
Ruangannya terang-benderang dengan lampu-lampu listrik yang terpasang di setiap penjuru ruangan. Kain merah bergantung menghiasi sepanjang lorong tembok putih. Banyak penjaga tersebar berdiri dengan tegapnya tanpa keraguan. Mereka memiliki mata yang tajam dengan pedang-pedang panjang yang dapat dengan mudahnya menebas leher manusia. Para penjaga itu memakai pakaian merah seperti darah—lebih tepatnya jubah, sebuah pakaian khusus yang katanya anti api—pakaian itu lebih terlihat gagah namun seperti berlebihan apabila tidak dipakai oleh kalangan elit. Setiap wajah para penjaga pun terlihat datar, mereka kurang lebih seperti boneka yang akan menuruti perintah penguasanya.
Pedang-pedang panjang itu terangkat ke udara begitu datang Tuan Gen dan Tuan Rom menginjak karpet merah panjang itu. Mereka mulai menegakkan bahu-bahu mereka sembari menghadapkan pandangan lurus tanpa terlihat berkedip. "Selamat datang kembali, Tuan Rom!" Ucap seorang penjaga menyambut dengan hormat, dia terlihat seperti kapten dari para penjaga. Tuan Rom hanya mengangguk dan meninggalkan senyuman sebagai tanda menghargainya.
Tuan Rom bertanya pada penjaganya itu. "Kami akan mengadakan rapat mendadak. Apa semua anggotaku ada di dalam?"
Penjaga itu menjawab, "Ya, Tuan. Seluruhnya sedang menunggu kehadiran anda."
"Kerja bagus—" Ucap Tuan Rom merasa senang, "—kau boleh istirahat. Bersiaplah untuk misi-misi ke depan."
"Siap, Tuan! Saya mohon pamit!"
Penjaga itu kemudian pergi meninggalkan tempatnya. Tuan Gen dan Tuan Rom segera memasuki sebuah pintu utama yang akan menembus sebuah ruang khusus rapat. Pintu bergagang emas itu di dorong oleh tangan seorang pelayan berbaju putih membuat seisi ruangan di dalamnya terlihat jelas. Dua orang sedang terduduk diam dengan puluhan lilin yang menyala di hadapan mereka. Entah apa maksudnya, tetapi dari raut yang ditampilkan mereka seolah sedang cemas akan suatu hal. Dua orang itu seketika berdiri hormat begitu Tuan Rom tertangkap dalam jangkauan pandangan mereka. "Kami telah menunggumu, Tuan Rom." Ucap salah satu dari mereka.
Seseorang berbicara sembari melihat lembaran kertas. "Tuan Rom, baru saja kita mendapat beberapa masalah. Surat-surat ini harus segera anda baca." Surat itu langsung diberikan kepada Tuan Rom. Tuan Rom menerimanya namun belum ingin membahasnya.
Semua pandangan mata mulai beralih kepada Tuan Gen. Mereka baru menyadari di belakang Tuan Rom ada seorang pria berambut biru dan bermata merah—Tuan Gen yang berparas seperti lelaki vampir. Tuan Rom menyadari kebingungan itu. "Aku mengundang dia—" Ucap Tuan Rom sembari menunjuk Tuan Gen, "—dia adalah penguasa sepertiku, kalian harus memanggilnya Tuan Gen. Dia akan bekerjasama di bawah satu pemerintahan api gakuin."
Seorang pria berambut hitam dan bermata tenang tersenyum kepada Tuan Gen. "Salam hormat dari saya, Tuan Gen. Nama saya Anggo." Pria itu membungkukkan badan tanda hormat. Sekilas dipandang oleh Tuan Gen, rasanya Anggo tidak lebih dari seorang pria licik. Dia memang terlihat ramah dengan ribuan kehangatan dari senyumannya, tetapi justru itu yang menjadi salah satu hal yang sangat mencurigakan—setidaknya Tuan Gen berpikir demikian.
Di sampingnya pria berambut putih. Wajahnya tampak tidak senang dengan keberadaan Tuan Gen. "Nama saya Ziyo." Mata merah itu seperti darah. Pandangannya seperti tak ingin membalas pandangan Tuan Gen. Sepertinya dialah pria yang paling loyal daripada yang lainnya. Pria seperti Ziyo terlihat seperti pria ceroboh namun tak pernah berbohong atas sekitarnya. Tapi, bagaimanapun, Pria bernama Ziyo ini tidak mengharapkan keberadaan Tuan Gen sehingga sangat memungkinkan dia akan melakukan suatu hal diluar nalar. Sungguh konyol bila benar terjadi.
Tuan Rom seperti kebingungan. "Ngomong-ngomong, Ziyo, kemana si Aio?" Tanyanya sembari melirik ke sana-kemari.
__ADS_1
Ziyo menjawab santai. "Dia—aku tidak tahu."
