Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Mengingat | Empat Kaki Yang Berdiri Di Atas Bara


__ADS_3

Tuan Rinsei Gen adalah Tuan di Kastilnya, bagi bawahannya, dan tanah yang dipercayakan padanya. Bisa saja dia melakukan apa yang diinginkan menurut egonya, suatu hal yang sungguh sangat mustahil untuk bisa dipenuhi.


Rembulan seakan malu melihat keadaan akademi, wajah cerahnya ia sembunyikan dibalik awan berwarna hitam. Suasana tampak berbeda dari hari kemarin, hanya beberapa lampu jalan yang terlihat bersinar. Gedung dan rumah sama sekali tidak terlihat adanya kehidupan, mungkin saja mereka takut bila cahaya lampu terlihat dari luar.


Perang perpecahan baru saja terjadi sehingga jalanan hanya dipenuhi puing-puing bangunan dan beberapa barang yang dibakar. Asapnya masih beterbangan mengepul dalam dinginnya malam. Beberapa mayat pun terlihat dengan bercakan darah. Ada mayat wanita maupun pria, semuanya terbujur kaku menjadi bangkai jalanan.


Tuan Rinsei Gen mengalihkan pandangannya pada sebuah tempat dicelah antar gedung. Orang-orang bersandar sembari memeluk lutut mereka, wajah-wajah kumuh itu ditutupi oleh jubah tebalnya seperti selimut. Mereka murung seperti tidak mengharapkan apapun, sebagian hanya bisa memandang api yang dibakar ditengah-tengah mereka sambil melamun. Benar-benar perkumpulan yang tak bisa diharapkan.


"Sialan, mereka seperti akan menjadi beban," hardik Tuan Rinsei Gen pada kenyataan itu. Para lelaki dalam perkumpulan sia-sia hanyalah segelintir orang yang mengaitkan kesialan dengan hal diluar naluri. Takdir—kata itu yang selalu terdengar dari mereka.


"Benar sekali! Ini adalah takdir, kita telah diuji agar bisa bertahan dalam situasi terburuk," sorak mereka, entah kenapa terdengar muak dengan perkataan itu.


Sebuah Arti yang hampa dari dalam lubuk hatinya—Takdir—itu membuat dirinya ingat akan suatu kejadian masa lalu.


Sebelum akademi runtuh, sebelum segalanya telah menjadi seburuk siang hari ini, Tuan Rinsei Gen adalah seorang lelaki lemah yang menjabat sebagai anggota osis biasa, tugasnya kurang lebih hanya menjadi bawahan seperti osis penggerak yang selalu bekerja dilapangan.


Namun, ternyata semua itu palsu, jabatan seperti itu sangat ditolak keberadaannya oleh sahabatnya sendiri. Remar Ayrish namanya, ia pun berkata, "osis lapangan kurang lebih hanyalah babu yang dilabeli jabatan! Mereka hanya dibayar dengan uang, bukan kepercayaan! Kenapa harus kau, Gen?!" Begitu kata-katanya yang selalu diselingi raut kesal penuh amarah begitu tahu temannya malah mendaftarkan diri sebagai anggota—padahal sebelumnya sudah pernah saling berjanji untuk tidak terlibat.

__ADS_1


Remar tidak ingin segala kemungkinan membuat Gen terjatuh, karena itu Remar menolak mentah-mentah. Tapi, meski keadaan saat itu akademi sangatlah makmur, mereka berdua sangatlah miskin dan butuh sesuatu yang dapat diharapkan, seperti uang yang membawa kemakmuran dan jabatan yang membawa kebebasan, benar- benar hal manis yang menggolak ego bodoh seorang Gen.


Ini seperti takdir buruk—pikir Gen di masa lalu. Dirinya mencoba berdiri agar bisa mengubah takdir sial satu per satu dengan jabatan dan uang, tapi Remar mengelak, "Memangnya kau tahu apa tentang takdir?" sergahnya dengan mata kesal. Dia bukanlah pria biasa, meski bernasib orang pinggiran juga, Remar adalah murid yang jenius di atas rata-rata.


"Takdir, tentu aku tahu!" Gen berubah keras kepala, "Itu telah membuat kita kesulitan seperti ini. Apa kau—"


Remar memotong ucapan itu. "Jadi kau menyalahkan Tuhan? Persetan dengan segala kesialan!" Remar memukul Gen hingga terjatuh, "kesialan dan keberuntungan itu sama saja, yang buruk itu kau, asal meninggikan diri dengan alasan takdir! Selain itu, kau malah memberikan segala hidupmu pada jabatan palsu dan uang! Siapa sebenarnya kau?! Kenapa kau tidak berusaha untuk mengasah kelebihanmu itu?!" Gen benar-benar dimarahi.


Terlihat sedikit air mata kesedihan yang menumpuk terbendung dimatanya, Remar tak pernah merasa tidak menyangka seburuk itu.


Ucapan itu terus terngiang hingga diri seorang Tuan Rinsei Gen di masa ini. Saat itu sungguh memang bodoh, meski kini sudah menjadi seorang Tuan, tetap saja jika datang melihat keadaannya sendiri di masa lalu tidak ada perasaan lain kecuali benci. Seseorang yang mengaitkan apapun dengan takdir—itu hanya orang yang merendah untuk meninggikan diri dihadapan Tuhan, dan pada akhirnya akan jatuh juga karena kesombongan.


Dia kemudian bersandar di sofanya, berada di dalam kereta kuda yang ditarik oleh dua ekor kuda berbeda warna, hitam dan putih—kuda kesayangan Tuan Rinsei Gen yang ia terima dari sahabatnya. Melihat kuda itu rasanya menjadi rindu.


"kemanakah Remar?" pikir Tuan Gen.


Tapi tak ada waktu, sesaat lagi mentari akan terbit, kali ini juga dirinya perlu untuk mempersiapkan segalanya. Dia akan bertemu dengan Ganendra Rubby—ketua osis yang kini menjadi penguasa nomor satu di Akademi Api Gakuin—untuk mengadakan rapat tertutup di kastilnya—kastil kepemimpinan di pusat wilayah Api Gakuin yang dahulu pernah menjadi wilayah pusat bagian timur Akademi Gakuin.

__ADS_1


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••

__ADS_1


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2