
Cahaya itu terasa dingin, mengalir mengitari pembulu darah. Pikiran terasa sejuk seakan membawa diri ke dalam kolam kedamaian. Hati layaknya mengambang, tak lagi memberatkan jiwa.
Seketika mentari terang terlihat sedang menggantung di seberang mata. Langit biru membatasi awan yang ada di bawahnya, menyelimuti daratan hijau dan bangunan tinggi dengan kegelapan layaknya malam. Hujan badai turun menerjang Akademi, namun suasananya tampak tak begitu buruk.
Air yang mengalir dan menggenang, semua tampak bersih layaknya kolam ikan, setiap halaman tampak hijau dan rapi seolah dirawat dengan kasih sayang, lingkungan sekitar kastil hingga jalanan umum—tak ada satupun sisa-sisa sampah kerusuhan, layaknya tidak lagi terabaikan; seluruhnya tampak indah. Tak ada puing-puing bangunan yang menghalangi jalanan, asap yang mengepul di sebagian bangunan Akademi kini terlihat tak ada sama sekali, seolah memang tak pernah ada kekacauan.
Tiba-tiba Jon tersadar di suatu tempat yang sepi. Jalanan akademi, biasanya selalu ada lalu-lalang kereta kuda. Langit gelap membuat lampu-lampu jalan menyala terang, cahayanya menyebar hingga ribuan rintikan air hujan tampak terlihat jelas. Hujan memang selalu saja menghentikan lalu-lintas jalanan, termasuk para murid akademi—kebanyakan lebih memilih berteduh menunggu reda terlebih dahulu.
Pikiran Jon mulai sadar kembali, "tunggu dulu, bukannya sekarang sedang kacau? Kenapa semuanya tanpak normal?"
Langit seketika berkedip menyebarkan sinar silau sesaat, petir datang bersama suara layaknya ledakan kejutan. Air hujan tampak semakin deras membuat Jon melangkah mundur menjauh hingga punggungnya tertahan dinding kaca tebal di belakangnya.
Air hujan tak mengenainya, di atasnya terdapat atap kecil yang biasanya ada di samping bangunan toko, atap itu bisa juga digunakan untuk berteduh. Namun, udara terasa dingin membuat Jon ingin bersin. Angin terus berhembus tak ada hentinya, bahkan hingga mengeluarkan suara nyanyian aneh seperti ada yang membuatnya.
"Kau suka hujan, ya?"
Suara itu mengejutkan Jon, kebetulan Jon selalu melamun jika turun Hujan. Terlihat seorang gadis di sampingnya dengan raut wajah manis. Rambutnya pendek berwarna hitam. Tubuhnya memakai seragam resmi Akademi—kemeja putih berdasi pita hitam, jas merah yang tipis, serta rok pendek hitam.
"Ternyata kau, Elia. Kenapa kau di sini?"
Elia semakin tersenyum namun lebih tampak seperti bingung sesaat.
"Eh? Kenapa aku di sini, katamu? Bukankah ini dunia ingatanku?" Ucap Elia.
"Dunia ingatan—?"
Sesaat matanya terbelalak, Jon mulai mengingatnya. Sebelumnya dia sedang menggenggam tangan Elia ketika berada di kamar. Dirinya lupa bahwa tak selangkahpun beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Kenapa? Kau sudah ingat? Atau—kau malah lupa?" Tanya Elia, dia terus saja bertanya sembari tersenyum ceria.
"Iya, aku ingat," ucap Jon, "aku tak menyangka akan berada di sini. Ku kira hanya bisa membayangkannya saja."
"Bagaimana? Keren, bukan?"
Jon terdiam sejenak, mulai heran dengan senyuman Elia.
"Kau terlihat lebih bahagia di sini. Memangnya kau sebahagia ini ketika melihat masa lalu?" Tanya Jon.
"Entahlah, menurutmu bagaimana?"
Jon kebingungan. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Lagipula, apa untungnya memikirkanmu," canda Jon diselingi tawa kecil.
Namun, tiba-tiba saja pandangan Jon mendapati senyuman Elia menghilang seakan sirna. Kepalanya menunduk membuat beberapa helai rambutnya menutupi kening hingga matanya.
"Benar juga ya," gumam Elia. Tampak seperti menganggap serius.
Raut Jon benar-benar merasa bersalah. "Eh, maaf, Elia. Aku tadi hanya—"
Jari telunjuk Elia seketika menyentuh kedua bibir Jon, membuatnya tak bisa lanjut berbicara. Pandangan mata kebingungan tergambar bersama raut wajahnya, sedangkan Elia hanya tersenyum.
