Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Tawan | Api Sedingin Air


__ADS_3

Jon menghantam meja di hadapannya dengan tangan kosong. Kekesalan itu tak dapat terbendung lagi begitu menerima laporan yang tak mengenakkan. Taring kebenciannya berkali-kali tampak keluar bersamaan dengan tangannya yang mengepal keras. "Aku tidak percaya! Tuan Gen ditawan? Persetan dengan mereka!!" Matanya yang merah berubah seperti kobaran api kebencian, sedikit menjadi gelap seolah ingin mengeluarkan aura kegelapan. Rambut pirangnya tak lagi indah, kulit wajahnya sudah didominasi oleh kerutan sehingga mengalihkan ketampanannya menjadi tampang kekejaman.


Tak hanya Jon, bahkan Sam pun sama. Matanya hanya menatap lantai tanpa terpikir kemungkinan apapun. "Ini di luar dugaan kita. Sebenarnya apa alasan mereka?" Tentu saja tidak ada yang menyadari itu. Tidak ada yang tahu. Semua terjadi secara tiba-tiba setelah Tuan Gen mengadakan rapat tertutup bersama Tuan Rom dan Tuanku Rubby. Ah bodohnya! Padahal keadaan sedang labil, bisa-bisanya semua kebodohan itu terjadi dikala sempit!—setidaknya semua orang memang menyesal.


Jon memukul meja lagi. "Tentu saja! Si pengkhianat Rom itu hanya ingin menyaingi kita! Bukankah Tuan Gen pernah menceritakan pada kita, siapa Tuan Rom itu? Kalian tahu itu kan?!"


"Tenanglah bodoh!"


Di dekat pintu yang sedikit terbuka, seorang Sam menatap tajam kelakuan Jon yang berlebihan. "Bisakah kau sedikit berpikir tenang? Kau hanya memperburuk suasana, Jon." Lanjut Sam.


"Mau bagaimana lagi! Tuan Gen itu bukan orang biasa! Dia pemimpin tertinggi kita! Kau tahu itu kan, Sam!" Kesal Jon. Matanya benar-benar terlihat menindas.


"Sialan kau, Jon!" Sam terpancing. Ia langsung mencengkram kerah dari pakaian Jon. "Sudah ku bilang tenang! Memangnya kau saja yang kesal? Semua juga kesal, dasar bodoh! Kalau kau terus seperti ini, itu hanya akan membuatmu asal berspekulasi, akhirnya hanya membawa kesialan baru untuk kita. Tenanglah sedikit! Jon!"


Di balik semua kekacauan itu, Roy menghadapinya dengan kepala dingin. Di hadapinya secara langsung seorang pria yang tadi menyampaikan pesan—pria itu adalah pelayan khusus Tuan Gen yang bekerja sebagai kusir kereta kuda. Pria itu memang sedikit ketakutan hingga terduduk dalam tekanan. Roy mengulurkan tangan pada pria itu. "Ini bukan salahmu. Tenanglah lalu jelaskan pada kami lebih detailnya." Ucap Roy.


"T—Tapi—" Pria itu masih bergetar ketakutan.


Roy sedikit tersenyum. "Tenanglah. Kau adalah saksi dari kejadian ini. Kami akan mengambil keputusan sesuai dengan apa yang kau jelaskan, karena itu beritahu kami agar semua berjalan dengan baik."


"B—Baiklah. Saya akan menjelaskan lebih detail lagi."


