
Viena berdiri sembari memejamkan mata. Tangan kanannya ia angkat ke langit seakan menarik sesuatu ke atasnya. Udara berputar-putar di sekeliling tubuhnya membuat rambut panjang berwarna abu tergibas-gibas sangat kencang.
Di dalam sel penjara kaca muncul api berwarna biru. Api itu sangat terang hingga mengalahkan terangnya lampu. Tubuh para gadis yang tak berbusana terselimuti sepenuhnya oleh api tanpa terkecuali. Terlihat seperti dibakar habis, namun setelah api itu menyusut, sebuah pakaian seragam—jas tipis merah dan rok pendek hitam—tampak seketika menggantikan api itu untuk menutupi lekukan tubuh.
"Semua sudah selesai. Semoga para gadis itu kembali tenang." Ucap Viena berdoa dan menghormati kematian mereka. Pandangannya seketika beralih pada Tuan Gen dengan raut senyuman manis, "Hei, Terimakasih."
"Untuk apa?" Ucap Tuan Gen tidak tahu apa-apa.
"Tidak. Lupakan." Balasnya lalu berjalan meninggalkan Tuan Gen.
"Hei."
Tiba-tiba tak lama kemudian Viena menghentikan langkahnya kembali. Ia lalu berbalik menghadap ke Tuan Gen.
"Bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Viena.
"Apa maksudmu? Kita kan tidak punya banyak waktu."
Viena menggelengkan kepala. Tangan kirinya menunjuk ke arah mesin besar di sampingnya. "Tidak. Sekarang kita punya banyak waktu."
Tuan Gen beralih memandang mesin itu. Api yang membakar mesin seakan membeku—tidak, bukan berarti berubah menjadi dingin, api itu seakan tidak bergerak bagai batu. Di atas api, kumpulan asap hitam yang mengepul di atap terlihat seperti kapas yang tak bisa bergerak. Pandangan Tuan Gen terkejut akan hal itu. Dia tidak pernah mendapati pemandangan seolah mati dari gerakan.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Tuan Gen.
"Selain kekuatan api, aku memiliki kekuatan waktu. Aku bisa melihat masa lalu dan masa depanmu dengan jelas. Terkadang jika aku tak ingin dilihat, aku bisa memilih menghentikannya." Jawab Viena.
"Apa maksudmu? Tidak mungkin ada kekuatan seperti itu. Bukankah api milikmu tadi bergerak?" Tuan Gen tetap tidak percaya.
"Maksudmu api ini?"
Tiba-tiba bola api biru hadir ditangannya, terlihat bergejolak bagai bintang yang panas. Bola api itu seakan melayang di udara dan berputar-putar di tempat seolah terkunci di tangannya.
"Semua yang ku kehendaki akan bergerak, termasuk kau dan api ini. Jika aku menghilangkan kehendaknya, maka—" Viena melempar bola api biru itu pada Tuan Gen, namun tidak sampai tepat mengenainya. Bola itu berhenti tepat di dekat wajah Tuan Gen. Panasnya seakan hilang, gerakan apinya pun terdiam, hanya cahaya saja yang tersisa. "—apapun itu, tidak bisa menembus kekuatanku."
Tuan Gen hanya terdiam. Dia hanya memasang raut terkejut akan hal itu. Tentunya Viena mengetahuinya, ia langsung menunjukan sesuatu yang lebih gila.
"Coba, bisakah kau bergerak ke samping?" Ucap Viena.
"Ke samping?"
"Ayolah, bergerak saja. Jangan berdiri di tempat itu."
Tuan Gen segera menuruti perkataannya, ia melangkah ke samping sehingga berada sedikit jauh dari bola api itu.
"Sampai sini?"
"Ya! Sekarang perhatikan!"
Kening Tuan Gen berkerut. "Perhatikan?"
__ADS_1
Seketika Viena menjentikkan ibu jari dengan jari tengahnya. Sontak waktupun bergerak kembali membuat api panas dan kepulan asap mesin bergerak kembali. Di waktu yang bersamaan, bola api biru yang tadi di lemparkan oleh Viena pun lanjut bergerak cepat lalu menghantam meledakkan dinding ruangan.
Tak ada sepatah katapun dari Tuan Gen. Pandangan matanya seakan meragukan jati diri manusia pada diri Viena. Bagaimanapun, Tuan Gen sudah sangat mengakui kekuatan Viena yang tiada tanding, namun hal itu malah semakin menambah ketidakpercayaan Tuan Gen tentang tertawannya Viena. Bagaimana mungkin orang sepertinya bisa nyaris terbunuh di dalam sel?
"Bagaimana, kau sudah percaya?" Ucapnya sembari menjentikkan jari, waktu pun terhenti kembali.
"Baiklah aku percaya." Ucap Tuan Gen berubah tenang, "tapi ada hal yang ingin ku tanyakan padamu. Kenapa orang sepertimu bisa tertangkap padahal waktu berada di pihakmu?"
Wajahnya berubah serius. "Semua itu karena Shin, salah satu bawahan Tuan Rom. Dia lelaki yang berbahaya. Dia mempermainkanku ketika sedang bertarung di kastil lalu melumpuhkanku dengan matanya."
"Matanya?"
"Kau tahu, Shin selalu memakai topeng? Aku telah membuatnya terpojok begitu ledakan beruntun ku lancarkan. Dia memang sama sekali tidak terluka, namun topengnya sedikit hancur. Di kala itu mungkin saja dia marah padaku. Kekuatan matanya ia aktifkan sehingga aku dilumpuhkan. Sungguh bagaikan bola mata iblis! Aku seakan dibuat terbakar hingga tak sadarkan diri begitu memandangnya." Jelasnya.