"Aku tidak tahu, ternyata kamu sebawel ini. Jon," ucap Elia beralih memandang langit gelap, "aku hanya ingin melakukan apa yang ingin ku lakukan, apalagi ini adalah suasana Akademi masa lalu. Tepatnya dua minggu sebelum pernikahan itu."
"D—Dua minggu?!" Jon terkejut, "Kalau tidak salah, bukannya tiga hari setelah itu adalah acara tunangan?"
"Ya. Acara tunangan dimana Ganendra Rubby dan Listyana Airia sah sebagai jodoh. Aku kebetulan hadir saat itu, walaupun hanya sebatas menjadi pengawal khusus, bukan sebagai tamu undangan yang memasuki ruangan. Namun begitu—"
Seketika suaranya terhenti seolah menahan maksud sesuatu.
"Begitu? Memangnya ada apa, Elia?" Tanya Jon penasaran.
__ADS_1
Raut mata Elia serius. Keningnya sedikit berkerut.
"Ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka—para petinggi acara itu. Entah benar atau tidak ini hanyalah dugaanku saja, saat aku mengawal Airia di jalan, auranya tampak bukanlah dia yang asli. Wajahnya memang ditutup kain cadar sehingga aku tidak bisa pastikan. Walau begitu, rambutnya yang coklat, kulitnya yang putih, matanya yang hitam—semua terasa sama persis."
"Jadi itu baru dugaanmu saja," ucap Jon seolah menyayangkan, "kalau begitu, bagaimana dengan acaranya? Apa ada hal yang aneh?"
"Sudah ku bilang, kan? Aku tidak dibiarkan masuk meskipun pengikut setia Airia. Aku tidak mendengar berita apapun tentang tunangan, semua seolah menutup mulut dari kebenaran," ucap Airia.
Jon pun akhirnya menyerah. Dia menyandarkan tubuhnya di kaca tebal. Napasnya seakan menghembuskan rasa kekecewaan.
"Sudahlah," ucap Elia, "kali ini kita lupakan itu. Sesaat lagi diriku yang dulu akan segera datang untuk menaiki kereta kuda."
"Dirimu? apa maksudmu?"
Tiba-tiba pintu toko terbuka. Sesosok gadis cantik berpakaian feminim terlihat indah, roknya berwarna pink sedangkan bajunya berwarna putih. Di tangannya terdapat tas jinjing kecil.
Ternyata dia mirip seperti Elia. Dia melangkah keluar pintu dengan raut cerita.
"Wah, aroma hujan memang menenangkan," ucapnya sembari menghirup udara bebas.
Seorang gadis lain menyusulnya. Kali ini Jon tidak mengenalinya. Wajahnya tampak asing meskipun sama feminimnya. Pakaiannya indah penuh warna, yang membedakan hanyalah rambutnya yang panjang dan berwarna pirang. Dia memang tampak cantik.
"Gimana, Elia? Manis, kan?" ucap gadis rambut pirang itu.
"Ya, manis! Aku tidak pernah merasakan kue semanis itu," jawabnya seolah merasa beruntung.
"Benar, kan? Apa aku bilang. Tapi, hati-hati ya. Kalau gendut bukan salahku, loh!"
"Kamu ini! Jangan ingatkan aku!"
Seketika mereka saling tertawa membuat suara air hujan tak begitu terdengar. Di sisi lain, Jon malah semakin dibuat bingung.
"Tidak usah berbisik," ucap Elia, "itu adalah aku, mereka berjalan sesuai ingatanku. Coba kau sekarang perhatikan suasana jalan."
Pandangan Jon beralih menyebar ke penjuru jalan. Seketika terlihat beberapa kereta kuda berlalu-lalang, orang-orang berjalan di trotoar sembari membawa payung warna-warni di atasnya. Suara hujan kini lebih terdengar seperti suara sampingan, selebihnya suara langkah kaki, sepatu kuda, hingga suara orang yang saling berbicara.
"Apa yang terjadi?!" Jon terkejut.
"Kau masih belum paham?" Elia menghela napas, "biar ku sederhanakan. Bagaimana aku bisa ingat bila diriku saja tidak berada di sini. Contoh, kau bisa saja memasuki toko itu tapi tidak akan menemukan seseorangpun di sana," ucapnya sembari menunjuk ke arah toko di sebrang jalan.
"J—Jadi begitu, ya. Pantas saja tadi sepi," Jon tertawa sembari menggarukkan kepala. Dirinya tidak menyangka Elia bisa bersikap seperti itu. "Oh iya, Elia, siapa wanita itu? Sahabatmu?" Tanya Jon mengalihkan.
