
Si jago merah semakin menjadi-jadi. Sosoknya membesar seolah sedang murka. Meja bertumpukkan dokumen telah habis terbakar lalu berubah menjadi arang hitam tak berguna. Lilin warna-warni yang indah sudah tak bersisa lagi, mencair seperti air namun malah membantu apinya semakin membesar. Sebagian api merambat melalui karpet mewah. Ah sungguh disayangkan, apalagi api itu sudah di dukung oleh suhu ruangan yang tinggi. Api apapun akan sulit dipadamkan jika sudah berubah menjadi si jago merah. Rak buku yang dipenuhi ratusan buku di dekat perapian seketika terjatuh. Buku-buku terbakar percuma secepat kedipan mata. Tak ada yang bisa diselamatkan. Keadaan ruangan semakin memburuk.
Tidak ada yang memerhatikannya. Meskipun tak cocok lagi bernapas di ruangan seperti ini, Tuan Gen tak bisa keluar. Di depan pintu sana berdiri seorang lelaki bernama Aio menghalangi jalan keluar. Di kedua tangannya dua bilah pisau berwarna merah. Matanya seolah terbesit kebencian, termasuk raut wajahnya—ah itu benar-benar terlihat mengesalkan. Aio tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ia langsung mengambil kesimpulan bahwa Ziyo dibunuh oleh Tuan Gen. Tidak! Tuan Gen bukanlah orang seperti itu. Dia tidak membunuh Ziyo, bukan pula karena membencinya, dia melakukannya karena Ziyo memang sudah berbuat buruk pada dirinya—setidaknya itu kenyataannya.
Tuan Rom si mata satu, orang yang hanya memandang kepentingan belaka, dialah yang menjadi dalang dari semua ini. Dia mengajak Tuan Gen hanya untuk memerangi para gadis, hanya ingin mengulangi kebiadaban hari kemarin. Gadis-gadis dipermainkan, dilecehkan, dimusnahkan seolah-olah mereka bukanlah manusia, seolah-olah hanya sesosok boneka belaka. Lebih kesalnya lagi, Tuan Rom memberikan informasi palsu agar Tuan Gen bisa menjadikan informasi itu sebagai alasan penyerangan. Tuan Rom hanya tersenyum meninggalkan ruangan ini, meninggalkan Ziyo yang harus bertemu dengan keadaan terburuknya seolah sedikitpun tak merasa bersalah.
Tidak mungkin. Tuan Gen sudah mengerti bahwa Aio tidak akan memercayainya. Api yang timbul karena adanya murka dari lubuk hatinya tidak akan lagi bisa menerima kebenaran. Api kemurkaaan memang tak sepanas api yang menjelma menjadi si jago merah, tapi api kemurkaan sesungguhnya sangat tajam. Lebih tajam dari pisau. Lebih panas dari api berbentuk fisik. Mereka yang memiliki api kemurkaan itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri dan sekitarnya, segalanya seakan dibuat lupa bahwa dirinya ialah insan yang lemah, menjelma menjadi sesosok pribadi angkuh yang hanya ingin menindas lawannya. Seperti itulah Aio sekarang, kini dipikirannya hanya ingin penaklukan—membunuh Tuan Gen dengan tangannya.
Aio memasang kuda-kuda, posisi standar dalam bertarung. Dua pisau di kedua tangannya ia pegang dengan erat tepat di hadapan wajahnya. Matanya sangat tajam. Mulutnya sudah kaku tak banyak bicara. Tubuhnya sedikit membungkuk, gaya bertarung persis seperti Ziyo.
"Kau—tak akan ku biarkan kau pergi!!" Teriak Aio. Napasnya sudah sangat kencang. Gelagatnya sudah seperti orang gila.
"Kau tidak fokus lagi. Kau tidak akan bertahan seperti Ziyo." Ucap Tuan Gen dengan sangat tenang. Gaya bicaranya santai seolah bersabar dengan keadaannya.
Aio malah semakin kesal. Dia menggigit bibirnya sendiri hingga membuat darahnya bercucuran. "Aku tidak peduli. Aku hanya ingin melawanmu!!" Darah itu ia teteskan ke ujung dua buah pisaunya. Seketika pisau itu bercahaya merah. Auranya perlahan menjadi sangat gelap, aura warna hitam di mana lahirnya kegelapan.
