Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter II • Putih Abu | Dua Pembela Di Satu Jalan Yang Sama


__ADS_3

Strategi Yen sebenarnya terdengar sederhana. Dia ingin penyerangan terhadap komplotan teror itu tidak dilancarkan secepat mungkin. Perintah itu seakan bertolak belakang dengan apa yang semuanya yakini.


Awalnya Jon, lelaki berambut pirang menunjukkan sikap keras kepalanya. Dirinya tidak setuju penanganan masalah diselesaikan dengan lambat. Dia tidak ingin lagi ada korban berjatuhan.


"Diam, Jon." Tegas Tuan Gen, "justru kita tidak boleh langsung merespon cepat aksi mereka. Kita harusnya tahu, mereka pasti sudah antisipasi dengan serangan spontan."


Yen setuju. "Benar, Tuan, pasti mereka sudah menempatkan beberapa bawahannya di suatu tempat."


"Tapi kalau ada korban lagi—" Jon tetap tak tega.


"Dasar bodoh." Potong Roy, "kau masih saja main hati dalam keadaan begini. Hidung belang sepertimu—"


Mendengar itu spontan tangan Jon mencengkram pakaian Roy, "Apa kau bilang?! Biar seperti ini pun, aku sangat peduli keadaan luar!"


Kedua pandangan saling beradu. Aura keburukan dipenuhi rasa kesal membuat keduanya tak akur.


"Hentikan, Jon!"


Sam sebagai teman lama Jon langsung mengunci leher Jon lalu memisahkannya dengan Roy. Tangannya yang kekar membuatnya tidak bisa melawan.


"L—Lepaskan, Sam!"


"Tidak, kau sudah mengganggu rapat ini. Kau harusnya mengerti, Jon, terkadang apa yang kita rasakan itu memang benar, tapi pernah kah kau berpikir, apakah semua kebenaran itu memang selalu benar? Kalau begini caranya, kau itu egois, Jon. Lihatlah sekelilingmu!"


Pandangan Jon melihat sekitar. Semua pasang mata memandang padanya. Tampaknya mereka memang sudah tahu apa yang Jon rasakan, namun mereka lebih memilih diam dan patuh. Bukan berarti mereka semua tidak peduli, namun alangkah baiknya menjadi orang yang paham akan situasi.


Saat ini sungguh berat. Jon tahu bagaimana keadaan Api Gakuin Selatan. Sikapnya yang mudah muak akan ketidakadilan membuatnya berpikir egois, bagaimanapun Tuan Gen tidak menyalahkannya. Tuan Gen hanya tersenyum begitu melihat keegoisan Jon demi mendorong kebaikan.


Begitupun dengan Elia. Tiba-tiba dikala semua terdiam, dia seketika berdiri lalu berani membela Jon.


"Kau benar, Jon. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Perasaanmu yang seperti itu sebetulnya menunjukkan cahaya kebaikan yang ada pada hatimu."


Elia berjalan mendekati Jon yang masih ditahan Sam. Tangannya ia ulurkan lalu mengeluarkan cahaya seterang bulan. Cahaya itu menghujani seluruh tubuh Jon hingga indah berkilauan.


Elia tersenyum. "Sejak awal kamu sudah sangat membenci pemerintahan. Keberadaan mereka seakan tidak membawa perubahan. Seakan tidak menjunjung tinggi nilai keadilan. Karena itu, kau berniat ingin berdiri sendiri membangun kebenaran, kau pun berusaha menolak begitu Tuan Gen menunjukmu untuk menjadi bawahannya."


"Baiklah kau tahu apa isi hatiku," Jon langsung melepaskan dirinya dari tangan Sam lalu bangkit di hadapan Elia, "tapi bagaimana pun, mau berkali-kali aku dihentikan, aku akan tetap patuh pada diriku sendiri. Aku sudah muak dengan keburukan diluar sana."


Jon berjalan mendekat pada Tuan Gen. Raut wajahnya tampak sangat serius.


"Tuan. Kalau semua ingin sesuai strategi, tolong berikan perintah pengecualian pada saya. Biar saya menyerang lebih dulu."


Mendengar itu semua orang kesal, termasuk Yen.


"Apa kau bercanda?! Itu akan membuat kami semua kerepotan!"

__ADS_1


Tuan Gen memotong, "Hentikan, Yen. Dia berbicara padaku."


"A—Maafkan saya Tuan."


Yen kembali duduk terdiam. Tuan Gen kembali memandang Jon.


"Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan, Jon?" Ucap Tuan Gen. Matanya menatap mata Jon dengan sangat tajam, namun bibirnya seakan tersenyum.