Raut wajahnya beralih serius. "Dia Intan Ganesha, bisa dibilang saat itu kami bersahabat. Sekarang dia menjadi salah satu pemimpin wilayah bagian Akademi Air Gakuinia. Meskipun dia tampak cantik dan feminim, tolong menjauhlah darinya."
"Apa yang salah dengannya?" Jon penasaran.
"Dia sangat kuat. Dia pun memiliki julukan 'Si kilat kuning' karena kecepatannya dalam menyerang, sungguh bagai petir." Jelas Elia.
Di celah jeda, gadis rambut pirang yang baru saja dibicarakan, seketika mengangkat tangan sembari memanggil sebuah angkot kereta kuda.
"Mang, angkot!"
Angkot kereta kuda itu berhenti. Seorang kusir terlihat memakai jas hujan bersama kudanya. Memang pada umumnya kusir tidak duduk di dalam keretanya, apalagi itu adalah kereta kuda khusus umum, bentuknya memanjang dan memiliki satu pintu di belakangnya hanya diperuntukkan untuk penumpang saja.
"Ke asrama sebelah, neng?" Tanya mang kusir.
"Iya, mang. Bisa kan hujan-hujan begini?" Jawab Intan Ganesha dan langsung direspon anggukan kepala.
"Bisa neng. Silahkan masuk."
__ADS_1
"Ok, terimakasih mang."
Mereka kemudian menaiki angkot kereta kuda. Awalnya Jon hanya memerhatikannya, namun ternyata Elia asli yang berada di sampingnya ikut mengekorinya.
"Ayo, tunggu apa lagi. Kita ikut naik," ucap Elia begitu mendapati Jon hanya terdiam.
"Eh? Jadi tujuan kita hanya ke Asrama?"
"Pokoknya ikuti saja. Nanti kau tahu sendiri."
Tak ada pilihan lain, Jon pun langsung mengikutinya. Ia ikut menaiki kereta. Tampak kosong di dalamnya. Jon duduk tepat bersebrangan dengan Elia dan bersampingan dengan Intan, gadis rambut pirang itu.
Kereta kuda bergera maju menerobos hujan. Lampu jalanan terlihat bergerak, sangat terang menyilaukan. Sinarnya memantul di jalanan yang basah bersama lampu-lampu bangunan. Rasanya sore hari ini tak berbeda jauh seperti malam.
"Beberapa saat lagi Intan akan melakukan sesuatu," ucap Elia memberitahu. Jon tidak banyak bertanya, dia hanya mengangguk mengiyakan.
Tiba-tiba kereta kuda terhenti. Seseorang bertopeng putih dan berpakaian kaos hitam tampak berdiri menghalangi jalan. Postur dan gaya rambutnya terlihat seperti seorang pria nakal, meskipun kurus namun dipenuhi otot dilengannya.
"SIAPAPUN YANG BERADA DI ANGKOT, SEGERA KELUAR!"
Melihat orang itu tak kunjung pergi, kusir sampai dibuat kesal. Kusir itu sempat memaksa kudanya untuk segera menabrak saja orang itu. Kuda mulai ingin beraksi, namun begitu suara nyanyian kuda terdengar, orang itu ternyata tanpa segan melukai kaki kuda dengan pedang lalu menusuk sesuatu pada tubuh Kusir. Seketika tergeletak tak berdaya.
Elia dalam ingatan tampak kesal dipermainkan. Dia bergegas bangkit untuk keluar melawannya. Namun, Intan tidak membiarkannya.
"Tunggu di sini. Ini bukan urusanmu, Elia," ucap Intan dengan raut mata tajam.
"Bukan urusanku? Tapi, Intan—" balasnya sembari menahan tangan Intan untuk tak pergi, "orang seperti mereka itu berbahaya. Aku merasakan firasat buruk padamu."
"Tidak apa-apa, Elia," ucap Intan sembari tersenyum, "aku akan segera kembali. Semua baik-baik saja."
Intan kemudian segera turun meladeni pria bertopeng itu. Air hujan segera membasahi rambut pirangnya hingga pakaiannya.
Beberapa orang yang bersembunyi keluar, jumlahnya menjadi empat orang. Mereka datang dengan membawa pedang, bahkan ada yang hanya tangan kosong namun tampak tak bisa diremehkan. Mereka semua mengitari di mana Intan berdiri, terlihat seperti gadis yang ingin dipermainkan.
Jalanan terlihat sepi, entah kenyataannya sepi atau memang Elia tidak ingat. Yang jelas, Jon tak bisa berbuat apa-apa meski rasanya menyebalkan hanya melihat gadis dikepung.
Ini adalah ingatan Elia.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
Info tentang kepenulisan Arafura :
Twitter/instagram : @alaksinita
__ADS_1