Gen sejenak menatap mata Sam, lalu beralih pada semua orang, "dengar kalian semua! Aku adalah mantan anggota osis, hanya dua orang saja yang ditunjuk dari ribuan osis yang kini tidak tahu bagaimana nasibnya. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apa pandangan kalian terhadap kehancuran ini, tapi aku tahu tujuan kalian selama ini, aku tahu dendam kalian, karena itu aku menunjuk kalian untuk bergerak bersamaku menjadi kaki tangan Ketua osis dalam kelompok ini—Margavalla!"
Jon ingat kata-kata itu, Margavalla, itu bukan kata-kata biasa. Di ambil dari kata Varhalla yang berarti dunia luar yang berada di luar benteng akademi. Benteng yang menjulang tinggi setinggi 30 meter itu mustahil untuk dipanjat, sangat curam dan licin, batunya sekeras berlian seakan bukanlah batu dari dunia. Tak ada yang tahu, siapa pembuatnya?
Keadaan kacau seperti ini adalah pertama kalinya bagi akademi sehingga beberapa murid sempat berniat kabur memanjat benteng demi kebebasan, namun sayangnya nasib mereka tidak sejalan dengan pikirannya. Padahal sudah diterangkan di setiap pelajaran tentang betapa misteriusnya benteng. Tingginya melebihi gedung dan tak pernah dipanjat siapapun. Jangankan dipanjat, sebenarnya didekati pun tidak boleh. Setidaknya dua kilometer lebih dekat dengan benteng, wilayah itu sudah termasuk zona terlarang. Tidak ada yang boleh melewatinya.
"Di luar sana sangatlah berbahaya, mungkin saja monster—sayangnya belum ada yang tahu," itu kata guru, semuanya pun memercayai penjelasan itu. Tidak ada yang bertanya "kenapa?" mereka hanya melanjutkan hidup seperti biasanya.
"Menurut laporan yang dijelaskan Ketua Osis, aku di sini bukan lagi sebagai osis, tetapi pemimpin kelompok ini—" Tuan Gen menunjuk kepada empat orang di hadapannya, "—kalian semua—Roy Fredell, Yusuke Yen, Sam Maximilan, dan Jonathan Atharizz, mulai sekarang kalian bukan lagi siswa, bukan pula orang biasa, kalian adalah anggotaku yang akan memimpin ribuan murid di belakang kalian dan akan mengikuti apapun perintah kalian!"
Semua terkejut. Yen mulai melangkah maju dengan mata terbelalak.
"Tunggu dulu, Tuan Gen, apa maksudnya kita bukan siswa lagi? Apa jangan-jangan—"
Tuan Gen memotong. "Ya, meski semua bersatu, akademi kini sudah lenyap."
"Jangan bercanda!" sergahnya mengejutkan seisi ruangan, "Bukankah guru-guru seharusnya ada dikala seperti ini? Kenapa kami memimpin ribuan murid?"
Keadaan mulai tak seimbang. Ini sama seperti keadaan ketika Tuan Rinsei Gen mengajak Jon untuk bergabung—setidaknya Jon sudah tahu semuanya sejak awal. Para pengawal yang berjaga pun seperti kebingungan, wajah mereka menunduk tak tahu apa-apa—hanya ketakutan.
__ADS_1
Menyadari itu, Tuan Rinsei Gen menghela napas. Tidak tahu apa maksud dari helaan napas itu, seperti bukan penyesalan ataupun kesedihan. Matanya mulai menatap keberadaan empat orang lelaki di hadapannya sembari duduk kembali di kursi empuknya.
"Ini berita buruk, tapi kalian—semua orang yang berada di sini harus tahu. Sebenarnya dewan guru baru saja diketahui telah menghilang dari akademi."
Roy yang tak peduli apapun terkejut mendengarnya. "Apa maksudnya? guru-guru? Aku tidak paham."
Matanya terbelalak seperti kesal tapi tidak tahu apa-apa. Tidak hanya Roy, semua pun seperti itu. Tidak percaya dan tidak tahu.
"Ya, guru-guru," lanjut Tuan Rinsei Gen, "Tiga ribu guru yang ada di Akademi Gakuin malam ini dilaporkan menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu kenapa, tidak ada yang membayangkan juga bagaimana bisa mereka semua memanjat benteng. Yang jelas, kita semua murid akademi yang kini sudah terpecah, kita harus bergerak sendiri."
Semua terdiam. Begitulah perasaan semua murid—seperti telah melahirkan rasa dikhianati.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
__ADS_1
Info tentang kepenulisan Arafura :
Twitter/instagram : @alaksinita