"Ya, saya sadar. Saya berani berbuat karena memang itulah tujuan saya. Sejak awal sebelum menjadi anggota, saya ingin menjunjung kebenaran dari apa yang sebelumnya saya tidak bisa lakukan."


"Benarkah begitu?"


"Ya, Tuan. Saya melakukannya demi kepuasan saya sendiri. Saya tidak akan membuat anda kecewa."


Mendengar itu Tuan Gen semakin tersenyum. Tangannya seketika bertepuk tangan seolah menyukai sikap tegar dalam diri Jon.


"Baiklah, Jon. Aku percaya padamu."


Raut mata Jon sedikit terbelalak mendengar itu, seakan terkejut tidak percaya bahwa Tuan Gen akan mengizinkannya.


Jon pun berlutut hormat.


"Saya benar-benar berterimakasih, Tuan. Saya akan berusaha di jalan saya."


"Berdirilah Jon. Kau boleh keluar dari ruangan ini. Segera bersiaplah."


Kemudian Jon keluar dari ruangan meninggalkan semua orang yang memandangnya seakan terkejut tak percaya. Yen pun berpikir demikian. Dia tidak menyangka Tuan Gen akan mendukungnya.


"Mengapa anda mendukungnya, Tuan?"


Tuan Gen tertawa sesaat, "dia mengagumkan, bukan?"


"Eh?"


"Aku tidak bercanda, Yen. Aku sudah tahu sejak awal dia akan berjalan seorang diri. Meskipun dia orang yang banyak bercanda dan menggoda dikala tenang, dia adalah orang yang mudah untuk diandalkan. Karena itu, percayalah."


Seketika Elia menghadap Tuan Gen.


"Tuan, kalau begitu, izinkan saya menemani Jon."


"Eeeh?!" Viena terkejut, "apa yang kau lakukan, Elia!"


"Aku tidak bercanda, Viena! Aku kagum dengannya, jadi Tuan Gen—" Elia balik menghadap Tuan Gen, "tolong izinkan saya untuk menemaninya. Saya bisa mengirim pesan pada anda bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bisa pula meredakan luka bila dia terluka."


Sam memotong, "tunggu Elia. Apa kau serius? Aku adalah teman lamanya, aku paham betul sikapnya. Dia adalah tipe lelaki yang hanya ingin berjalan sendirian. Mungkin dia tidak akan menerimamu."

__ADS_1


"Tidak." Elia membantah, "ketika aku menghujani tubuhnya dengan cahayaku, aku bisa merasakan betapa kesepiannya Jon. Dia sebetulnya ingin dipercayai semua orang, dia ingin diakui semua orang. Masa lalunya—aku bisa melihat semuanya."


"Jangan bercanda?!" Sam terkejut. Matanya benar-benar terlihat tak percaya.


"Tidak, aku serius. Bahkan, Jon ingin sekali kau memercayainya, Sam. Dia berpikir bahwa pilihanmu selalu saja bersebrangan dengannya."


"A—Aku tidak bermaksud—"


Sam bersedih mendengar itu. Dirinya sekan mengkhianati keberadaan Jon.


Tuan Gen tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, aura kacau yang menyelimuti ruangan seketika hancur ditelan suara tawanya.


"Aku tidak menyangka, ternyata rapat strategi akan seperti ini. Sebagian saling membela dan saling membantah, namun kalian sama-sama berjalan dalam kebenaran. Itulah kehidupan! Kebenaran dan kebenaran seolah tiada artinya bila berbeda jalan." Tuan Gen lalu memandang Elia, "pergilah bersama Jon. Akupun tak tega bila dia selalu sendirian."


Elia seketika senang mendengarnya. "Terimakasih Tuan! Kalau begitu, saya izin pamit."


"E—Elia!" Viena tidak bisa lagi menghentikannya. Elia sudah pergi lalu menghilang dibalik pintu ruangan.


Suasana kembali sepi. Di dalam ruangan kini hanya menyisakan Tuan Gen, Yen, Roy, Sam, dan Viena.


"Jadi bagaimana, Tuan?" Tanya Yen, "mohon maaf, tapi sepertinya strategi yang sebelumnya kita rencanakan telah gagal."


"Tidak." Tuan Gen membantah itu, "kita baru saja memasuki permulaan. Kalau begitu, aku akan memberikan beberapa perintah tunggal pada kalian masing-masing. Apa kalian mau menerimanya?"


"Kami bersedia, Tuan."


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••


Info tentang kepenulisan Arafura :

__ADS_1


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2