°


°


•••


°


°


Air hujan kini seperti layak untuk dibenci. Angin siang memang terasa sejuk tetapi cahaya mentari benar-benar meredup. Tanah basah sejak kemarin—sama sekali tidak mengering hingga sekarang. Cuaca tak bersahabat hanya akan membuat setiap orang memilih berdiam diri berlindung dibalik atap-atap rumah mereka. Pintu-pintu rumah terkunci rapat tak meninggalkan bekas atau jejak-jejak kehidupan. Adapun mereka yang tak memiliki apa-apa, hanya terduduk diam di pinggir jalan dengan pandangan ketakutan, mulut-mulut mereka seakan membisu dari membicarakan kesempatan jalan keluar dari permasalahan kecuali hanya mengeluh, tubuh mereka pun menggigil meskipun sudah memakai selimut—sungguh murid-murid yang malang. Tapi, bukan itu yang kini terpikir dalam benak seorang Jon. Dia sungguh benci semua orang! Di kala sudah seharusnya bangkit untuk membangun kembali Akademi, banyak murid sampah yang memilih diam memeluk lutut mereka sendiri di depan api unggun. Bahkan mungkin mereka pun tak tahu bahwa Tuan Gen sedang ditawan—Jon benar-benar benci itu! Sulit untuk berbuat banyak dan sempitnya keadaan yang memaksanya terikat dalam kehimpitan membuat Jon hanya bisa merenung di samping taman, terduduk di sebuah kursi sembari merasakan rintik demi rintik air hujan. "Dinginnya—ah sial. Kenapa semua ini terjadi—sial!" Tanganya mengepal sembari menundukkan pandangan. Rambut pirangnya sudah sangat berantakan, seperti lelaki yang tak memerhatikan penampilan.

__ADS_1


Jon kali ini merasa tak berguna. Selain kekuatan dari ketampanannya, dirinya sebenarnya sangatlah cerdik untuk mengatur keadaan. Entah mengapa, ini sedikit berbeda. Jon muak dengan keadaan akademi yang sungguh bodoh baginya, seperti tak dapat bergerak. Kaki-kaki yang kaku itu tak seperti dulu lagi. Seragam-seragam yang indah dengan sepatu yang super mewah, biasanya dipakai bersama-sama lalu berjalan meramaikan jalan dengan yel-yel. Ah! Itu masa lalu! Akademi sudah dalam zaman kebodohan ketika sekolah runtuh, apalagi para guru menghilang menelantarkan murid dalam kekacauan! Guru memang segalanya bagi akademi ini. Sebenarnya Jon dahulu menjadi murid yang terkenal cerdik dan tampan sebab guru-guru ada di sampingnya. Mereka selalu memberi pujian dan menanam nasehat agar Jon tidak lepas kendali.


"Tapi sekarang mereka tidak ada!"


Jon kali ini sendiri. Hanya meratapi kelemahan. Dunia seperti sudah beralih kepada orang-orang yang berkuasa saja. Orang cerdik, orang tampan, segalanya yang indah di masa lalu seakan kini menjadi sampah.


Seorang pria berambut hitam dan memakai penutup mata di sebelah matanya yang terluka—namanya Yen—seperti biasa selalu datang dengan sikap penuh rasa tanggungjawab meskipun dia bukanlah ketua. "Ternyata kau di sini, Jon. Aku sudah mencarimu kemana-mana."


"Untuk apa mencariku? Di sana ada Sam dan Roy, kan?"


Yen sesaat terdiam sedikit menghela napas. "Kau ini—seperti biasa egois. Lagipula aku pun merasakan hal yang sama. Kesal, tak bisa berbuat apa-apa. Siapapun akan tersiksa dalam keadaan ini, bukan? Kenapa selalu saja hanya kau yang merasa tak berdaya?"


Kata-kata yang sungguh pedas untuk ukuran keadaan seperti ini—tidak—untuk seorang Jon yang benar-benar egois. Memanglah Jon itu lelaki yang emosional, tetapi justru itulah titik terang tumbuhnya kesetiaan dari hatinya. Yen percaya akan hal itu, karenanya Yen selalu menyempatkan diri bila mana Jon berlari untuk mengisolasi diri.


Pelayan itu—lelaki yang menjadi kusir khusus bagi Tuan Gen—menjelaskan bahwa Tuan Gen awalnya diajak untuk mampir ke kastil Tuan Rom. Tentu saja Tuan Gen menolak, bagaimana pun Tuan Rom itu musuhnya sejak akademi belum runtuh. Tapi, kusir itu tak dapat berbuat apa-apa. "Tiba-tiba seseorang memukul leherku. Aku pun pingsan di tempat— begitu tersadar kembali, tak ada lagi jejak dari Tuan Gen." Mendengar itu menyulut kemurkaan bagi kelompok Margavalla, semuanya khawatir sebab Tuan Gen adalah pemimpin tertinggi yang menerima amanah untuk membangun kembali akademi. Jon berniat ingin mengerahkan pasukan khusus untuk memastikan keberadaan Tuan Gen, tetapi hal itu segera ditangkis oleh Sam.