Viena melihat raut wajah Tuan Gen—terlihat seperti berubah kesal. Aura hitam bagai iblis pembunuh keluar melalui seluruh tubuhnya. Tangannya mengepal dan urat-urat tangannya keluar. Sosok biasa dari Tuan Gen seakan ingin hilang berganti monster seolah benar-benar membencinya.
"Kau juga pernah berurusan dengannya?" Tanya Viena.
"Dialah salah satu yang telah memaksaku datang ke kastil. Aku sangat membencinya, apalagi Tuan Rom si pengkhianat. Aku ingin sekali menghajarnya!"
"Hentikan." Tiba-tiba Viena seakan ketakutan.
Tuan Gen heran. "Ada apa tiba-tiba?"
"Tidak—kau tidak tahu—"
Seketika Viena seakan menampilkan raut stres. Kedua tangannya memegang kepalanya dengan mata terbelalak. "Lelaki itu sebenarnya iblis. Aku tidak ingin kau secara langsung melawannya. Kau bisa terbunuh percuma." Jelas Viena.
"Tidak! Aku serius! Aku bisa membaca masa depanmu, Tuan Gen! Percayalah padaku."
Tuan Gen terdiam kesal. Matanya menatap tajam kedua mata Viena. "Kalau begitu jelaskan mengapa kau berpikir begitu."
"Alasanku adalah cairan itu—cairan warna-warni yang seketika menguap begitu terkena udara—Apa kau tahu cairan apakah itu?"
Tuan Gen menggelengkan kepala.
"Itu bukanlah cairan racun—namanya Yakhir El Luminos atau di singkat YEL—cairan itu seperti wadah kosong bagi tubuh yang memiliki kekuatan. Ketika cairan itu dimasukkan ke dalam tubuh, maka seluruh kekuatan akan terhisap ke dalamnya, bahkan energi tubuh pun dihisap!" Viena menunjuk sel penjara kaca, "mereka semua adalah orang seperti kita, para gadis yang memiliki kekuatan. Ada yang ditangkap beberapa bulan yang lalu, ada pula yang baru beberapa hari, intinya mereka semua telah tertangkap lalu menjadi korban."
"Aku masih belum mengerti. Maksud mu sejak sebelum akademi Gakuin runtuh, kekuatan itu memang sudah ada?" Tuan Gen tidak tahu.
"Sudah ada. Menurut perkiraanku semua murid memang memilikinya, hanya saja belum mereka sadari, atau mungkin memang belum berkembang. Intinya semua memiliki waktu yang berbeda untuk benar-benar bisa menguasainya."
"Tapi—" Tuan Gen seakan tetap tidak mengerti, "aku adalah anggota osis sejak saat itu, tapi aku tidak pernah mendengar sedikitpun berita tentang murid berkekuatan."
"Ya, karena orang yang memiliki kekuatan akan segera ditangkap oleh mereka sebelum beritanya menyebar."
Tuan Gen terkejut. "Apa maksudmu?"
"Mereka sudah melakukan aksi ini sejak awal—penyerapan kekuatan tubuh hingga habis, hingga pemiliknya tewas."
__ADS_1
Mata seakan terbelalak tidak percaya. Tuan Gen tidak mengira jika Tuan Rom sekejam itu, lebih kejam dari yang dirinya kira.
"Untuk apa mereka melakukannya, Viena? Apa Tuan Rom hanya tidak suka? Apa hanya karena dia memiliki kepentingan? Jelaskan padaku!"
"Kau tentu tahu itu, Tuan Gen. Dia memiliki kepentingan dengan tubuh orang yang memiliki kekuatan."
"Kepentingan apa?"
Viena menatap mata Tuan Gen sangat serius. "Mereka melakukannya karena menginginkan semua kekuatan itu. Ketika cairan itu sudah menguasai tubuh, mereka akan menyerap cairannya kembali hingga habis lalu memasukkan cairan itu ke dalam suntik. Ini perkiraanku saja, mungkin Tuan Rom dan sekitarnya sudah memiliki kekuatan setara ratusan orang."
"Sial! Jadi mereka digunakan bagai alat. Tidak hanya melecehkan. Persetan dengan mereka! Suatu saat aku akan membasminya dari akademi ini!"
Viena tersenyum melihat Tuan Gen yang membara. Tiba-tiba ia melangkah mendekati Tuan Gen hingga tiada jarak yang tersisa. Viena mencium bibirnya hingga membuatnya membelalakkan mata.
"A—Apa yang—"
"Aku senang bila niatmu begitu. Tapi, aku ingin kita beri mereka waktu. Mohon tenanglah, Tuan Gen."
"B—Baiklah."
Aura Tuan Gen mulai melemah membuatnya menjadi sesosok manusia biasa. Urat ditangannya mulai tak tampak kembali, hanya meninggalkan kulit putihnya yang tak menyeramkan.
Lagi-lagi Viena tersenyum kepadanya. Wajahnya terlihat sangat manis di mata Tuan Gen, sungguh menenangkan mata dan jiwa.
"Aku ingin kamu kembali, Tuan."
Seketika Viena melangkah mundur. Dua jari tangannya ia sentikkan sehingga mengeluarkan suara.
Namun, setelah suara itu, Tuan Gen tak lagi mendengar dan melihat apapun—hanya gelap gulita dibuat tak sadarkan diri.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
Info tentang kepenulisan Arafura :
__ADS_1
Twitter/instagram : @alaksinita