Aio adalah pria bertubuh sedang, bermata kuning, dan berambut coklat gelap—begitu penjelasan Tuan Rom. Baru kali ini Tuan Gen melihat seorang lelaki yang buruk dimatanya, seperti Tuan Rom, sangat membutuhkan keberadaan bawahannya.
Tiba-tiba dari sudut ruangan, pintu besar berwarna putih itu terbuka seolah didobrak. Seorang lelaki yang tadi ditanyakan keberadaannya oleh Tuan Rom seketika datang dengan raut lelah dibanjiri keringat. Napasnya sangat cepat seolah kehabisan oksigen. Dengan sedikit membungkukkan badan, dia melirik ke arah Tuan Rom, "Maaf Tuan Rom. Aku membawa kabar mencengangkan!"
Tuan Rom menghampirinya. "Aio? Dari mana saja kau?"
"Air Gakuinia—aku telah mengutus bawahanku untuk mengamati pergerakan para gadis itu. Rupanya mereka—sial!"
Seketika seorang lelaki berambut hitam dengan topeng putih di wajahnya datang. "Tenanglah Aio!" Dia terdengar sangat kesal dari nadanya. Dia kemudian membuka topeng itu sehingga menampilkan wajahnya yang amat masam. Matanya terlihat tipis dan mengeluarkan aura aneh. "—cobalah untuk duduk. Kita bicarakan dengan tenang. Bagaimana Tuan Rom?"
Tuan Rom menganggukkan kepala. "Ya, itu bagus. Sekalian kita bahas permasalahan dengan Tuan Gen."
"Tuan Gen?"
Tuan Gen mengiyakan. "Ya, memangnya kenapa?"
"Kalau begitu, kau tahu kan info tentang Air Gakuinia?"
Sayang sekali. Tuan Gen sama sekali belum mengutus seseorang untuk menjalankan misi apapun kepada bawahannya. Karena itu, tak ada sepatah katapun yang bisa diucapkan untuk menjawab pertanyaannya. Percuma bila berbohong, hal seperti itu hanyalah tanda tak mampu. Tuan Gen langsung saja menjawab jujur apa adanya dengan suara santai. "Aku belum tahu apapun. Belum ada satupun misi yang ku berikan." Namun, jawaban itu malah ditanggapi dengan kekesalan luar biasa. Lelaki bernama Aio itu mencengkram kerah pakaian Tuan Gen hingga mata Tuan Gen penuh dengan pandangan penindasan.
"Betapa tidak bergunanya kau! Kenapa orang sepertimu ditunjuk menjadi pimpinan!" Dia berteriak dengan rasa kesal. Namun, Tuan Gen hanya terdiam dengan tangan mengepal. Kecepatan napas Tuan Gen mulai memuncak tetapi dapat segera ditahan agar tidak terjadi perpecahan.
__ADS_1
Melihat kelakuan bawahannya itu, Tuan Rom seketika memukul Aio dengan sangat keras hingga terjatuh ke lantai. "Persetan kau! Kenapa kau malah memperburuk suasana! Bukankah ku bilang kita diskusikan bersama?!"
Tatapan Aio tak kunjung mereda dari aura buruk. Dia tetap memandang sinis keberadaan Tuan Gen. Merasa telah dipermalukan, dia memperlihatkan taring kekesalan kepada Tuan Gen kemudian lari pergi meninggalkan ruangan. Benar-benar seperti anak kecil, tubuhnya memang sudah tampak dewasa namun sikapnya begitu buruk seperti sampah. Bisanya hanya memperburuk keadaan hanya karena keegoisan tersendiri. Tuan Rom sudah pasti benci itu, tetapi katanya Aio adalah lelaki yang jenius. Meskipun dia bersikap berbeda dari yang lain, sedikit egois seperti anak kecil, dia selalu melakukan segalanya untuk mempermudah masalahku—setidaknya itu yang dijelaskan Tuan Rom. Perlu diakui, kali ini Tuan Rom tidak terlalu buruk, rupanya dia pun menyayangi dan sangat mengenali kelebihan dan kekurangan bawahannya—sikap yang sejatinya ada pada pemimpin yang baik. Tuan Rom langsung memerintahkan kepada Shin—lelaki yang awalnya memakai topeng dan telah menculik Tuan Gen dengan sopan—agar menemani Aio sekarang juga. "Dia pasti menyendiri di suatu tempat. Katakan padanya, aku tidak membencinya, hanya saja tolong pengertianlah padaku."
Shin, lelaki bermata tipis itu menundukkan badan tanda hormat. "Baik. Saya akan lakukan, Tuan Rom." Dia lalu pergi keluar dari ruangan meninggalkan empat orang yang masih berdiri dalam diam—Tuan Gen, Tuan Rom, Anggo, dan Ziyo.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
__ADS_1
Info tentang kepenulisan Arafura :
Twitter/instagram : @alaksinita