Aio berlari kencang ke arah Tuan Gen sembari berteriak. Beberapa langkah sebelum sampai, Tuan Gen menunjukkan sosok diri yang sebenarnya. Rambut birunya memanjang bagai duri, matanya memerah bagai batu bara, taringnya memanjang bagai pisau. Semua terjadi sangat singkat. Sekilas Aio terkejut memandang itu, tapi ia seakan tak peduli. Serangan dari pisaunya tetap ia luncurkan membuat udara di sekitarnya seakan terbelah. Tuan Gen meskipun mampu untuk menangkisnya, ia memilih menghindar dengan melompat. Gerakan Tuan Gen sangat gesit sehingga serangan itu tak mampu menjangkaunya. Tebasan pisau itu berakhir mengenai karpet di atas lantai. Karpet itu tiba-tiba terbakar padahal tidak ada sumbu api apapun, namun terlihat ada sedikit keanehan, api itu berwarna hijau berbeda dengan api yang membakar meja hingga rak buku.
"Cih. Baiklah. Tadi baru pemanasan." Aio kesal. Dia kemudian menyerang kembali. "Kali ini aku serius!"
Tuan Gen mencoba menangkisnya. Serangan bertubi-tubi sembari melompat, benar-benar gaya yang cocok untuk seorang Aio yang bertubuh ringan.
"Ayo!! Cepat balas aku!!" Teriak Aio.
Tuan Gen merasa terpojok. Meskipun bisa menangkis dengan pedangnya, ternyata Aio lebih mahir dari yang dikira. Kedua besi dari pedang yang beradu membuat suara terdengar nyaring dibandingkan dentuman di luar sana. Percikan api beberapa kali muncul, bahkan saking cepatnya gerakan, pisau Aio seakan berwarna merah memanas—entah memang hasil dari gesekan atau bukan, tapi yang jelas Tuan Gen tidak percaya pisau itu bisa bertahan.
Saat terjadi serangan beruntun, Tuan Gen hanya diam berada di posisi berdirinya. Tidak melangkah maju ataupun mundur, hanya terdiam seakan menikmati serangannya. Aio terus bergerak berputar. Perlu diakui, Aio sangatlah kuat, Tuan Gen tidak suka melakukan gerakan yang sia-sia sehingga lebih memilih diam menunggu giliran. Saat ini Tuan Gen lebih sering dibuat diam, itu berarti Tuan Gen merasa giliran ia menyerang belum terlihat.
Tanpa disadari, Tuan Gen merasa ada kejanggalan sehingga memaksanya melompat mundur tepat di samping api besar yang membakar meja dan rak buku. Tangannya terasa panas seperti terbakar. Begitu diperhatikan olehnya, ternyata pedang digenggamannya sedang terbakar api berwarna hijau. Seluruh besinya seakan memanas berganti warna dari putih berkilau menjadi merah kehitaman, beberapa bagian pun sempat menetes bagai cairan lalu membuat karpet lantai seketika berlubang.
Ini bukan api biasa—pikir Tuan Gen. Tidak ada api sepanas itu bila ingin melelehkan besi dalam waktu singkat, apalagi itu api berwarna hijau. Warna seperti itu seharusnya bukanlah api terpanas yang pernah ada. Sangat sulit masuk logika. Pandangan Tuan Gen beralih kepada kedua pisau itu, aura kegelapannya semakin kuat. Cahaya merah bagai besi panas di pisau itu, Tuan Gen merasa bukanlah panas biasa.
"Jadi begitu. Ternyata pisaumu bukan pisau biasa." Ucap Tuan Gen.
"Tentu saja!" Balas Aio, "pisau ini bisa membuat api neraka hadir di dunia! Semua akan terbakar kecuali aku!"
"Benarkan begitu?" Tuan Gen malah tertawa. Bibirnya hingga tubuhnya bergetar. Auranya jahatnya membesar seolah sedang kelaparan. "Kau pikir aku akan kalah semudah itu hanya karena pisau? Jangan bercanda. Aku bahkan akan segera mematahkan pisaumu." Tuan Gen tertawa kembali, sikapnya seakan mengejek keberadaan Aio.
Aio merasa direndahkan. Pandangan matanya berubah penuh penindasan. "Sialan kau!!"
__ADS_1
Api kemurkaan meledak-ledak membuat kakinya dipenuhi nafsu setan. Dia bergerak sangat kencang namun tak begitu hati-hati, terlihat seperti hewan yang lebih mementingkan ototnya dibandingkan akalnya. Serangan bertubi-tubi ia lancarkan kembali, namun serangan itu seketika berakhir begitu guncangan besar membuat beberapa bangunan dari kastil roboh. Atap banyak berjatuhan hingga membuat Tuan Gen dan Aio terpaksa terpisah berlindung di samping dinding ruangan.