Sam berspekulasi dengan wajah serius. "Mengutus pasukan hanya akan membuat masalah baru untuk kita. Saat ini seluruh murid pun mungkin saja sedang tertekan. Ini masalah moral."


Yen mengerti akan hal itu. "Benar sekali. Kita pun tidak bisa membuktikan bahwa Tuan Gen memang sedang ditawan. Setidaknya—"


"Terlalu berlebihan?" Jon memukul meja kembali. "Apanya yang berlebihan! Kenapa kalian semua lelet! Sial, padahal kita baru saja menerima jabatan ini tapi—sialan Rom! Mentang-mentang dia dulu mantan wakil ketua osis—"


Tiba-tiba Roy memukul Jon lalu membentaknya dengan mata sinis. "Aku tidak peduli dengan ketampananmu. Ternyata kau bodoh. Jernihkan pikiranmu."


Semua terdiam. Jon yang sudah sangat kacau akhirnya berakhir menyendiri di taman meratapi dengan rintik demi rintik air hujan. Wajahnya sudah kusut menggantikan ketampanannya. Rambut pirangnya sangat berantakan, seperti bukan Jon. Matanya yang merah sudah sangat tajam, seperti mata seorang pembunuh. Jon memang berniat ingin membawa banyak pasukan untuk meruntuhkan kekuasaan Tuan Rom. Itu sungguh pemikiran yang dangkal, tapi memang begitulah sesosok Jon yang malang, tidak bisa berbuat apa-apa seolah tidak memiliki kekuasaan apapun. Segala langkahnya seolah hanyalah sekadar papan perjudian—mengukir suatu langkah namun tak tahu menang atau tidak.


Ah sudahlah! Jon segera mengakhiri kekacauan pikirannya. Ia menggaruk-garuk rambut kepalanya dengan sangat kasar sehingga membuatnya lebih berantakan. Mulutnya berteriak dengan suara lantang meskipun berakhir hilang kembali ditelan suara ketenangan dari rintikan air hujan.


"Jadi, apa kau sudah tenang?" Ucap Yen di sampingnya, dia hanya berdiri seolah menunggu Jon untuk tenang.


Jon menghela napas dalam-dalam. "Entah kenapa, mungkin ini akibat rintikan air hujan juga tapi—ya, aku tenang, walau aku masih sedikit kesal juga sih." Jawabnya sembari mengalihkan pandangan dari memandang mata Yen ke sebuah serangga yang mendarat di antara bunga-bunga indah.


Yen tersenyum melihat itu. "Bagus. Kali ini dan hingga akhir, aku ingin kamu bisa menahan amarah seperti ini. Kalaupun terlanjur tak tahan, keluarlah dari perkumpulan."

__ADS_1


Alam memang misterius. Hatinya mulai perlahan menjadi tenang ketika kembali melirik alam sekitar. Taman ini sangat ragam dengan warna. Indahnya bunga, lingkungan taman yang bersih—keadaan inilah yang tak berubah dari akademi yang lalu.


"Jadi apa rencana mereka, Yen?" Tanya Jon beralih serius.


Yen tersenyum dengan pandangan mata serius. "Roy mengajukan diri. Dia akan bergerak dengan tiga orang bawahannya."


"Aku senang mendengarnya." Ucap Jon. "Aku bertaruh, meskipun dia orang yang dingin, dia lebih baik dariku."


Yen tertawa mendengar itu. Tangannya lalu menepuk-nepuk pundaknya. "Ayolah kawan! Sedikit hargailah dirimu, kawan."


"Ya, aku tahu itu!" Jon pun tersenyum.


Lalu mereka berdua pun segera kembali ke dalam kastil untuk bergabung dengan yang lainnya.


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••


Info tentang kepenulisan Arafura :

__ADS_1


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2