"Gadis sialan. Beraninya menggangguku!" Kesal Aio sembari memandangi atap yang rusak.
"Gadis?" Tuan Gen heran. "Siapa maksudmu?"
Matanya malah melotot benci. "Bukan urusanmu. Memangnya kau—" Tiba-tiba gedung berguncang lagi. Kali ini sebagian atap runtuh menimpa api yang membakar meja dan rak buku. Kepulan debu dan pasir dari bangunan seketika beterbangan menghalangi pandangan, di sisi lain kobaran api itu menjalar perlahan-lahan melalui kayu atap sehingga keadaan api semakin membesar.
Pandangan Tuan Gen beralih melirik ke arah atap di hadapannya—atap kayu yang berada tepat di dekat dinding di atas Aio—terlihat sudah retak dan tinggal menunggu waktu untuk jatuh. Tuan Gen memiliki ide gila di pikirannya, ia mungkin bisa segera lari dari sini jika Aio tertimpa oleh reruntuhan atap. Bila Tuan Gen tidak melakukan ide cerdik itu, opsi kedua hanya bisa melawannya hingga akhir duel. Opsi kedua sangat tidak mungkin. Tuan Gen merasa bahwa menang atau kalah dalam duel saat ini tidak akan berujung selamat, lebih tepatnya karena ruangan ini sudah tidak bisa bertahan lagi, jalan keluar akan segera tertutup reruntuhan namun ruangan bagian dalam terbakar—keadaan yang sangat buruk. Intinya bila terus berdiam diri di sini hanya akan memberikan dua pilihan kematian. Bila tidak mati karena terbakar api, maka akan mati kehabisan napas.
"Di luar sana ada pertarungan, kan? Biar ku tebak, mereka sebenarnya mengincarmu." Ucap Tuan Gen mengerti tentang keadaan ini.
"Lalu kenapa?! Mau menyalahkanku?!"
"Jadi itu benar?" Tuan Gen tertawa. "Aku tidak akan menyalahkanmu, malah aku kagum melihatmu. Kau seperti super hero yang melindungi informasi. Itu sangat hebat! Tapi, ngomong-ngomong, Tuan Rom dimana ya? Apa ia tidak ada di sini? Oh iya! Tuan Rom kan lebih mementingkan diri sendiri. Dia rela meninggalkan orang sepertimu di sini."
Aio kesal. "Apa kau bilang?! Tau apa kau tentang Tuan Rom, HAH?! Dia tidak seperti yang kau bayangkan?! Orang sepertimu—iblis yang hanya bisa membunuh—bicara menjelek-jelekan Tuan Rom? Jangan bercanda!!"
Bangunan bergetar kembali seolah dentuman itu berada dekat di atas atap. Debu dan pasir terlihat berhamburan dari celah-celah kecil. Perlahan atap kayu itu sedikit mulai turun seolah tak kuat lagi menahan beban. Tuan Gen mengerti, hanya tinggal tunggu waktunya saja.
Namun, suasana seketika terganggu. Beberapa penjaga istana mendapati kami sedang kesulitan. Mereka melihat dari lorong pintu yang terbuka lalu datang berjalan berniat untuk membantu.
"Tuan Aio! Kami akan membantu!" Ucap satunya lagi.
Melihat itu, Aio hanya membalas dengan raut kesal penuh api kemurkaan. "Bodoh! Jangan datang kemari!! Pergi dari sini!!"
Mereka hanya kebingungan namun masih berjalan mendekat. "Apa maksud anda? Kami bermaksud—"
Seketika terbesit ide di dalam benak Tuan Gen untuk melakukan sesuatu. Logikanya mengira, mungkin akan lebih baik bila melakukan sesuatu pada para penjaga itu dibandingkan membuat atap roboh. Tidak ada kemungkinan atap roboh hanya di bagian Aio saja.
Pandangan Tuan Gen beralih pada Aio. Tampaknya meskipun ia terus meladeni pertanyaan para penjaga itu, kedua mata aio lebih memerhatikan keberadaan Tuan Gen di bandingkan mereka seolah sedang berhati-hati. Tepat selangkah dari kaki Tuan Gen, sebilah pedang yang masih terbakar api hijau masih utuh keberadaanya. Meskipun beberapa bagian pedang itu mencair, sebenarnya itu bukan masalah. Lelehan besi—itu adalah cairan yang sangat panas dan bercahaya terang. Jika seandainya pedang itu dilemparkan pada para penjaga, Aio akan reflek melihat pergerakan pedang itu karena memiliki cahaya sendiri—selain lelehan besinya, api hijau masih tak kunjung padam. Tuan Gen yakin, Aio akan menangkisnya, apalagi api hijau sangatlah berbahaya bagi mereka.
Aio masih saja sibuk. Dia terlihat gagap tidak bisa menjelaskan bahwa dirinya sedang dalam pertarungan. Benar-benar kekanak-kanakan. Tuan Gen tahu Aio sebenarnya adalah orang baik, tapi kini urusannya sudah antara selamat dan celaka. Tuan Gen harus segera keluar dari ruangan ini, tidak—wilayah ini!
"Maafkan aku Aio. Ini mungkin salah satu kelemahanmu." Gumam Tuan Gen.
Segera ia ambil pedang di hadapannya. Tangannya panas terkena api hijau itu. Wujud pedang sudah tidak sempurna, lebih dari setengahnya telah mencair. Tapi itu bukan masalah. Tuan Gen tanpa pikir panjang melempar pedang itu ke arah para penjaga. Beberapa lelehan sempat beterbangan kemana-mana bersama pedang itu yang mulai terbang berputar-putar. Raut wajah Aio seketika terkejut, matanya terbelalak dengan apa yang sedang ada di dekatnya.
"Awas!!! Kalian menghindar!!"
__ADS_1
Benar saja. Aio berusaha menangkis pedang itu untuk melindungi mereka. Dalam waktu bersamaan, Tuan Gen berlari menyerang Aio yang sedang tidak fokus bertarung, begitu tangan Aio sudah mendapatkan pedang itu, Tuan Gen seketika menendang tubuh Aio dengan posisi sempurna, tendangan itu sangat kencang hingga dari mulut Aio sempat keluar darah. Suara hentakan tendangan pun sangat keras sehingga membuat para penjaga terkejut. Mereka hanya terdiam tak percaya begitu melihat tubuh Aio seakan terbang lalu menabrak dinding hingga berakhir tergeletak tak sadarkan diri.
"T-Tuan Aio—"
Mereka lalu beralih memandang Tuan Gen.
"K-Kenapa Tuan Gen—"
Tuan Gen hanya tersenyum dengan pandangan mata menindas. "Kenapa? Tanyakan saja pada Tuan Rom, dia manusia penipu!"
Sontak Tuan Gen layangkan pukulan keras pada mereka semua. Suara keras dari teriakan mereka sangat nyaring terdengar. Darah mereka bercucuran sangat deras. Kedua mata Tuan Gen menerang bagai batu bara begitu melihat bercakan darah di lantai. Tanpa pikir panjang, Tuan Gen langsung menjilat habis semuanya, begitupun terhadap leher-leher mereka, Tuan Gen menggigitnya lalu menghisapnya seakan manusia yang sedang kehausan.
Kastil bergetar kembali. Beberapa bagian sudah mulai runtuh, termasuk dinding ruangan. Ledakan ini sungguh parah! Apalagi api di dalam ruangan seakan terlahir ingin membakar seluruh penjuru kastil. Cahaya dari kedua bola mata Tuan Gen mulai memudar. Napsunya pada darah mulai hilang berganti kesadarannya pada bahaya. Dirinya ingat, ia harus segera melarikan diri.
Kastil semakin bergetar. "Tidak, kali ini bukan dari ledakan. Kastil ini akan roboh!" Tuan Gen segera berlari melalui lorong ruangan. Lorong ini sangat panjang dan dipenuhi manik-manik kemewahan, memang indah namun berbanding terbalik dengan keadaan di belakang Tuan Gen. Atap mulai runtuh merambat seakan mengejar Tuan Gen. Debu dan suara gemuruh tak bisa ia halangi.
"Sial!" Tuan Gen dibuat panik.
Tiba-tiba ia melihat dihadapannya ada jendela kaca. Ternyata itu ujung dari lorong, tak ada jalan keluar lagi selain jendela kaca itu. Tidak ada pilihan lain, Tuan Gen pun memilih untuk menembus jendela kaca itu. Tubuhnya sesaat melayang begitu tinggi di udara kemudian menabrak pepohonan taman hingga berakhir terjatuh kembali menghantam semak dalam keadaan tak sadarkan diri.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
Info tentang kepenulisan Arafura :
__ADS_1
Twitter/instagram : @alaksinita